Mengapa Gudeg Begitu Lekat dengan Kota Yogyakarta?

tim solobalapan • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 18:23 WIB
G
Gudeg, kuliner berbahan nangka muda yang lekat dengan Yogyakarta. (Dok JP)

SOLOBALAPAN.COM - Gudeg sudah lama menjadi bagian dari kuliner Yogyakarta. Nama makanan berbahan nangka muda ini bahkan begitu melekat pada kota tersebut, meski gudeg sebenarnya juga dikenal di wilayah lain seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Gudeg dibuat dari nangka muda yang dimasak bersama santan dan bumbu dalam waktu lama. Proses memasaknya menghasilkan nangka dengan tekstur lembut, rasa manis, serta warna cokelat hingga kemerahan. Dalam satu sajian, gudeg biasanya ditemani nasi, ayam, telur, areh, dan sambal goreng krecek.

Baca Juga: Disebut ‘Cucu Krakatau’, Sebenarnya Gunung Apa yang Viral di Selat Sunda?

Nama gudeg sendiri berkaitan dengan cara pengolahannya. Istilah Jawa ngudheg atau hangudeg berarti mengaduk. Sebutan tersebut dikaitkan dengan proses memasak nangka muda dalam kuali yang membutuhkan waktu lama dan dilakukan dengan cara mengaduk bahan selama prosesnya.

Mengenai sejarahnya, gudeg memiliki beberapa versi. Salah satu cerita mengaitkannya dengan pembukaan Alas Mentaok yang kemudian berkembang menjadi wilayah Mataram. Nangka muda dan kelapa yang tersedia di kawasan tersebut dimanfaatkan sebagai bahan makanan.

Namun, cerita tersebut tidak menunjukkan bahwa gudeg hanya berkembang di Yogyakarta. Gudeg juga dikenal di daerah lain di Pulau Jawa. Perbedaan daerah kemudian membuat olahan ini memiliki variasi dalam rasa, warna, maupun cara penyajian.

Yang membuat gudeg begitu kuat di Yogyakarta adalah perkembangan makanan di kota ini. Gudeg kemudian tidak hanya dibuat untuk konsumsi keluarga, tetapi juga berkembang menjadi makanan yang dijual dan dicari oleh masyarakat.

Baca Juga: Dari After Hours hingga Dawn, Kenapa The Weeknd Selalu Identik dengan Dunia Malam?

Perkembangan penjualan gudeg terlihat jelas di Wijilan. Kawasan yang berada di dekat Keraton Yogyakarta ini dikenal sebagai salah satu sentra gudeg. Sejumlah penjual gudeg berkembang di kawasan tersebut dan menjadikannya salah satu tempat yang dikenal ketika orang mencari gudeg di Yogyakarta.

Letaknya yang dekat dengan Keraton membuat gudeg berada di kawasan yang ramai dikunjungi. Orang yang datang ke Yogyakarta kemudian dapat menemukan makanan ini tidak jauh dari kawasan wisata tersebut.

Wijilan pun bukan satu-satunya tempat gudeg dijual. Penjual gudeg berkembang di berbagai kota sehingga makanan ini semakin mudah ditemui.  Gudeg tidak hanya dikenal oleh masyarakat setempat, tetapi juga oleh orang dari luar daerah yang datang ke Yogyakarta.

Baca Juga: Penjelasan John Herdman Soal Starting XI Timnas Indonesia Tanpa Pemain Kelahiran Lokal!

Hubungan dengan wisata kemudian semakin kuat. Gudeg menjadi makanan yang dapat dicari saat berkunjung ke Yogyakarta, baik untuk disantap langsung maupun dibawa pulang.

Kebutuhan untuk dibawa pulang juga mendorong munculnya berbagai variasi gudeg. Selain gudeg basah, dikenal pula gudeg kering yang dimasak hingga kandungan airnya lebih sedikit. Bentuk ini lebih praktis untuk dibawa selama perjalanan.

Gudeg juga berkembang dalam berbagai kemasan. Dengan cara tersebut, gudeg dapat dibawa keluar dari Yogyakarta dan dikonsumsi di daerah lain. Kemasan ini membuat gudeg tidak hanya bergantung pada penjualan di warung atau rumah makan.

Baca Juga: Keunikan Gambyong Retno Kusumo, Tari Khas Pura Mangkunegaran

Perkembangan tersebut ikut memperluas pengenalan gudeg sebagai kuliner Yogyakarta. Orang yang pernah datang ke kota ini dapat membawa pulang gudeg, sementara orang di luar Yogyakarta juga dapat mengenalnya melalui produk yang dikirim dari daerah tersebut.

Jadi, hubungan gudeg dengan Yogyakarta terbentuk bukan hanya dari cerita asal-usulnya. Perkembangan penjualan di kota, munculnya Wijilan sebagai sentra gudeg, kedekatan dengan kawasan Keraton, serta berkembangnya gudeg sebagai makanan yang dapat dibawa pulang menjadi bagian dari perjalanan kuliner tersebut.

Baca Juga: 5 Manfaat Daun Kelor untuk Ibu Menyusui

Gudeg memang bukan makanan yang hanya dimiliki Yogyakarta. Namun, perkembangan penjualan dan perannya dalam kegiatan kuliner serta wisata membuat makanan ini memiliki identitas yang sangat kuat dengan kota tersebut.

Karena itu, ketika orang menyebut gudeg, Yogyakarta menjadi salah satu nama yang paling mudah dikaitkan dengannya. Hubungan tersebut terbentuk dari perjalanan panjang sebuah makanan yang berkembang dari tradisi kuliner Jawa menjadi salah satu bagian dari kehidupan kuliner Yogyakarta.(Hanifatuz Zahra)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : Berbagai Sumber, solobalapan.com
hanifatuz zahra makanan jawa yogyakarta gudeg kuliner khas