Birmingham New Street, Stasiun yang Berubah Total Menjadi Pusat Kota

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 13:23 WIB
Birmingham New Street kini memiliki concourse luas dengan atrium besar yang membuat stasiun terasa lebih terang dan terbuka setelah pembangunan kembali. (Pinterest)
Birmingham New Street kini memiliki concourse luas dengan atrium besar yang membuat stasiun terasa lebih terang dan terbuka setelah pembangunan kembali. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Kalau biasanya stasiun kereta hanya menjadi tempat orang datang, menunggu, lalu pergi, Birmingham New Street punya cerita yang jauh lebih panjang.

Stasiun yang berada di pusat Birmingham, Inggris, ini pernah dikenal sebagai bangunan yang suram, gelap, dan kurang nyaman bagi penumpang. Namun setelah melalui proyek pembangunan kembali senilai sekitar £750 juta, Birmingham New Street berubah menjadi salah satu pusat transportasi sekaligus ruang publik penting di tengah kota.

Yang menarik, perubahan tersebut bukan sekadar renovasi bangunan stasiun. Bagian atas stasiun juga dimanfaatkan sebagai kawasan komersial yang kini dikenal sebagai Grand Central.

Baca Juga: Kisah Panjang Canfranc, Dari Gerbang Kereta Spanyol-Prancis hingga Hotel Mewah

Kisah Birmingham New Street sendiri telah dimulai jauh sebelum bangunan yang sekarang berdiri.

Pada abad ke-19, Birmingham berkembang pesat sebagai kota industri. Stasiun pertama yang melayani kota tersebut adalah Curzon Street, yang dibuka pada 1838. Namun, pertumbuhan lalu lintas kereta api membuat stasiun tersebut semakin kewalahan. Lokasinya juga dianggap kurang sesuai dengan perkembangan Birmingham yang semakin pesat.

Karena itu, sebuah stasiun baru dibangun di lokasi yang lebih strategis. Birmingham New Street resmi dibuka pada 1854.

Baca Juga: Prilly Latuconsina Resmi Sandang Gelar M.I.Kom, Lulus S2 dengan Predikat Summa Cum Laude

Bangunan pertamanya bahkan sangat megah untuk ukuran zamannya. Stasiun tersebut memiliki atap lengkung yang terbuat dari besi dan kaca dengan bentang sekitar 64 meter dan panjang sekitar 256 meter. Ketika selesai dibangun, atap tersebut menjadi salah satu yang terbesar di dunia dan menjadi simbol kemajuan teknologi perkeretaapian pada masa itu.

Namun, kejayaan bangunan Victorian tersebut tidak berlangsung selamanya.

Pada abad ke-20, Birmingham New Street mengalami kerusakan akibat pengeboman selama Perang Dunia II. Setelah itu, perkembangan teknologi dan modernisasi jaringan kereta api Inggris membuat bangunan lama dianggap tidak lagi sesuai dengan kebutuhan zaman.

Pada 1964, stasiun lama akhirnya dibongkar.

Tiga tahun kemudian, pada 1967, Birmingham New Street yang baru dibuka.

Namun, wajahnya sangat berbeda.

Baca Juga: Board Game Kembali Diminati: Cara Gen Z Bangun Koneksi Di Tengah Dominasi Dunia Digital

Alih-alih mempertahankan atap besi dan kaca yang menjadi ciri khas stasiun sebelumnya, bangunan baru menggunakan struktur beton dengan sekitar 200 kolom yang menopang bagian atasnya.

Di atas stasiun kemudian dibangun sebuah pusat perbelanjaan. Tempat tersebut awalnya dikenal sebagai Birmingham Shopping Centre, sebelum kemudian berganti nama menjadi Pallasades.

Konsep pembangunan ini cukup unik. British Rail menjual apa yang dikenal sebagai “air rights”, yaitu hak untuk memanfaatkan ruang di atas lahan atau bangunan. Dengan konsep tersebut, area yang berada tepat di atas jalur kereta dapat dimanfaatkan sebagai kawasan komersial.

Namun, desain tersebut juga menimbulkan persoalan.

Bangunan beton dan pusat perbelanjaan yang berada di atas stasiun membuat area penumpang menjadi gelap dan terasa sesak. Seiring waktu, Birmingham New Street mendapatkan reputasi sebagai salah satu stasiun yang kurang menyenangkan untuk dikunjungi.

Masalah lainnya adalah jumlah penumpang yang terus meningkat.

Birmingham berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi dan transportasi utama Inggris. Akibatnya, jumlah orang yang menggunakan New Street semakin jauh melampaui kapasitas yang dirancang pada 1960-an.

Stasiun tersebut akhirnya membutuhkan perubahan besar.

Baca Juga: Part Time Atau Kantoran? Gen Z Mulai Memilih Cara Kerja Yang Lebih Fleksibel

Pada 2010, proyek pembangunan kembali Birmingham New Street dimulai. Proyek ini berlangsung selama sekitar lima tahun dan memiliki tantangan besar: stasiun harus tetap beroperasi selama proses pembangunan berlangsung.

Sebagian bangunan lama dibongkar, struktur baru dibangun, sementara perjalanan kereta dan aktivitas penumpang tetap berjalan.

Hasil perubahan mulai terlihat pada 2013, ketika bagian pertama concourse baru dibuka. Kemudian pada 20 September 2015, Birmingham New Street yang telah dibangun kembali resmi dibuka sepenuhnya.

Perubahannya sangat drastis.

Bagian dalam stasiun kini memiliki concourse yang jauh lebih luas dengan atrium besar yang memungkinkan cahaya alami masuk ke dalam bangunan. Ruang yang sebelumnya dikenal gelap dan tertutup berubah menjadi area yang terang, terbuka, dan lebih mudah dinavigasi.

Tidak hanya bagian dalam stasiun yang berubah.

Pallasades juga mengalami transformasi dan kemudian menjadi Grand Central. Kawasan komersial tersebut dibuka pada 24 September 2015, hanya beberapa hari setelah stasiun yang baru selesai direnovasi.

Di dalamnya terdapat berbagai toko, restoran, dan ruang komersial yang terhubung langsung dengan stasiun.

Dengan begitu, orang yang datang ke Birmingham New Street tidak hanya bisa naik kereta. Mereka dapat berbelanja, makan, bertemu orang, berjalan menuju pusat kota, atau melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi lainnya.

Stasiun tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar tempat kereta berhenti.

Ia menjadi bagian dari kehidupan kota.

Desain barunya juga dibuat untuk memperbaiki hubungan antara stasiun dengan kawasan pusat Birmingham. Akses masuk, ruang pejalan kaki, dan koneksi menuju kawasan sekitar dibuat lebih terbuka sehingga stasiun dapat berfungsi sebagai salah satu penghubung utama di pusat kota.

Menariknya, perubahan Birmingham New Street bukan hanya soal arsitektur.

Stasiun ini menunjukkan bagaimana sebuah bangunan transportasi dapat ikut berubah mengikuti kebutuhan kota. Dari stasiun Victorian dengan atap besi raksasa, berubah menjadi bangunan beton yang sempat dianggap suram, kemudian kembali bertransformasi menjadi stasiun modern dengan atrium kaca dan pusat perbelanjaan di atasnya.

Tiga zaman, satu lokasi.

Dan mungkin itulah yang membuat Birmingham New Street menarik untuk dibahas.

Stasiun ini tidak hanya berubah bentuk. Perannya juga ikut berubah—dari tempat kereta berhenti menjadi salah satu titik penting kehidupan pusat kota Birmingham. (luthfiana sekar)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
luthfiana sekar railway Birmingham new street stasiun lifestyle