SOLOBALAPAN.COM - Tempe selama ini identik dengan kedelai. Namun, berbeda di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di daerah ini terdapat tempe besengek yang dibuat menggunakan koro benguk sebagai bahan utamanya.
Koro benguk merupakan jenis kacang-kacangan dengan ukuran biji lebih besar dibandingkan kedelai. Biji tersebut diolah melalui fermentasi hingga menjadi tempe yang memiliki karakter berbeda dari tempe kedelai.
Baca Juga: Di Balik Bunyi Gamelan Sekaten, Ada Tradisi Nginang, ini Maksudnya!
Perbedaannya salah satunya bisa dilihat dari teksturnya. Tempe benguk cenderung lebih padat dan butiran bijinya masih terasa saat dimakan. Karakter tersebut menjadi salah satu ciri khas olahan berbahan koro benguk.
Untuk menjadi tempe, koro benguk harus diproses melalui beberapa tahapan. Biji terlebih dahulu direndam, kemudian direbus atau dikukus sebelum diolah dan ditiriskan.
Setelah itu, ragi ditambahkan dan koro didiamkan untuk proses fermentasi. Dalam pengolahan tradisional, rangkaian pembuatan tersebut dapat berlangsung sekitar enam hari hingga menghasilkan tempe benguk.
Tempe yang sudah jadi kemudian dimasak kembali dengan cara besengek. Potongan tempe dimasak bersama santan dan bumbu rempah hingga menghasilkan kuah yang gurih.
Baca Juga: Ditemukan Ular Baru di Papua Nugini, Ternyata Namanya Diambil dari Slash Guns N’ Roses
Santan dan bumbu membuat rasa hidangan lebih kuat, sementara tekstur khas koro benguk tetap terasa saat disantap. Pengolahan ini pula yang membedakan tempe benguk dan tempe yang biasanya cukup digoreng atau dimasak sederhana.
Tempe besengek juga dikenal sebagai salah satu makanan yang biasa disandingkan dengan geblek. Makanan berbahan tepung tapioka tersebut memiliki tekstur kenyal dan umumnya disajikan setelah digoreng.
Perpaduan keduanya menjadi salah satu ciri kuliner tradisional Kulon Progo. Geblek memberikan tekstur kenyal, sedangkan besengek menghadirkan rasa gurih dengan karakter tempe yang lebih padat.
Baca Juga: Dikira Kucing Biasa, Hewan Ini Ternyata Spesies Baru yang Baru Ditemukan Setelah 100 Tahun
Cita rasa besengek tempe benguk juga dapat berbeda di sejumlah wilayah. Ada olahan yang lebih menonjolkan rasa gurih, sementara versi lainnya memiliki rasa yang cenderung manis.
Variasi tersebut berkaitan dengan kebiasaan memasak yang berkembang di masyarakat. Resep yang diwariskan turut membuat sajian yang sama memiliki karakter rasa berbeda di tiap daerah.
Selain menjadi bagian dari kuliner masyarakat, besengek tempe benguk juga tercatat sebagai warisan budaya. Pada 2020, makanan tradisional dari Kulon Progo ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Baca Juga: Ternyata Bintang yang Mati Bisa Tinggalkan Bentuk Aneh, Ada yang Jadi Kupu-Kupu hingga Mata Kucing
Penetapan tersebut menjadi bagian dari pengakuan terhadap tradisi kuliner yang berkembang di masyarakat dan masih dikenal hingga sekarang.
Keunikan makanan ini tidak hanya terletak pada bahan bakunya. Proses pengolahan koro benguk yang membutuhkan waktu berhari-hari juga menjadi bagian dari karakter tempe besengek.
Sebelum menjadi hidangan, koro harus melalui proses pengolahan dan fermentasi. Setelah berubah menjadi tempe, bahan tersebut kembali dimasak bersama santan dan rempah.
Rangkaian itu membuat tempe besengek memiliki perjalanan pengolahan yang cukup panjang sebelum siap disantap.
Keberadaan makanan ini sekaligus menunjukkan beragamnya tradisi pembuatan tempe di Indonesia. Tidak semua daerah menggunakan kedelai sebagai bahan utama.
Di Kulon Progo, koro benguk menjadi bahan untuk menghasilkan tempe dengan tekstur khas. Setelah diolah dengan santan dan bumbu, sajian tersebut menjadi tempe besengek yang lekat dengan kuliner tradisional daerah tersebut. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber