Pracima di Mangkunegaran: Simbol Kehalusan Budi dalam Setiap Sajian

SOLOBALAPAN.COM – Dalam tradisi istana Mangkunegaran, penyajian hidangan bukan sekadar memenuhi selera, melainkan menjadi simbol kehalusan budi dan penghormatan terhadap tamu.
Sejak masa para pendahulu, praktek unjukan di Mangkunegaran telah menjadi bagian penting dalam setiap jamuan resmi dan upacara kenegaraan.
Pracima, menekankan keselarasan antara rasa, estetika, dan nilai filosofi yang terkandung dalam setiap sajian.
Hidangan yang disajikan terkelompok menjadi beberapa jenis, seperti Unjukan, Unjukan Special, Kahwa, Selat, Dedhaharan Utama, Hidangan Penutup, dan Kudapan.
Menu dari unjukan dimulai dengan Teh Sineduhan, sajian teh pilihan yang disertai daun mint.
Penyajian teh ini menampilkan kesederhanaan sekaligus kesabaran dalam proses seduhan, mencerminkan ketelitian khas istana.
Teh ini bukan sekadar minuman, tetapi juga pengantar pembuka percakapan dan suasana hangat di meja jamuan.
Hidangan penyejuk berikutnya adalah Es Dawet Selasih. Kreasi ini menggabungkan bubur ketan hitam, bubur sum-sum, gula aren, dan santan kelapa dengan cermat.
Baca Juga: Prof. Koentjoro Poerbo Koesoemo: Sang Guru BJ Habibie yang Disemayamkan di Hastono Josoroto
Setiap sendok es dawet menghadirkan rasa manis dan lembut yang melambangkan harmoni antara bahan-bahan lokal dan estetika rasa klasik Jawa.
Dalam hidangan kudapan, salah satu menu yang menarik perhatian adalah Kroket Segara ala Pracimasana.



