Let It Be: Memoar Sastra Paula Gomes tentang Kenangan, Perang, dan Kerinduan pada Indonesia


SOLOBALAPAN.COM - Melalui kisah masa kecil di Hindia Belanda dan pengalaman meninggalkan tanah kelahiran, Paula Gomes menghadirkan cerita tentang identitas, kehilangan, serta upaya berdamai dengan masa lalu.
Sebuah tempat dapat ditinggalkan, tetapi kenangan tentangnya tidak selalu ikut pergi. Perasaan itulah yang menghidupkan Let It Be, karya sastra Paula Gomes yang membawa pembaca menyusuri ingatan tentang Indonesia pada masa kolonial, pendudukan Jepang, hingga pergolakan menjelang kemerdekaan.
Karya ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Belanda pada 1975 dengan judul Sudah, laat maar. Pada 1993, buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Margaret M. Alibasah dengan judul Let It Be, serta diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai "Sudah, Biar Saja..." oleh Chalid Arifin.
Baca Juga: Ballet Flat Shoes Kembali Viral, Sepatu Klasik yang Bikin Gaya Simpel Terlihat Lebih Manis
Meski kerap dibicarakan sebagai memoar atau prosa autobiografis, karya ini lebih tepat dipahami sebagai karya sastra dengan unsur autobiografis yang kuat.
Melalui tokoh dan pengalaman yang dekat dengan kehidupan pengarang, Gomes merangkai ingatan pribadi menjadi kisah tentang sejarah, identitas, dan hubungan manusia dengan tanah kelahirannya.
Kenangan Masa Kecil di Tengah Perubahan Sejarah
Paula Gomes lahir di Batavia, Hindia Belanda, pada 1932. Ia berasal dari keluarga berdarah Belanda dan Indo. Pengalaman hidupnya kemudian menjadi salah satu latar penting bagi karya-karyanya yang mengangkat hubungan antara Indonesia dan Belanda.
Dalam Let It Be, pembaca diajak mengenal kehidupan seorang anak perempuan Indo yang tumbuh di Indonesia sebelum perang mengubah dunianya.
Masa kecil digambarkan melalui hubungan dengan lingkungan sekitar, termasuk kedekatan dengan para pembantu rumah tangga pribumi dan kebiasaan sosial yang membentuk kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Viral! Selebgram Irenna Krystin Diserbu Netizen Usai Sindir Aksi Greenpeace Soal Biaya Hidup
Namun, suasana yang semula akrab perlahan berubah ketika Jepang menduduki Indonesia. Perang membawa ketakutan dan penderitaan, termasuk bagi keluarga-keluarga Eropa dan Indo-Eropa yang kemudian mengalami penahanan serta kehilangan tempat tinggal.
Perubahan tersebut menjadi bagian penting dari cerita. Indonesia yang sebelumnya dikenal sebagai rumah berubah menjadi tempat yang menyimpan pengalaman traumatis.



