SOLOBALAPAN.COM - Solo Raya memang memiliki berbagai spot wisata yang unik dan berbeda, salah satunya Klaten yang didominasi oleh wisata air.
Salah satunya adalam Umbul Kemanten yang memiliki keindahan alam nan cantik juga mempesona.
Airnya yang jernih ditambah dengan pepohonan yang rindang membuatnya makin cantik dan sejuk.
Umbul Kemanten ini berada di Desa Sidowayah, Polanharjo, Klaten, menjadi salah satu destinasi wisata yang menawarkan aktivitas berenang di mata air.
Tapi siapa sangka, di balik airnya begitu jernih dan segar itu menyimpan dua cerita legenda yang dipercayai masyarakat setempat sampai saat ini.
Cerita legenda pertama terkait sepasang pengantin di desa setempat yang hilang saat hendak bertemu di umbul.
Hal itu pula yang menjadikan umbul dengan alamnya yang masih terjaga keasriannya itu diberi nama Kemanten.
Koordinator Lapangan Umbul Kemanten Alwan Nugroho menceritakan bahwa dahulunya ada sepasang pengantin.
Mereka dilarang untuk bertemu selama 40 hari sebelum digelarnya pernikahan atau biasa yang disebut tradisi pingitan.
Tetapi sepasang pengantin itu melanggar dengan tetap nekat bertemu di Umbul Kemanten.
“Ketika calon laki-laki berjalan di depan calon perempuan, saat melihat kebelakang tidak ketemu. Begitu juga calon pengantin perempuan hendak mencari calon laki-laki itu juga tidak bertemu. Lalu dicari oleh warga hilangnya sepasang pengantin di Umbul Kemanten,” ujar Alwan saat ditemui radarsolo.com beberapa waktu lalu.
Cerita legenda terkait hilangnya sepasang pengantin di Umbul Kemanten terus mengiringi perkembangan dari wisata air tersebut.
Terlebih lagi juga muncul cerita legenda lainnya di umbul tersebut. Terkait keberadaan sumpil buntung atau sejenis siput berukuran kecil yang berkembang di umbul tersebut.
“Biasa juga disebut keong dengan warnanya hitam. Untuk bentuknya biasanya di bagian ujungnya (bagian cangkangnya) itu lancip kan. Tetapi yang ada di Umbul Kemanten dan aliran sungai yang berdekatan dengan umbul untuk bentuknya tumpul,” ujar Alwan.
Tetapi saat Alwan bergeser ke lahan persawahan untuk mencari siput justru menemukan siput dengan cangkangnya yang tajam.
Hanya ada di Umbul Kemanten dan aliran dekat umbul saja yang ada siput dengan cangkang berbentuk tumpul.
Konon ceritanya, dahulunya Umbul Kemanten menjadi tempat pemandian para raja dan ratu Kerajaan Mataram.
Lalu ada salah satu anak putri raja yang sedang mandi di umbul dengan para dayang-dayangnya.
Kemudian putri raja itu secara tidak sengaja menginjak sumpil di umbul tersebut dan berdarah.
Kejadian itu lantas diceritakan kepada orangtuanya yang intinya sang putri raja itu menginjak sumpil di Umbul Kemanten.
Kemudian sang raja bersabda dengan mengutuk sumpil bahwa bersama seluruh keturunannya akan menjadi buntung.
“Nah sampai sekarang, sumpil yang berukuran kecil sekalipun di Umbul Kemanten itu buntung. Bukan kami yang memotong ujungnya lho. Tetapi konon ceritanya seperti itu dan masih bisa dibuktikan sampai saat ini,” ujar Alwan.
Ia mengungkapkan, dua legenda yang berkembang di Umbul Kemanten secara turun temurun terus diceritakan kepada generasi penerus di Desa Sidowayah.
Terlebih lagi dua cerita legenda itu yang justru menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke destinasi wisata air tersebut.
“Untuk umbulnya memiliki luas 200 meter persegi dengan kedalaman 150 cm-170 cm. Sedangkan pohon yang mengelilinginya itu pohon beringin. Itu menjadi ciri khas dari Umbul Kemanten,” ujar Alwan. (ren)
Editor : Nindia Aprilia