Bukan Sekadar Oleh-oleh, Enting-enting Gepuk Salatiga Punya Sejarah Panjang hingga Jadi Warisan Budaya

tim solobalapan • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 18:02 WIB
Enting-enting gepuk, camilan khas Salatiga yang telah bertahan sejak 1929.(Radar Semarang)
Enting-enting gepuk, camilan khas Salatiga yang telah bertahan sejak 1929. 

SOLOBALAPAN.COM -  Sekilas, enting-enting gepuk hanya terlihat seperti camilan sederhana berbahan kacang tanah dan gula. Namun, jajanan yang lekat dengan Salatiga ini ternyata memiliki perjalanan panjang sejak 1929 hingga akhirnya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Jejak awal enting-enting gepuk bermula dari lingkungan Kelenteng Hok Tek Bio di Salatiga. Pada 1929, Khoe Djtong Hok mulai membuat camilan tersebut di kawasan kelenteng.

Saat itu, enting-enting belum dibuat untuk dijual sebagai oleh-oleh seperti yang dikenal sekarang. Makanan tersebut lebih dulu disajikan sebagai suguhan bagi orang yang datang ke kelenteng.

Baca Juga: Liga Champions 2026/27 Dimulai, Apa yang Membuat Kompetisi Ini Begitu Istimewa?

Seiring berjalannya waktu, enting-enting mulai dibuat untuk dijual kepada masyarakat. Dari sana, camilan tersebut perlahan semakin dikenal dan kemudian menjadi salah satu makanan yang lekat dengan Salatiga.

Bahan pembuatannya pun cukup sederhana, yakni kacang tanah dan gula. Keduanya diolah hingga menyatu, kemudian dipukul atau digepuk sebelum dibentuk. Proses inilah yang kemudian menjadi ciri khas sekaligus bagian dari nama enting-enting gepuk.

Tak hanya cara pembuatannya yang bertahan, tampilan enting-enting juga mengalami perubahan. Dahulu, makanan ini dibungkus secara sederhana seperti klobot. Seiring waktu, kemasannya berganti menjadi kertas dan tampilannya semakin dikenal sebagai buah tangan khas Salatiga.

Meski kemasan berubah, bahan utama dan karakter enting-enting tetap dipertahankan. Cara pembuatannya pun terus diwariskan, sehingga makanan ini tetap dikenal dan dinikmati oleh generasi berikutnya.

Baca Juga: Whimsy Lagi Tren di Kalangan Gen Z, Kenapa Banyak Orang Ingin Hidup Lebih ‘Ajaib’?

Salah satu produsen enting-enting gepuk di Salatiga bahkan telah menjalankan usaha sejak 1929. Keberlangsungan tersebut menjadi bagian dari cerita panjang tentang bagaimana camilan ini mampu bertahan melewati perubahan zaman.

Dari lingkungan kelenteng, enting-enting kemudian berkembang dan semakin dikenal masyarakat. Keberadaannya pun tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga dengan keterampilan membuat dan meneruskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Hampir satu abad sejak pertama kali dibuat, perjalanan enting-enting gepuk mendapat pengakuan di tingkat nasional. Pada 2023, Enting-Enting Gepuk Salatiga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 315/M/2023.

Baca Juga: Kenapa Flash Sale Tengah Malam Bikin Orang Rela Begadang? Ini Alasannya

Penetapan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan enting-enting gepuk. Camilan yang dulunya hanya menjadi suguhan di lingkungan kelenteng kini tercatat sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.

Karena itu, enting-enting gepuk bukan hanya tentang rasa manis dan gurih dari kacang dan gula. Di balik camilan sederhana tersebut ada sejarah panjang, keterampilan yang terus dijaga, dan cerita tentang bagaimana sebuah makanan mampu bertahan hingga hampir satu abad. (hanifatuz zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
entingenting kuliner salatiga oleh oleh khas jajanan khas jajanan tradisional