Kenapa Legomoro Dibawa Saat Melamar? Jajanan Kecil Ini Punya Makna untuk Dua Keluarga

tim solobalapan • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 09:12 WIB
p
Legomoro, jajanan ketan yang menjadi bagian dari tradisi lamaran dan pernikahan Jawa. (Dok. JP)

SOLOBALAPAN.COM -  Bungkusan kecil berisi ketan ini mungkin tampak seperti jajanan biasa. Namun, Legomoro memiliki cerita yang membuatnya berbeda dari makanan tradisional lainnya. Di Kotagede, Yogyakarta, makanan ini berkaitan dengan tradisi keluarga dan masih digunakan dalam sejumlah prosesi pernikahan.

Legomoro memiliki bentuk yang khas. Ketan dengan isian dibungkus menggunakan daun pisang, kemudian dilipat dan diikat sehingga menghasilkan bungkusan kecil yang mudah dikenali. Kesederhanaan bentuknya justru menyimpan makna yang cukup panjang.

Baca Juga: Tak Cuma Anak Krakatau, 5 Gunung Api di Indonesia Ini Berstatus Level III Siaga Erupsi, Cek Zona Merahnya

Dalam tradisi pernikahan masyarakat Kotagede, Legomoro menjadi salah satu bagian dari hantaran. Makanan ini umumnya dibawa oleh keluarga pihak laki-laki saat datang ke keluarga perempuan. Dengan begitu, legomoro tidak hanya berkaitan dengan makanan yang nantinya disantap, tetapi juga dengan maksud kedatangan keluarga.

Makna tersebut juga tercermin dari namanya. Legomoro dikaitkan dengan kata "lego" dan "moro". "Lego" dimaknai sebagai lega atau ikhlas, sedangkan "moro" berarti datang. Dari pemaknaan itu, Legomoro membawa gambaran tentang kedatangan dengan hati yang lapang dan tulus.

Filosofi tersebut menjadi menarik ketika ditempatkan dalam konteks lamaran. Kedatangan keluarga calon pengantin laki-laki bukan sekadar kunjungan, melainkan bagian dari upaya untuk mempertemukan kedua keluarga. Legomoro kemudian menjadi salah satu benda yang menyertai proses tersebut.

Baca Juga: Louice Cristiana Mangotan Siapa? Sosok Mitra SPPG yang Salahkan Siswa Usai Keracunan Massal MBG di Tana Toraja

Dalam tradisi tertentu, Legomoro bahkan dapat menjadi bagian dari cara keluarga perempuan menyampaikan penerimaan terhadap lamaran. Hantaran yang dibawa pihak laki-laki dapat dikembalikan kepada keluarga tersebut setelah lamaran diterima. Sebaliknya, ketika belum dikembalikan, hal itu dapat menjadi tanda bahwa keluarga perempuan masih mempertimbangkan kedatangan tersebut.

Tradisi ini membuat Legomoro menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai kuliner, tetapi juga sebagai bagian dari komunikasi simbolis. Sebuah makanan dapat membawa maksud tertentu tanpa harus disampaikan secara langsung melalui kata-kata.

Hal semacam ini menunjukkan bahwa makanan dalam tradisi Jawa tidak selalu disajikan sebagai hidangan. Pada momen tertentu, makanan juga dapat menjadi bagian dari tata cara sosial dan membawa harapan yang berkaitan dengan hubungan antarkeluarga.

Meski memiliki kaitan erat dengan acara keluarga, Legomoro kini semakin mudah ditemui sebagai makanan sehari-hari. Sejumlah pembuat tidak lagi hanya memproduksinya berdasarkan pesanan untuk hajatan, tetapi juga menjualnya secara rutin.

Baca Juga: Manfaat Kacang-Kacangan Bagi Kesehatan Tubuh, Ada Yang Cocok Untuk Program Diet

Perubahan tersebut membuat Legomoro dapat dinikmati oleh masyarakat yang tidak sedang menjalani prosesi pernikahan. Namun, keberadaannya dalam tradisi keluarga juga masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat.

Dengan demikian, perkembangan Legomoro tidak serta-merta menghilangkan fungsi budayanya. Jajanan ini justru berjalan di dua ruang sekaligus, sebagai kuliner yang bisa dinikmati sehari-hari dan sebagai bagian dari tradisi ketika digunakan dalam acara tertentu.

Legomoro juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2022. Status tersebut memperkuat keberadaannya sebagai salah satu bagian dari kekayaan budaya kuliner Indonesia.

Baca Juga: Akun Instagram Priscilla Putri Agan apa? Diburu Warganet, Pegawai Bank di Sulteng yang Viral Dituding Pelakor

Dari luar, Legomoro hanya berupa bungkusan kecil berbahan ketan. Namun, ketika hadir dalam sebuah prosesi keluarga, makanan tersebut membawa cerita yang lebih luas tentang kedatangan, keikhlasan, penerimaan, dan pertemuan dua keluarga.

Itulah keunikan Legomoro. Bukan karena bentuknya yang besar atau bahan yang rumit, melainkan karena makanan sederhana ini memiliki tempat dalam tradisi dan dapat menyampaikan makna yang lebih jauh dari sekadar rasa. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : Berbagai Sumber, solobalapan.com
Kotagede legomoro tradisi jajanan khas jajanan tradisional