SOLOBALAPAN.COM - Di tengah bermunculannya beragam kuliner baru, Kerupuk Sala masih menjadi salah satu jajanan lawas yang dapat ditemui di Solo. Kerupuk berbahan dasar aci ini mulai dikenal sejak era 1960-an dan memiliki cerita yang tidak lepas dari perjalanan seorang perantau dari Ciamis.
Sejarah Kerupuk Sala bermula dari kedatangan almarhum Emon Mashudin ke Solo pada awal 1960-an. Ia membawa resep kerupuk aci dari daerah asalnya. Resep itu kemudian dikembangkan di Solo hingga menghasilkan kerupuk yang dikenal sebagai Kerupuk Sala.
Baca Juga: Kenapa Kereta Api Tidak Bisa Berhenti Mendadak seperti Mobil? Ini Alasannya
Nama Kerupuk Sala mulai digunakan sekitar 1965. Seiring waktu, kerupuk tersebut tidak hanya dijadikan camilan, tetapi juga kerap disajikan sebagai pelengkap berbagai hidangan. Bentuknya yang sederhana membuat kerupuk ini mudah ditemukan di warung makan dan sering dijadikan pelengkap nasi dan lauk.
Dalam perkembangannya, pembuatan Kerupuk Sala turut menjadi usaha yang melibatkan puluhan pekerja. Lokasi produksinya berada di Jalan Mundu II, Kerten, Kecamatan Laweyan, Solo. Aktivitas produksi tersebut menjadi bagian dari perjalanan usaha Kerupuk Sala setelah resepnya dibawa dari daerah asal ke Solo.
Kerupuk aci sendiri bukan makanan yang asing bagi masyarakat Ciamis dan sejumlah wilayah di Jawa Barat. Jenis kerupuk tersebut telah lama menjadi bagian dari olahan pangan masyarakat setempat. Resep tersebut kemudian dibawa oleh Emon Mashudin ke Solo dan dikembangkan.
Baca Juga: Hadiri Miss Equality 2026 di Thailand, Anggota DPD Arya Wedakarna Jadi Sorotan Publik
Di Solo, kerupuk tersebut kemudian berkembang menjadi produk yang dipasarkan kepada masyarakat. Seiring waktu, kerupuk sala semakin dikenal dan biasa disajikan sebagai pendamping berbagai menu.
Kerupuk ini dapat dinikmati bersama nasi dan lauk maupun sebagai camilan. Rasanya yang cocok dipadukan dengan beragam makanan membuatnya kerap jadi pelengkap di meja makan.
Dari Ciamis, resep kerupuk aci tersebut kemudian berkembang di Solo dan dikenal dengan nama Kerupuk Sala. Perkembangannya tidak hanya terlihat dari proses produksi, tetapi juga dari penggunaannya sebagai pelengkap berbagai hidangan.
Baca Juga: Desta Mundur dari Vindes Corp, Pesan Harunya untuk Vincent: Dia Adalah Keluarga
Lebih dari enam dekade sejak nama Kerupuk Sala mulai digunakan, kuliner ini masih dapat dijumpai di Solo. Produksi yang terus berjalan serta keberadaan penjual dan warung makan yang menyediakannya membuat Kerupuk Sala tetap menjadi salah satu kuliner lawas yang dikenal masyarakat.
Kerupuk Sala menunjukkan bagaimana sebuah makanan dapat berkembang ketika resep dan keterampilan pengolahannya berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Dari Ciamis, resep tersebut kemudian menemukan tempat baru di Solo dan berkembang menjadi kuliner yang memiliki nama sendiri. (hanifatuz zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber