Namanya Elek-elekan, Kuliner Khas Solo Ini Ternyata Terbuat dari Pangkal Lidah Sapi

tim solobalapan • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 06:11 WIB
Elek-elekan, olahan pangkal lidah sapi yang dikenal dalam kuliner Solo.(Solo_delicious/Instagram)
Elek-elekan, olahan pangkal lidah sapi yang dikenal dalam kuliner Solo.(Solo_delicious/Instagram)

SOLOBALAPAN.COM -  Ada kuliner khas Solo dengan nama yang cukup unik. Namanya elek-elekan, makanan yang dibuat dari bagian pangkal atau bonggol lidah sapi. Bagian yang biasanya tidak banyak dimanfaatkan ini justru diolah menjadi sajian gurih dengan tekstur garing.

Pangkal lidah sapi tidak sama dengan bagian ujung lidah yang lebih sering dimasak. Di bagian bonggol, masih terdapat lemak dan daging dengan tekstur yang lebih lembut. Saat digoreng, bagian luarnya bisa menjadi garing, sementara bagian dalamnya tetap terasa lembut dan gurih.

Baca Juga: Marak Jualan Online dan Sembunyi-sembunyi! Perdagangan Daging Anjing di Solo Didesak Kena Sanksi Ketat Raperda

Cara membuatnya pun tidak rumit. Pangkal lidah dipotong-potong, lalu dibumbui dengan bawang putih sebelum digoreng sampai kering. Hasilnya, bagian luar terasa renyah, sedangkan bagian dalamnya masih lembut. Lemak yang menempel pada bonggol lidah juga membuat rasanya semakin gurih.

Elek-elekan biasanya dimakan bersama nasi hangat dan cabai yang terlebih dahulu digoreng. Perpaduan sederhana ini justru menjadi salah satu cara menikmati olahan pangkal lidah sapi tersebut.

Nama elek-elekan sendiri memiliki kaitan dengan bagian yang digunakan. Dalam bahasa Jawa, elek berarti jelek. Pangkal lidah yang memiliki banyak urat dan tampilan berbeda dari bagian lidah lainnya kemudian dikaitkan dengan sebutan elek-elekan.

Baca Juga: Tari Gambyong Pangkur, Tradisi dengan Keluwesan dan Keanggunannya sebagai Simbol Tari Penyambutan

Cerita mengenai makanan ini juga tidak terlepas dari perkembangan kuliner bestik di Solo. Salah satunya berkaitan dengan Harjo Bestik. Pada awalnya, bonggol lidah tidak dibuat sebagai menu untuk pelanggan, melainkan digoreng untuk disantap sendiri bersama nasi dan sambal, seperti sambal kecap atau sambal bawang.

Sajian tersebut kemudian menarik perhatian pelanggan yang melihatnya. Setelah mencicipinya, makanan dari bonggol lidah itu mulai dikenal oleh pelanggan lainnya. Dari yang awalnya dibuat untuk konsumsi sendiri, elek-elekan kemudian berkembang menjadi salah satu hidangan yang ditawarkan kepada pembeli.

Baca Juga: Bukan Cuma Gaya, Tato dari Berbagai Dunia Jadi Penanda Identitas Budaya

Elek-elekan juga tidak hanya dikenal di satu tempat. Olahan pangkal lidah sapi ini turut ditemukan di sejumlah warung bestik di Solo, termasuk Sumber Bestik Pak Darmo. Sementara itu, dalam daftar menu Harjo Bestik dan Bakmi Nonongan, terdapat menu Pangkal Lidah atau elek-elekan yang dipotong, dibumbui, lalu digoreng hingga garing.

Elek-elekan menjadi salah satu contoh bagaimana bagian sapi yang jarang dilirik bisa diolah menjadi makanan yang punya ciri sendiri. Pangkal lidah yang sebelumnya kurang dimanfaatkan justru bisa menghasilkan sajian dengan bagian luar yang garing dan bagian dalam yang tetap lembut. Di balik namanya yang sederhana, elek-elekan menjadi salah satu olahan yang ikut memperkaya kuliner Solo.(Hanifatuz Zahra)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : Berbagai Sumber, solobalapan.com
elek elekan Olahan solo raya kuliner Solo makanan khas Solo