SOLOBALAPAN.COM- Wonogiri, Jawa Tengah, tidak hanya dikenal dengan nasi tiwul dan olahan kacangnya. Kabupaten ini juga memiliki kuliner tradisional yang unik, baik dari segi bahan, proses pembuatan, maupun tampilannya. Namanya cabuk wijen, makanan berwarna hitam pekat yang sekilas menyerupai pepes, tetapi memiliki cita rasa gurih, pedas, dan sedikit manis.
Keunikan cabuk wijen terletak pada bahan utamanya, yaitu ampas biji wijen setelah minyaknya diperas. Bahan yang mungkin dianggap sebagai sisa pengolahan tersebut justru diolah kembali menjadi makanan bercita rasa khas. Tradisi ini memperlihatkan kreativitas masyarakat Wonogiri dalam memanfaatkan bahan pangan agar tidak terbuang sia-sia.
Berbeda dengan sambal pada umumnya yang didominasi cabai dan berwarna merah atau hijau, cabuk wijen tampil dengan warna hitam yang menjadi ciri khasnya.
Baca Juga: Jenang Upih dan Tempe Koro, Perpaduan Kuliner Tradisional yang Unik dan Mulai Langka
Proses pembuatannya dimulai dari biji wijen yang digiling hingga halus, kemudian dikukus dan diperas untuk memisahkan minyaknya. Ampas yang tersisa digunakan sebagai bahan utama cabuk.
Ampas wijen tersebut lalu dicampur dengan merang padi yang telah dibakar. Merang merupakan bagian batang padi kering yang tersisa setelah bulirnya dipanen. Penggunaan merang memberikan warna gelap yang khas pada cabuk.
Adonan kemudian diracik bersama bumbu seperti bawang putih, cabai, garam, gula jawa, kelapa sangrai, dan daun kemangi. Komposisi bahan dapat berbeda menurut resep masing-masing pembuat.
Baca Juga: Kuliner Murah di Solo, Bubur Kacang Hijau Cuma Rp3.000 dan Donat Jadul Rp700
Perpaduan bahan tersebut menghasilkan makanan dengan rasa gurih dari wijen dan kelapa, pedas dari cabai, serta sedikit manis dari gula jawa. Daun kemangi menambahkan aroma segar yang membedakannya dari sambal lainnya.
Dibungkus Daun Pisang, Kemudian Dipanggang
Keunikan cabuk wijen tidak berhenti pada warnanya. Setelah bumbu tercampur rata dan diolah hingga mencapai tekstur yang sesuai, adonan dibentuk menjadi bagian kecil, kemudian dibungkus menggunakan daun pisang.
Baca Juga: Bukan Telur Ikan, Ini Tebu Telur! Sayuran Unik Mirip Kaviar yang Jadi Kekayaan Kuliner Nusantara
Bungkusan tersebut selanjutnya dikukus atau dimasak sesuai tahapan resep, lalu dipanggang di atas bara api. Proses pemanggangan membantu mengeluarkan aroma khas dari daun pisang dan bumbu-bumbunya.
Bentuk akhirnya menyerupai pepes berwarna hitam. Meski tampilannya sederhana, cabuk wijen memiliki karakter rasa yang cukup kompleks. Aroma panggang, gurih wijen, pedas cabai, dan wangi kemangi berpadu dalam satu sajian.
Proses pengolahannya juga membutuhkan ketelatenan. Mulai dari menyiapkan wijen, memisahkan minyak, meracik bumbu, hingga membungkus dan memanggang adonan, setiap tahap berperan dalam membentuk cita rasa khas cabuk.
Cabuk wijen biasanya dinikmati sebagai lauk atau pendamping nasi. Rasanya yang gurih dan pedas cocok dipadukan dengan nasi putih hangat, nasi tiwul, maupun lauk sederhana lainnya.
Baca Juga: Tempe Alakatak, Kuliner Legendaris Sukoharjo dengan Perpaduan Tempe Benguk dan Mi Kenyal
Bagi masyarakat yang terbiasa menyantap makanan tradisional Jawa, cabuk wijen menawarkan sensasi berbeda dari sambal biasa. Teksturnya cenderung padat dan lembut, bukan cair seperti sambal pada umumnya. Karena itu, cabuk dapat dimakan bersama nasi dalam porsi kecil sebagai penambah rasa.
Makanan ini juga memiliki aroma yang khas berkat perpaduan wijen, bumbu rempah, dan daun pisang yang dipanggang. Tidak mengherankan jika cabuk wijen menjadi salah satu kuliner lokal yang dicari oleh warga maupun orang yang ingin membawa oleh-oleh khas Wonogiri.
Baca Juga: Sate Buntel, Kuliner Khas Solo dengan Tampilan Unik yang Menggugah Selera
Kuliner Lawas yang Menyimpan Kearifan Lokal
Di balik bentuknya yang sederhana, cabuk wijen menyimpan pelajaran tentang pemanfaatan bahan pangan. Ampas wijen yang tersisa setelah minyaknya diambil tidak langsung dibuang, tetapi diolah kembali menjadi makanan.
Kebiasaan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat tradisional memanfaatkan bahan yang tersedia secara maksimal. Dengan tambahan bumbu dan teknik pengolahan yang tepat, bahan sisa dapat berubah menjadi makanan dengan nilai guna dan nilai jual.
Baca Juga: Asal Usul Sate Kere, Kuliner Khas Solo dengan Nama Unik yang Lahir dari Kreativitas Rakyat Kecil
Cabuk wijen juga menjadi bagian dari pengetahuan kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di sejumlah wilayah Wonogiri, pembuatannya masih dipertahankan menggunakan cara tradisional, meskipun keberadaan makanan ini belum sepopuler kuliner lain.
Salah satu tantangan cabuk wijen adalah proses pembuatannya yang cukup panjang. Pengolahan wijen, penyiapan bumbu, serta tahapan pembungkusan dan pemanggangan memerlukan waktu dan ketelatenan. Ketika pilihan makanan modern semakin beragam, kuliner seperti ini menghadapi tantangan untuk tetap dikenal generasi muda.
Padahal, cabuk wijen memiliki potensi sebagai identitas kuliner daerah sekaligus produk oleh-oleh. Pengemasan yang lebih praktis, promosi melalui media sosial, dan pengenalan sejarahnya dapat membantu memperluas jangkauan konsumen tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya.
Cabuk wijen membuktikan bahwa keistimewaan kuliner tidak selalu ditentukan oleh tampilan yang menarik atau bahan yang mahal. Dari ampas wijen, merang padi, dan racikan bumbu sederhana, masyarakat Wonogiri menghasilkan makanan dengan warna, aroma, dan rasa yang khas.
Baca Juga: Namanya Bikin Salah Fokus! Geblek, Jajanan Jadul Kulon Progo yang Kenyal dan Gurih
Keunikan proses pembuatannya menjadikan cabuk wijen lebih dari sekadar sambal. Makanan ini merupakan gambaran kreativitas, kearifan lokal, dan tradisi pangan yang layak diperkenalkan kepada generasi berikutnya. (Carrieolis ratu Lathiifu)
Editor : Kabun Triyatno