Sekilas Mirip Lumpia, Ternyata Lompya Duleg Punya Juruh Gula Jawa yang Jadi Ciri Khas

tim solobalapan • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 07:40 WIB
Lompya duleg khas Delanggu disajikan dengan juruh gula Jawa berbumbu.(cookpad.com)
Lompya duleg khas Delanggu disajikan dengan juruh gula Jawa berbumbu.

SOLOBALAPAN.COM - Sekilas mirip lumpia, lompya duleg khas Delanggu punya ukuran mungil dan disajikan bersama juruh gula Jawa berbumbu.

Lompya duleg menjadi salah satu jajanan tradisional yang dikenal di wilayah Delanggu, Klaten. Bentuknya memang menyerupai lumpia, tetapi ukurannya lebih kecil dan cara menikmatinya memiliki ciri tersendiri.

Baca Juga: Selamat Hari Demokrasi Internasional, Kenapa Disebut “Demokrasi”? Ternyata Ini Asal-usul Katanya

Kulitnya dibuat tipis dengan isian yang umumnya berupa kecambah atau tauge. Setelah dibungkus, lompya dimasak hingga matang sebelum kemudian disajikan bersama juruh.

Juruh inilah yang membuat jajanan tersebut memiliki karakter rasa berbeda. Kuah pendamping itu menggunakan gula Jawa sebagai bahan utama, kemudian diberi bumbu seperti bawang merah, bawang putih, dan sedikit kecap.

Baca Juga: Mengulik Kuliner Masa Lalu, Ini Makanan Tradisional Jawa yang Kini Mulai Jarang Ditemui

Lompya yang sudah matang cukup dicocol ke dalam juruh sebelum disantap. Rasa manis dari gula Jawa berpadu dengan gurihnya bumbu dan isian lompya dalam satu suapan.

Cara sederhana tersebut sudah menjadi bagian dari kebiasaan menikmati lompya duleg. Tidak perlu tambahan yang macam-macam, cukup lompya dan juruh yang menjadi pasangannya.

Di balik bentuknya yang sederhana, lompya duleg juga menyimpan cerita panjang sebagai jajanan khas Delanggu. Makanan ini disebut mulai dikenal masyarakat setempat sejak sekitar 1950-an, ketika Mbah Karto Purno mengembangkan jajanan yang terinspirasi dari lumpia Semarang.

Baca Juga: “Mindfulness” Lagi Ramai Dibahas usai Konten Maudy Ayunda Dikritik, Sebenarnya Apa Artinya?

Dalam perkembangannya, lompya duleg mengalami penyesuaian dengan bahan dan selera masyarakat setempat. Salah satu perubahan yang dikenal adalah bagian isi yang kini banyak menggunakan tauge, sementara dahulu pernah menggunakan pepaya muda.

Nama lompya duleg pun tidak lepas dari kebiasaan menyantapnya. Lompya dicocol atau dicelupkan ke dalam juruh sebelum dimakan. Dari kebiasaan tersebut, istilah “duleg” kemudian melekat pada jajanan khas Delanggu ini.

Nostalgia terhadap jajanan lama seperti ini bukan hanya soal rasa. Cara penyajiannya yang sederhana juga mengingatkan pada jajanan tradisional yang dahulu mudah ditemui di lingkungan kampung dan dijajakan dari rumah ke rumah.

Ukurannya yang mungil membuat lompya duleg bisa disantap dalam beberapa gigitan. Kulit dan isiannya memberikan tekstur tersendiri, terlebih ketika berpadu dengan juruh yang manis dan gurih.

Baca Juga: Duka Pers Solo Memuncak! PFI, AJI, dan PWI Gelar Aksi Menyalakan Lilin Doakan 5 Jurnalis Hilang

Keberadaan juruh menjadi salah satu bagian penting dalam sajian ini. Tanpa kuah gula Jawa tersebut, pengalaman menyantap lompya duleg tentu terasa berbeda karena rasa khasnya justru muncul ketika keduanya dimakan bersamaan.

Kini lompya duleg masih dikenal sebagai salah satu kuliner tradisional dari kawasan Delanggu. Jajanan ini juga tercatat sebagai pengetahuan tradisional daerah, menunjukkan bahwa keberadaannya tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga menjadi bagian dari pengetahuan kuliner yang diwariskan masyarakat.

Sekilas memang mudah menyebutnya sebagai lumpia versi kecil. Namun, ketika lompya dicocol ke dalam juruh gula Jawa berbumbu, terlihat bahwa jajanan ini memiliki identitas sendiri yang sudah melekat dengan kuliner Delanggu.

Di tengah banyaknya jajanan modern, lompya duleg menjadi salah satu makanan lama yang masih menarik dikenali. Bentuknya sederhana, bahannya tidak rumit, tetapi juruh gula Jawa membuat cita rasanya sulit disamakan begitu saja dengan lumpia pada umumnya. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
lompya duleg kuliner klaten klaten delanggu jajanan tradisional