Jenang Saren, Kuliner Solo Berwarna Hitam yang Kaya Rempah

tim solobalapan • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 07:50 WIB
Jenang saren, kuliner tradisional Solo dengan warna hitam legam dan cita rasa rempah.(Instagram/bebas_radiasi)
Jenang saren, kuliner tradisional Solo dengan warna hitam legam dan cita rasa rempah.

SOLOBALAPAN.COM - Pernah Dengar Jenang Saren? Kuliner Solo Ini Berwarna Hitam dari Abu Merang

Pernah dengar jenang saren? Kuliner tradisional Solo ini punya tampilan yang berbeda dari jenang pada umumnya karena berwarna hitam legam.

Warna tersebut bukan berasal dari pewarna makanan. Jenang saren mendapatkan warna gelap dari abu merang atau batang padi yang dibakar.

Baca Juga: IHSG Turun, Haruskah Kita Ikut Panik? Ternyata Begini Dampaknya ke Kehidupan Sehari-hari

Merang yang sudah dibakar kemudian diolah dan digunakan dalam proses pembuatan jenang. Penggunaan bahan tersebut menjadi salah satu ciri yang membuat jenang saren mudah dikenali.

Bahan pembuatannya cukup sederhana. Tepung ketan menjadi bahan utama yang kemudian dipadukan dengan gula Jawa.

Adonan tersebut juga diberi sejumlah rempah, seperti jahe dan cengkih. Karena penggunaan rempah ini, jenang saren juga dikenal dengan sebutan jenang rempah.

Dari segi rasa, jenang saren tidak hanya menawarkan rasa manis. Gula Jawa memberikan rasa legit, sementara santan yang disajikan sebagai pelengkap menambah rasa gurih.

Aroma jahe dan cengkih juga terasa dalam setiap suapan. Perpaduan tersebut membuat rasanya memiliki karakter yang berbeda dari jenang yang hanya mengandalkan rasa manis.

Baca Juga: Dihantam Gelombang Ekstrem! 22 Korban Selamat Virgo Transport 8 Sempat Tertahan Drama Transfer Kapal

Jenang saren dikenal di sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta, termasuk Solo. Kuliner ini menjadi bagian dari ragam jajanan tradisional yang menggunakan bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Salah satu yang menarik adalah pemanfaatan merang. Batang padi yang biasanya dianggap sebagai sisa setelah panen justru digunakan untuk menghasilkan warna khas pada jenang.

Nama saren juga memiliki kaitan dengan istilah dalam bahasa Jawa. Saren dapat merujuk pada darah hewan yang dimasak, sementara warna jenang yang hitam pekat memiliki kemiripan secara visual.

Meski demikian, jenang saren tidak menggunakan darah sebagai bahan pembuatannya. Warna hitamnya berasal dari abu merang yang digunakan dalam proses pengolahan.

Baca Juga: Spider-Man: Brand New Day Tergusur dari Puncak Box Office, tapi Kini Jadi Film Terlaris Ketiga Sepanjang Masa

Kini, jenang saren sudah semakin jarang ditemui. Tidak banyak penjual yang masih membuatnya sehingga namanya mungkin terdengar asing bagi sebagian masyarakat.

Padahal, keunikannya tidak hanya terletak pada warna hitamnya. Ada penggunaan tepung ketan, gula Jawa, santan, serta rempah yang membuat jenang ini memiliki rasa dan aroma tersendiri.

Jenang saren pun menjadi salah satu kuliner tradisional Solo yang menarik untuk dikenali. Di balik tampilannya yang sederhana, ada cara pengolahan dan penggunaan bahan tradisional yang membuatnya berbeda dari jenang lainnya. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
rempah-rempah kuliner tradisional kuliner Solo jajanan khas jenang saren