SOLOBALAPAN.COM - Sayur lodeh bukan sekadar masakan rumahan dengan kuah santan dan aneka sayuran. Dalam tradisi masyarakat Jawa, hidangan ini juga dipercaya menjadi bagian dari ritual tolak bala untuk memohon perlindungan dari bencana atau wabah.
Kepercayaan tersebut tak lepas dari filosofi bahan-bahan yang digunakan. Tujuh bahan dalam sayur lodeh dipercaya memiliki makna tersendiri yang berkaitan dengan kehidupan dan cara menghadapi masa sulit.
Baca Juga: Bukan Sekadar Wakil Indonesia di Oscar 2027, Ini Isu Sosial yang Diangkat Empat Musim Pertiwi
Cerita tentang sayur lodeh sebagai penolak bala salah satunya berkembang di Yogyakarta pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VIII. Ketika wabah melanda pada 1931, beredar kisah bahwa masyarakat diminta memasak sayur lodeh dan berdiam diri di rumah selama 49 hari.
Kisah tersebut terus diwariskan, meski belum ada bukti yang memastikan bahwa sayur lodeh menjadi penyebab berakhirnya wabah. Tradisi ini lebih menggambarkan kepercayaan dan harapan masyarakat ketika menghadapi keadaan sulit.
Baca Juga: Timur Tengah Memanas, PSSI Buka Suara Cari Lawan Alternatif Timnas Indonesia di FIFA Matchday!
Asal-usul sayur lodeh sendiri memiliki beberapa versi. Ada cerita yang menghubungkannya dengan letusan Gunung Merapi pada 1006. Perkembangan hidangan ini juga dikaitkan dengan masuknya bahan pangan baru ke Nusantara pada abad ke-16 hingga ke-17. Namun, hubungan antara peristiwa tersebut dan sejarah sayur lodeh belum bisa dipastikan.
Selain ceritanya sebagai penolak bala, sayur lodeh juga memiliki filosofi yang dikaitkan dengan tujuh bahan di dalamnya. Setiap bahan dipercaya membawa pesan tentang cara menjalani kehidupan, terutama ketika menghadapi masa sulit.
Makna Filosofi Bahan Sayur Lodeh:
Baca Juga: Kreatif dan Unik! Dai MUI Sosialisasikan Pengelolaan Sampah Lewat Wayang Sak Semen di Solo
1. Kluwih
Kluwih dimaknai sebagai pengingat agar kita lebih memperhatikan keluarga. Saat bencana atau wabah terjadi, menjaga orang-orang terdekat dan saling mengingatkan menjadi hal yang penting.
2. Kacang panjang
Kacang panjang atau cang gleyor dikaitkan dengan pesan agar tidak bepergian sembarangan. Makna ini mengingatkan kita untuk lebih berhati-hati ketika keadaan sedang tidak aman.
Baca Juga: Geger OTT KPK di BNPB! Adik Kandung dan Orang Kepercayaan Suharyanto Ikut Diciduk
3. Terong
Terong dimaknai sebagai ajakan untuk rajin beribadah. Mengingat Tuhan bukan hanya dilakukan ketika sedang menghadapi masalah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
4. Kulit melinjo
Kulit melinjo menjadi pengingat agar kita tidak menilai sesuatu hanya dari luarnya. Setiap persoalan perlu dipahami lebih jauh, termasuk melakukan introspeksi diri.
Baca Juga: Dari Kehidupan di Kampung Durian Runtuh, Ini 5 Cara Memanfaatkan Bahan Makanan agar Tidak Terbuang
5. Waluh
Waluh atau labu dikaitkan dengan sikap bersyukur dan tidak mudah mengeluh. Meski sedang menghadapi kesulitan, kita tetap perlu berusaha mencari jalan keluar.
6. Godong so
Godong so atau daun melinjo dimaknai sebagai pengingat untuk menjaga kebersamaan dan belajar dari orang lain. Menghadapi masalah tidak selalu bisa dilakukan sendirian karena dukungan orang sekitar juga dibutuhkan.
Baca Juga: Mengenal Buah Tin, Si Buah Surga yang Kaya Manfaat Kesehatan dan Penuh Makna
7. Tempe
Tempe dikaitkan dengan pesan untuk bersabar, terus berusaha, dan memohon pertolongan Tuhan. Ketika menghadapi keadaan sulit, kita tetap perlu berikhtiar sambil menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan sendiri.
Makna tujuh bahan tersebut berasal dari penafsiran tradisional yang bisa berbeda dalam setiap versi cerita. Meski begitu, pesan yang dibawa cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari menjaga keluarga hingga belajar bersyukur dan saling membantu.
Sayur lodeh dalam tradisi tolak bala menunjukkan bahwa makanan tidak selalu hanya soal rasa dan kenyang. Di balik hidangan sederhana ini, ada nasihat yang diwariskan melalui kebiasaan masyarakat.
Kepercayaan terhadap sayur lodeh tentu tidak menggantikan langkah nyata dalam menghadapi bencana atau wabah. Namun, nilai kebersamaan dan kepedulian yang terkandung di dalam tradisi ini masih bisa diterapkan hingga sekarang. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : Berbagai Sumber, solobalapan.com