SOLOBALAPAN.COM - Mendengar namanya, orang mungkin tidak langsung membayangkan sebuah makanan. Namun, kerupuk upil merupakan camilan berukuran kecil yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kuliner jalanan Surabaya.
Kerupuk ini memiliki bentuk sederhana berupa bulatan-bulatan kecil dengan rasa asin dan gurih. Tak hanya disantap sebagai camilan, kerupuk upil juga dikenal nikmat ketika dipadukan dengan sambal, salah satunya sambal petis yang lekat dengan kuliner Surabaya.
Cerita tentang kerupuk upil tidak berhenti pada bentuk dan rasanya. Jajanan ini juga pernah memiliki kehidupan tersendiri di jalanan Surabaya melalui para pedagang yang menjajakannya secara berkeliling.
Catatan mengenai kuliner Surabaya menggambarkan penjual kerupuk upil yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menawarkan dagangannya. Sebagian menggunakan gerobak, sementara ada pula pedagang yang membawa kerupuk dengan cara disanggulkan di punggung. Sambal disiapkan sebagai pelengkap untuk pembeli.
Cara berjualan tersebut membuat kerupuk upil menjadi bagian dari suasana jalanan kota. Masyarakat tidak harus datang ke warung untuk mendapatkannya karena pedagang dapat membawa jajanan ini dari satu kawasan ke kawasan lainnya.
Bahkan, sejumlah penjual menggunakan bunyi lonceng untuk menarik perhatian calon pembeli. Suara tersebut menjadi salah satu penanda ketika pedagang kerupuk upil melintas di sekitar permukiman atau jalanan.
Nama “upil” sendiri menjadi bagian yang tak kalah menarik. Bagi orang yang baru mendengarnya, sebutan tersebut tentu terdengar unik untuk sebuah makanan.
Dalam salah satu catatan mengenai kerupuk upil di Surabaya, nama tersebut dikaitkan dengan karakter kerupuk yang berukuran kecil dan memiliki rasa asin. Namun, keterangan tersebut lebih tepat dipahami sebagai cerita yang berkembang di masyarakat, bukan kepastian mengenai asal-usul penamaannya.
Kerupuk upil juga tidak hanya dikenal di Surabaya. Nama yang sama ditemukan di sejumlah wilayah Jawa Timur. Di Nganjuk, misalnya, kerupuk upil dikenal sebagai salah satu kuliner daerah dengan karakter pengolahan tersendiri, termasuk penggunaan pasir dalam proses memasaknya.
Baca Juga: Pernah Bayangkan Makan di Meja dari Tanah? Konsep di Tengah Kebun Ini Bikin Unik
Karena itu, kerupuk upil tidak tepat jika disebut sebagai makanan yang hanya dimiliki Surabaya. Yang menarik justru bagaimana jajanan dengan nama yang sama dapat dikenal di beberapa daerah dengan cerita dan kebiasaan kuliner yang berbeda.
Meski kisah pedagang kelilingnya berasal dari catatan lama, kerupuk upil belum sepenuhnya hilang dari Surabaya. Jajanan dengan nama tersebut masih tercantum dalam sejumlah penjualan makanan maupun produk camilan di kota ini.
Keberadaannya mungkin tidak lagi semudah ditemukan seperti jajanan yang tengah populer di media sosial. Namun, kerupuk upil menunjukkan bagaimana sebuah makanan sederhana dapat bertahan melalui kebiasaan masyarakat.
Bentuknya kecil dan penyajiannya sederhana. Di balik itu, ada cerita tentang pedagang keliling, sambal petis, serta kehidupan kuliner jalanan Surabaya yang pernah menyertai keberadaannya.
Kerupuk upil menjadi salah satu contoh bahwa cerita kuliner sebuah kota tidak selalu datang dari makanan besar atau hidangan mewah. Jajanan sederhana yang dahulu hadir dalam keseharian masyarakat pun dapat meninggalkan jejak tersendiri. (hanifatuz zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber