SOLOBALAPAN.COM - Di tengah kesibukan New York City, ada sebuah tempat yang mungkin terlihat seperti istana jika dilihat dari dalam. Bangunannya dipenuhi marmer, lampu-lampu besar, tangga monumental, dan sebuah langit-langit yang menampilkan ribuan bintang. Tempat itu adalah Grand Central Terminal.
Grand Central Terminal merupakan salah satu stasiun kereta paling terkenal di dunia. Berada di Manhattan, New York, terminal ini menjadi salah satu ikon kota sekaligus salah satu contoh arsitektur Beaux-Arts yang paling dikenal di Amerika Serikat.
Baca Juga: Kisah Panjang Canfranc, Dari Gerbang Kereta Spanyol-Prancis hingga Hotel Mewah
Bangunan yang sekarang berdiri dibuka untuk umum pada 2 Februari 1913. Pembangunannya berkaitan dengan perubahan besar pada sistem perkeretaapian New York, terutama ketika jalur kereta mulai beralih dari lokomotif uap menuju sistem elektrifikasi.
Grand Central kemudian dibangun sebagai terminal besar untuk menggantikan fasilitas sebelumnya yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan kota yang berkembang pesat.
Salah satu bagian yang paling terkenal adalah Main Concourse, aula utama yang sangat besar dan menjadi pusat aktivitas terminal. Ruangan ini memiliki panjang sekitar 84 meter dan lebar sekitar 37 meter. Di atasnya terdapat langit-langit berwarna biru kehijauan yang dihiasi gambaran rasi bintang.
Saat pertama kali melihatnya, pengunjung mungkin mengira gambar tersebut dibuat berdasarkan peta langit yang sangat akurat. Namun, ternyata terdapat beberapa kesalahan pada posisi rasi bintangnya. Kesalahan tersebut justru menjadi salah satu cerita menarik dari Grand Central Terminal.
Konon, lukisan langit-langit tersebut dibuat berdasarkan sumber yang diberikan kepada seniman secara terbalik sehingga posisi rasi bintang menjadi terbalik.
Namun, pihak Grand Central juga menjelaskan bahwa kesalahan tersebut kemungkinan merupakan hasil dari berbagai faktor selama proses pembuatannya. Yang jelas, beberapa rasi bintang memang berada pada posisi yang tidak sesuai dengan peta astronomi modern.
Di tengah lukisan langit tersebut terdapat gambaran beberapa rasi bintang dan simbol astronomi. Pada bagian tertentu bahkan terdapat lingkaran kecil yang melambangkan posisi benda langit. Pemandangan ini membuat Main Concourse terlihat seperti seseorang sedang berdiri di bawah langit malam.
Namun, langit-langit tersebut hampir saja tidak dapat disaksikan oleh generasi sekarang.
Baca Juga: Bedah Buku 'Manusia Indonesia': Kritik Jujur Mochtar Lubis Tentang Mentalitas dan Karakter Kita
Selama bertahun-tahun, langit-langit Grand Central tertutup oleh lapisan kotoran dan asap rokok. Pada pertengahan abad ke-20, permukaannya bahkan tampak sangat gelap sehingga keindahan lukisan aslinya sulit terlihat.
Restorasi besar kemudian dilakukan pada 1990-an. Para konservator membersihkan lapisan kotoran secara hati-hati dan mengembalikan warna asli langit-langit. Setelah pekerjaan tersebut selesai, detail rasi bintang yang sebelumnya hampir tidak terlihat kembali muncul.
Salah satu bagian menarik lainnya adalah Grand Central Clock, jam empat sisi yang berada di atas loket informasi di Main Concourse. Jam ini menjadi salah satu objek paling terkenal di terminal dan sering digunakan sebagai titik pertemuan.
Grand Central juga memiliki salah satu rahasia arsitektur yang terkenal, yaitu Whispering Gallery. Lorong berbentuk lengkung di dekat Oyster Bar memungkinkan seseorang berbicara dari satu sudut dan suaranya dapat terdengar jelas oleh orang yang berdiri di sudut berseberangan.
Caranya sederhana tetapi mengejutkan. Bentuk lengkungan pada dinding dan langit-langit memungkinkan suara merambat mengikuti permukaan sehingga dapat terdengar dari jarak yang cukup jauh.
Selain bagian yang terlihat, Grand Central juga memiliki jaringan ruang bawah tanah yang luas. Di bawah terminal terdapat jalur, ruang teknis, dan fasilitas pendukung yang membantu mengatur operasi kereta.
Terminal ini juga memiliki Grand Central Market, berbagai restoran, toko, serta ruang-ruang yang membuatnya bukan sekadar tempat naik dan turun kereta.
Baca Juga: Siapa Direktur Mecimapro? Resmi Jadi Tersangka, Kini Sosok Melani Dicari Para Pecinta KPop
Grand Central bahkan pernah menghadapi ancaman pembongkaran. Pada abad ke-20, ketika bangunan bersejarah mulai dianggap kurang praktis dibandingkan gedung modern, muncul rencana untuk menggantikan atau mengubah terminal tersebut.
Salah satu ancaman terbesar terjadi ketika ada rencana pembangunan gedung tinggi di atas atau di sekitar terminal. Upaya pelestarian kemudian mendapat dukungan dari masyarakat dan tokoh-tokoh seperti Jacqueline Kennedy Onassis, yang ikut mendorong gerakan untuk mempertahankan bangunan bersejarah New York.
Pada 1970-an, Grand Central akhirnya mendapatkan perlindungan sebagai bangunan bersejarah. Status tersebut membantu memastikan bahwa terminal tidak begitu saja dihancurkan atau diubah tanpa mempertimbangkan nilai sejarahnya.
Kini, lebih dari satu abad setelah dibuka, Grand Central Terminal masih berfungsi sebagai terminal kereta. Setiap hari, ribuan orang datang untuk bepergian, bertemu, makan, berbelanja, atau sekadar melihat bangunan bersejarah tersebut.
Yang membuat Grand Central begitu menarik adalah perpaduan antara fungsi dan keindahan. Bangunan ini bukan museum yang berhenti digunakan, melainkan stasiun aktif yang tetap menjadi bagian dari kehidupan kota.
Di bawah langit-langit penuh bintang, suara pengumuman kereta bercampur dengan langkah kaki penumpang dan hiruk-pikuk Manhattan.
Grand Central Terminal membuktikan bahwa stasiun kereta tidak harus terlihat seperti tempat transit biasa. Di New York, perjalanan kereta bahkan bisa dimulai di bawah langit berbintang. (Luthfiana Sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Grand Central Terminal