Bukan Ubi Ungu Biasa, Kenapa Ube Makin Populer di Dunia Kuliner?

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 09:44 WIB
Ube atau purple yam menjadi bahan berbagai makanan penutup, mulai dari es krim hingga kue. Popularitasnya kini semakin meluas dari kuliner tradisional Filipina ke berbagai negara. (Pinterest)
Ube atau purple yam menjadi bahan berbagai makanan penutup, mulai dari es krim hingga kue. Popularitasnya kini semakin meluas dari kuliner tradisional Filipina ke berbagai negara. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM -Kalau melihat dessert berwarna ungu cerah, kemungkinan kamu akan langsung teringat pada ubi ungu. Namun, tidak semua makanan berwarna ungu tersebut menggunakan bahan yang sama.

Salah satunya adalah ube, bahan pangan asal Filipina yang dalam beberapa tahun terakhir semakin sering muncul dalam berbagai kreasi makanan dan minuman.

Baca Juga: Rumah Pohon Winnie the Pooh Bukan Sekadar Tempat Tinggal, Ini Fakta Menarik tentang Pohon Berongga

Ube sebenarnya merupakan jenis umbi yang dikenal dengan nama ilmiah Dioscorea alata. Di Filipina, tanaman ini sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan diolah menjadi berbagai makanan tradisional.

Warnanya yang khas membuat ube mudah dikenali, tetapi daya tariknya ternyata tidak berhenti pada penampilan.

Department of Agriculture Filipina menyebut ube sebagai purple yam yang secara tradisional menjadi bagian dari makanan penutup dan kuliner khas negara tersebut.

Kini, bahan ini mulai mendapatkan perhatian di berbagai negara dan digunakan dalam produk seperti es krim, kue, donat, hingga minuman.

Baca Juga: Dianggap Bunga Kematian di Eropa, Krisan Justru Punya Makna Berbeda di Asia

Perubahan tersebut membuat ube tidak lagi hanya dikenal sebagai bahan makanan rumahan. Ube mulai masuk ke industri kuliner modern dan menjadi salah satu rasa yang menarik perhatian konsumen.

Salah satu alasan ube mudah dikenali adalah warnanya. Bagian dalam umbi dapat memiliki warna ungu yang cukup kuat, meski tidak semua varietas ube mempunyai warna yang sama.

Department of Agriculture Filipina mencatat bahwa terdapat beragam varietas ube dengan karakteristik berbeda, mulai dari warna daging, rasa, aroma hingga hasil panen.

Keberagaman tersebut juga membuat ube menarik untuk dikembangkan. Peneliti dari University of the Philippines Los Baños bahkan telah mempelajari berbagai koleksi ube dari Filipina untuk mencari varietas yang memiliki karakteristik unggul, seperti hasil panen tinggi, warna ungu lebih kuat, rasa, aroma dan kandungan pigmen alami.

Salah satu varietas yang dikenal di Filipina adalah Kinampay. Varietas ini memiliki aroma dan rasa yang khas sehingga sering dianggap sebagai salah satu ube berkualitas.

Baca Juga: Persis Solo Tumbang di Manahan! Ricky Nelson Soroti Pemain Kurang Fight dan Siap Bertanggung Jawab

Karena karakteristiknya tersebut, ube tidak hanya dimanfaatkan untuk memberikan warna pada makanan, tetapi juga untuk menghadirkan rasa dan aroma tertentu.

Dalam kuliner Filipina, ube juga sering diolah menjadi ube halaya. Olahan ini berupa pasta atau selai kental yang dibuat dari ubi dan kemudian digunakan sebagai bahan berbagai makanan penutup. Ube halaya dapat menjadi isian, campuran atau topping untuk makanan lain.

Dari sinilah ube kemudian lebih mudah beradaptasi dengan tren dessert modern. Warnanya yang mencolok membuatnya menarik secara visual, sedangkan bentuk olahannya memungkinkan ube digunakan dalam banyak jenis makanan.

Tidak mengherankan jika kemudian muncul es krim ube, cake ube, cookies, pastry, minuman hingga berbagai dessert yang memadukan rasa ube dengan bahan lain.

Popularitas tersebut bahkan mulai memberikan dampak terhadap industri pertanian Filipina. Pada 2026, Department of Agriculture Filipina beberapa kali menyoroti meningkatnya permintaan terhadap ube.

Pemerintah setempat sedang mendorong pengembangan industri ube agar produksi dapat mengikuti pertumbuhan permintaan dari pasar domestik maupun internasional.

Pada Juni 2026, pemerintah Filipina juga mendistribusikan lebih dari 60.000 bahan tanam ube kepada petani di Leyte dan Bohol. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan produksi sekaligus membantu meningkatkan pendapatan petani.

Namun, meningkatnya popularitas ube ternyata juga menghadirkan tantangan. Pada September 2026, Department of Agriculture Filipina mengumumkan penghentian sementara ekspor ube segar untuk menjaga ketersediaan bahan tanam di dalam negeri. Pemerintah menilai pasokan bahan tanam masih perlu diperkuat agar produksi dapat berkembang.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tren ube bukan hanya persoalan makanan yang sedang populer di media sosial. Di balik dessert berwarna ungu yang terlihat menarik, ada rantai produksi yang melibatkan petani, peneliti, pengolah makanan hingga pelaku perdagangan.

Ube juga memperlihatkan bagaimana bahan pangan tradisional dapat menemukan kehidupan baru ketika masuk ke industri kuliner modern.

Bahan yang sebelumnya identik dengan makanan khas Filipina kini dapat ditemukan dalam berbagai bentuk makanan yang lebih familiar bagi konsumen dari negara lain.

Jadi, ketika melihat es krim, kue atau minuman berwarna ungu dengan label ube, bahan tersebut sebenarnya memiliki cerita yang cukup panjang. Ube bukan sekadar “ubi ungu” yang digunakan untuk mempercantik makanan, melainkan bagian dari kuliner Filipina yang kini sedang berusaha mempertahankan identitas sekaligus memenuhi permintaan pasar dunia.

Popularitasnya mungkin bermula dari warna yang menarik perhatian. Namun, perjalanan ube menunjukkan bahwa di balik satu rasa yang sedang tren, terdapat budaya, pertanian dan masyarakat yang ikut membentuknya hingga bisa dikenal lebih luas. (lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
ube ubi purple yam