SOLOBALAPAN.COM - Sekilas, kefir mungkin terlihat tidak jauh berbeda dari susu atau yogurt cair. Namun, begitu diminum, rasanya bisa membuat orang yang baru mencobanya sedikit terkejut. Ada rasa asam yang cukup kuat, sensasi segar, bahkan terkadang sedikit berkarbonasi.
Meski rasanya tidak biasa, minuman hasil fermentasi ini justru menarik perhatian karena mengandung beragam mikroorganisme hidup. Kefir bahkan telah lama dikonsumsi sebagai bagian dari makanan tradisional di kawasan Kaukasus dan Eropa Timur.
Lantas, sebenarnya apa yang membuat kefir berbeda dari minuman susu biasa?
Kefir dibuat dengan cara memfermentasi susu menggunakan kefir grains atau butiran kefir. Bentuknya memang menyerupai butiran kecil, tetapi di dalamnya terdapat komunitas mikroorganisme yang terdiri dari bakteri asam laktat, bakteri asam asetat dan ragi.
Mikroorganisme tersebut bekerja selama proses fermentasi. Mereka mengubah sebagian komponen dalam susu sehingga menghasilkan karakteristik kefir yang khas, termasuk rasa asam dan tekstur yang lebih encer dibandingkan yogurt.
Komposisi mikroorganisme dalam kefir juga cukup kompleks. Karena itulah, minuman ini tidak sekadar menarik dari sisi rasa, tetapi juga menjadi objek penelitian mengenai hubungan makanan fermentasi dengan kesehatan manusia.
Salah satu hal yang paling sering dibicarakan adalah kaitannya dengan sistem pencernaan. Sejumlah penelitian pada manusia menemukan bahwa konsumsi kefir berpotensi memengaruhi komposisi mikrobiota usus serta membantu meredakan beberapa keluhan pencernaan.
Baca Juga: Hari Jantung Sedunia, Ini 7 Cara Merawat Jantung agar Tetap Sehat
Tinjauan terhadap 28 penelitian klinis pada manusia yang diterbitkan pada 2026 menemukan adanya potensi manfaat kefir terhadap kesehatan saluran cerna, mikrobiota usus, sejumlah parameter metabolik, penanda peradangan dan fungsi kekebalan tubuh.
Namun, bukan berarti kefir otomatis menjadi minuman yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
Para peneliti juga menekankan bahwa hasil penelitian masih memiliki keterbatasan. Jenis kefir, komposisi mikroorganisme, jumlah yang dikonsumsi, lama konsumsi dan karakteristik peserta penelitian berbeda-beda. Karena itu, diperlukan penelitian manusia yang lebih besar dan terstandar untuk memastikan manfaat tertentu dari kefir.
Hal lain yang menarik, kefir juga sering disebut sebagai minuman probiotik. Padahal, secara ilmiah, kefir sebagai makanan fermentasi tidak otomatis dapat disebut sebagai probiotik.
Probiotik memiliki definisi yang lebih spesifik. Mikroorganisme di dalamnya harus dapat diidentifikasi hingga tingkat strain tertentu dan memiliki manfaat kesehatan yang sudah terbukti melalui penelitian terkontrol. Sementara itu, mikroorganisme dalam kefir dapat berbeda antara satu produk dengan produk lainnya.
Baca Juga: Berawal dari Sindiran Barista Italia, Americano Justru Jadi Minuman Mendunia
Inilah yang membuat kefir berbeda dari sekadar susu yang diberi rasa asam. Di dalam satu minuman terdapat komunitas mikroorganisme yang bekerja melalui proses fermentasi dan menghasilkan karakteristik tersendiri.
Kefir juga tidak selalu dibuat dari susu. Ada yang dikenal sebagai water kefir atau kefir air, yakni minuman fermentasi yang menggunakan butiran kefir air dalam larutan bergula. Namun, kefir susu dan kefir air memiliki bahan dasar serta komunitas mikroorganisme yang berbeda sehingga manfaat keduanya tidak bisa disamakan begitu saja.
Bagi orang yang terbiasa mengonsumsi susu atau yogurt dengan rasa lembut dan manis, rasa kefir mungkin membutuhkan sedikit penyesuaian. Rasa asamnya menjadi salah satu ciri yang paling mudah dikenali.
Namun, justru karakter tersebut yang membuat kefir menarik untuk dibicarakan. Di balik rasa yang mungkin terasa aneh bagi sebagian orang, terdapat proses fermentasi yang melibatkan berbagai mikroorganisme dan membuat kefir berbeda dari produk susu biasa.
Dengan penelitian yang terus berkembang, kefir kini tidak hanya dilihat sebagai minuman tradisional. Produk fermentasi ini juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai makanan fungsional dan hubungan antara makanan, mikroorganisme serta kesehatan tubuh.
Jadi, kefir mungkin bukan minuman yang langsung disukai semua orang pada tegukan pertama. Rasanya asam dan karakternya cukup unik. Tetapi di balik sensasi tersebut, ada proses fermentasi panjang dan mikroorganisme yang membuatnya menarik untuk diteliti.
Bukan sekadar minuman susu yang terasa aneh, kefir menyimpan cerita tentang bagaimana mikroorganisme dapat mengubah bahan sederhana menjadi makanan dengan karakter dan potensi manfaat yang berbeda.(lut)
Editor : Luthfiana SekarSumber : Berbagai Sumber