SOLOBALAPAN.COM - Dulu, kalau membawa bekal ke kampus atau kantor, mungkin yang terpikir adalah roti, donat, atau makanan ringan. Sekarang, makanan yang kelihatannya sederhana seperti ubi kukus, singkong, jagung, talas, sampai pisang rebus mulai punya tempat lagi.
Makanan yang dulu identik dengan dapur rumah dan makanan orang kampung itu perlahan punya penggemar baru. Ubi kukus misalnya, kini tidak selalu dimakan karena tidak ada pilihan lain. Sebagian orang justru sengaja memilihnya untuk sarapan atau sekadar camilan.
Yang berubah sebenarnya bukan makanannya, tetapi cara orang memandangnya. Dulu, nasi sering dianggap lebih utama dan lebih bergengsi dibandingkan singkong atau ubi. Sekarang, sebagian anak muda justru mulai mencari makanan berbahan umbi karena dianggap lebih sesuai dengan pola makan yang ingin mereka jalani.
Perubahan ini juga tidak lepas dari semakin banyaknya orang yang mulai memperhatikan makanan sehari-hari. Mengurangi makanan ultra-proses, memperbanyak serat, dan mencoba sumber karbohidrat selain nasi mulai menjadi pertimbangan ketika memilih makanan.
Indonesia sendiri sebenarnya punya banyak pilihan pangan lokal. Singkong, ubi jalar, talas, jagung, sagu, sukun, hingga berbagai jenis umbi sudah lama dikonsumsi masyarakat di berbagai daerah.
Baca Juga: Masih Ingat Jajanan Ini? 8 Kue Jadul yang Dulu Selalu Ada Saat Lebaran
Badan Pangan Nasional juga terus mendorong diversifikasi pangan supaya masyarakat tidak hanya bergantung pada beras. Jadi, makanan seperti ubi dan singkong sebenarnya bukan pilihan baru. Bahan tersebut sudah ada sejak lama, hanya saja sekarang kembali dilihat dengan cara yang berbeda.
Ubi jalar juga memiliki kandungan gizi seperti karbohidrat, serat, serta sejumlah vitamin dan senyawa antioksidan, tergantung pada jenisnya. Hal ini membuat ubi bisa menjadi salah satu pilihan makanan yang cukup menarik ketika orang mulai mencari sumber karbohidrat selain nasi.
Cara menikmatinya pun ikut berubah. Kalau dulu ubi kukus lebih sering dibuat sendiri di rumah, sekarang makanan seperti ini bisa ditemukan dalam kemasan yang lebih praktis. Ada yang dijual sebagai sarapan, camilan, sampai dipadukan dengan susu, madu, atau yoghurt.
Baca Juga: Saat Cuaca Tak Menentu, Kenapa Pir Justru Dibuat Sup Hangat?
Penampilannya pun dibuat lebih rapi agar mudah dibawa dan disantap. Meski begitu, bahan yang digunakan sebenarnya tetap sederhana. Ubi tetap ubi, singkong tetap singkong. Tidak banyak yang berubah dari makanannya, hanya cara menyajikannya yang mengikuti kebiasaan sekarang.
Perubahan ini juga membuka peluang bagi usaha yang menjual makanan berbahan umbi. Makanan yang dulu dianggap sederhana bisa dikembangkan menjadi menu yang lebih praktis tanpa harus kehilangan karakter aslinya.
Ada hal yang cukup menarik dari perubahan tersebut. Dulu, makan nasi setiap hari sering dianggap sebagai tanda sudah berkecukupan. Sekarang, ada anak muda yang justru memilih ubi atau singkong meskipun sebenarnya bisa makan nasi.
Baca Juga: Bukan Pewarna Buatan, Warna Ungu Minuman Tradisional Peru Ini Berasal dari Jagung
Bukan karena kekurangan, tetapi memang karena pilihan.
Makanan lokal yang dulu dianggap biasa kini mulai dilihat kembali. Ubi tidak tiba-tiba berubah menjadi makanan modern. Kita saja yang mulai melihat makanan lama dengan cara yang berbeda.
Mungkin, makanan masa depan Indonesia tidak selalu harus sesuatu yang baru. Bisa jadi, jawabannya justru ada pada bahan pangan yang sejak dulu sudah tumbuh di sekitar kita.(Hanifatuz Zahra)
Sumber : Berbagai Sumber