Bukan Dikukus atau Direbus! Begini Rahasia Lemang Matang di Dalam Bambu

Adi Pras • Dipublikasikan Kamis, 29 Oktober 2026 | 17:56 WIB
Kuliner tradisional Lemang Bambu(instagram @infopromo.tarakan).
Kuliner tradisional Lemang Bambu. (IG @infopromo.tarakan).

SOLOBALAPAN.COM - Bagaimana jadinya jika beras ketan dimasak bukan menggunakan panci atau kukusan, melainkan dimasukkan ke dalam batang bambu lalu dibakar di dekat bara api?

Teknik memasak yang tidak biasa ini menjadi ciri khas lemang, kuliner tradisional Nusantara yang masih bertahan hingga sekarang.

Lemang merupakan makanan berbahan dasar beras ketan yang dicampur santan dan sedikit garam, kemudian dimasak di dalam bambu berlapis daun pisang.

Prosesnya membutuhkan ketelatenan karena bambu harus diposisikan dengan tepat, dipanggang perlahan, dan diputar secara berkala agar ketan matang merata.

Baca Juga: Serupa tapi Tak Sama, Ini Bedanya Carang Gesing dan Nagasari Khas Jawa!

Keunikan inilah yang membuat lemang berbeda dari olahan ketan lainnya. Bukan hanya bahan dan rasanya yang khas, cara memasaknya pun memperlihatkan pengetahuan tradisional masyarakat dalam memanfaatkan bahan-bahan alam.

Bahan untuk membuat lemang terbilang sederhana. Umumnya, bahan yang dibutuhkan adalah beras ketan, santan kelapa, garam, daun pisang, dan batang bambu yang sesuai.

Beras ketan terlebih dahulu dicuci, lalu direndam selama beberapa jam agar lebih siap dimasak. Sementara itu, bambu dipotong sesuai kebutuhan dan dibersihkan bagian dalamnya.

Pemilihan bambu menjadi salah satu tahap penting karena bambu berfungsi sebagai wadah sekaligus membantu membentuk lemang.

Baca Juga: Kangen Masa Kecil! 5 Jajanan Pasar Khas Solo yang Mulai Langka tapi Bikin Nagih

Setelah itu, bagian dalam bambu dilapisi daun pisang. Lapisan ini membantu mencegah ketan menempel langsung pada dinding bambu sekaligus memberikan aroma khas selama proses pemasakan.

Proses Memasak yang Rumit

Salah satu tahap paling menarik adalah ketika beras ketan dan santan dimasukkan ke dalam bambu. Beras ketan yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam rongga bambu, kemudian diberi santan dan garam sesuai resep.

Bambu tidak diisi hingga benar-benar penuh karena beras ketan akan mengembang selama dimasak. Setelah semua bahan siap, bambu diletakkan miring di dekat bara api.

Baca Juga: Mengapa Nama Makanan Indonesia Berasal dari Singkatan? Ternyata Ada Cerita Kreatif di Baliknya

Di sinilah ketelatenan pembuat lemang benar-benar diuji. Api harus dijaga agar tidak terlalu besar, sementara posisi bambu perlu diubah secara berkala supaya panas menyebar lebih merata.

Jika satu sisi terlalu lama menghadap api, bagian luar bisa menghitam sebelum bagian dalamnya matang sempurna.

Proses pemasakan dapat berlangsung selama beberapa jam, bergantung pada ukuran bambu, jumlah isian, intensitas api, dan teknik yang digunakan. Pada sejumlah metode tradisional, pemanggangan membutuhkan sekitar tiga hingga lima jam.

Karena itu, membuat lemang bukan sekadar memasukkan bahan ke dalam bambu lalu menunggu matang. Pembuatnya harus terus mengawasi api dan memutar bambu hingga ketan matang dengan baik.

Penggunaan bambu bukan sekadar cara unik untuk membentuk lemang. Bambu berfungsi sebagai wadah pemasakan yang mampu menahan bahan selama proses pemanasan, sedangkan daun pisang menjadi lapisan antara ketan dan dinding bambu.

Baca Juga: Dangke, Keju Tradisional Indonesia dari Enrekang yang Dibuat Menggunakan Getah Pepaya

Ketika dipanaskan, perpaduan beras ketan, santan, daun pisang, dan bambu menghasilkan aroma yang khas. Santan memberikan cita rasa gurih, sedangkan beras ketan menghasilkan tekstur yang padat, lengket, dan kenyal.

Teknik ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat tradisional memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di sekitarnya untuk mengolah makanan, jauh sebelum peralatan memasak modern digunakan secara luas.

Bukan Sekadar Makanan, Lemang Juga Mengajarkan Kebersamaan

Di sejumlah daerah, pembuatan lemang dilakukan bersama-sama oleh anggota keluarga atau masyarakat.

Ada yang bertugas menyiapkan bambu, membersihkan daun pisang, mengolah santan, menjaga bara api, hingga membagikan lemang setelah matang.

Baca Juga: Jenang Upih dan Tempe Koro, Perpaduan Kuliner Tradisional yang Unik dan Mulai Langka

Kegiatan ini dikenal antara lain sebagai tradisi malamang dalam masyarakat Minangkabau. Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa proses memasak lemang dapat menjadi ruang kebersamaan dan pewarisan pengetahuan antargenerasi.

Kini, ketika banyak makanan dapat dibuat dengan peralatan modern, lemang tetap menarik karena mempertahankan teknik memasak yang khas.

Prosesnya memang membutuhkan waktu dan perhatian, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya.(carrieolis ratu lathiifu)

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
carrieolis ratu daun pisang lemang bambu Olahan Ketan Melayu