Homogenisasi Rasa, Ketika Manis dan Gurih Jadi Standar Kenikmatan

tim solobalapan • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:53 WIB
Beragam pangan lokal Indonesia memiliki cita rasa khas yang mencerminkan kekayaan kuliner Nusantara.
Beragam pangan lokal Indonesia memiliki cita rasa khas yang mencerminkan kekayaan kuliner Nusantara.

SOLOBALAPAN.COM - Pernah merasa makanan kurang enak karena rasanya tidak cukup manis atau gurih?

Misalnya, kamu terbiasa minum kopi susu, boba, atau matcha yang manis. Saat mencoba makanan dengan rasa yang lebih alami, seperti sayuran atau makanan tradisional, rasanya justru terasa kurang menarik.

Baca Juga: Suka Merokok Setelah Makan? Hati-Hati, Sistem Pencernaan Anda Jadi Taruhannya!"

Ternyata, kebiasaan makan bisa memengaruhi cara kita merasakan makanan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengalaman makan dapat memengaruhi persepsi seseorang terhadap rasa.

Hal ini dikenal sebagai diet-induced taste plasticity, yaitu perubahan persepsi rasa yang berkaitan dengan pola makan. Namun, bukan berarti orang yang terbiasa makan makanan manis dan gurih pasti akan menganggap makanan alami terasa hambar.

Perubahan kebiasaan makan juga tidak lepas dari perkembangan industri pangan. Sekarang, makanan kemasan, minuman manis, dan makanan siap saji semakin mudah ditemukan. Selain praktis, produk-produk tersebut biasanya memiliki rasa yang konsisten sehingga mudah dikenali dan disukai konsumen.

Baca Juga: Penting bagi Wanita Muda: Kenali Gejala Menopause Dini dan Cara Menjaga Kualitas Hidup

Di sisi lain, makanan tradisional punya rasa yang lebih beragam. Ada rasa pahit dari sayuran tertentu, sepat dari bahan pangan lokal, asam dari buah-buahan, hingga rasa gurih yang muncul dari proses fermentasi. Belum lagi berbagai rempah yang memberikan aroma dan cita rasa khas pada masakan Nusantara.

Ketika kita lebih sering mengonsumsi makanan dengan rasa yang serupa, kesempatan untuk mengenal rasa lain bisa menjadi lebih sedikit. Kondisi ini bisa dikaitkan dengan homogenisasi rasa, yaitu keadaan ketika selera dan pilihan makanan cenderung semakin seragam.

Meski begitu, bukan berarti semua orang memiliki selera yang sama atau makanan tradisional mulai ditinggalkan.

Baca Juga: Apa Itu Shampoo Ginger? Tanaman Jahe Unik yang Cairannya Digunakan untuk Merawat Rambut

Padahal, Indonesia punya banyak bahan pangan lokal yang diolah menjadi makanan khas di setiap daerah. Penelitian tentang tradisi kuliner masyarakat Gunungkidul, misalnya, mencatat berbagai jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan.

Penelitian tentang sayuran tradisional masyarakat Sunda di Jawa Barat juga menunjukkan beragamnya tumbuhan yang digunakan untuk konsumsi sehari-hari.

Keragaman ini menunjukkan bahwa pangan lokal bukan hanya soal rasa. Ada pengetahuan tentang cara memanfaatkan bahan pangan, mengolah makanan, hingga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Merangkai Kisah Penyintas ODGJ dalam Puisi, Buku "Soto Otak" Ajak Pembaca Lihat Sisi Lain Kehidupan

Mengenal pangan lokal bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mencoba sayuran tradisional, buah lokal, atau makanan hasil fermentasi. Dengan mencoba berbagai jenis makanan, kita bisa mengenal cita rasa yang mungkin belum terbiasa di lidah.

Menjaga pangan lokal juga berarti ikut mempertahankan keberagaman rasa dan tradisi kuliner Indonesia agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
makanan manis hanifatuz zahra homogenisasi kuliner nusantara cita rasa