Umbul Ngabean, Pemandian Peninggalan Keraton yang Masih Jadi Ruang Ritual

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:50 WIB
Umbul Ngabean di Pengging, Banyudono, Boyolali. (Rara Belva/Radar Solo)
Umbul Ngabean di Pengging, Banyudono, Boyolali. (Rara Belva/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Gemericik air mengalir tanpa henti di Umbul Ngabean. Kolam berbentuk bulat dengan tembok melingkar itu menjadi salah satu daya tarik kawasan wisata Umbul Pengging, Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Boyolali.

Namun, Umbul Ngabean bukan sekadar tempat untuk berenang atau menikmati kesegaran mata air. Di balik airnya yang jernih, tersimpan jejak sejarah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat serta tradisi masyarakat yang masih bertahan hingga sekarang.

Umbul Ngabean juga dikenal dengan nama Umbul Siraman Ndalem. Pemandian tersebut dipercaya dibangun pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X, yang memimpin Kasunanan Surakarta pada 1893–1939.

Baca Juga: Umbul Langse, Mata Air Boyolali yang Ramai Didatangi Dini Hari hingga Simpan Tradisi Memetri

Pada masa itu, kawasan Pengging dikembangkan sebagai tempat peristirahatan sekaligus pemandian bagi keluarga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Seiring waktu, Umbul Ngabean terbuka untuk masyarakat umum dan berkembang menjadi salah satu destinasi wisata pemandian. Meski fungsi wisatanya semakin menonjol, nuansa sejarah dan tradisi yang melekat di tempat tersebut belum sepenuhnya hilang.

Bahkan, ketika aktivitas wisata berakhir pada sore hari, Umbul Ngabean justru memiliki sisi lain. Sebagian masyarakat masih datang pada malam hari untuk menjalankan ritual sesuai kepercayaan masing-masing.

Baca Juga: Umbul Rogoboyo: Mata Air yang Pernah Mati 3 Bulan, Kini Jadi Nadi Kehidupan Warga Kadireso

Manajer Umbul Pengging Fauzi Nur Huda mengatakan pengelola tidak melarang aktivitas tersebut selama tetap memperhatikan ketertiban, kebersihan, serta kenyamanan bersama.

"Kalau Umbul Ngabean itu memang sampai saat ini masih ada warga masyarakat yang percaya untuk melakukan ritual-ritual tertentu di dalam umbulnya. Kami juga tidak membatasi karena itu sifatnya kepercayaan," ujar Fauzi.

Ritual Berlangsung Malam Hari

Aktivitas wisata di Umbul Ngabean berlangsung sekitar pukul 06.00 hingga 17.00 WIB. Setelah kawasan wisata tutup, sebagian masyarakat datang untuk melakukan ritual.

Pengelola tetap menyiagakan penjaga ketika ada masyarakat yang melakukan aktivitas ritual pada malam hari. Mereka yang datang tidak hanya berasal dari Boyolali, tetapi juga dari daerah sekitar seperti Solo, Salatiga, hingga Yogyakarta.

Bentuk ritual yang dilakukan pun beragam. Ada yang membakar dupa, membawa sesajen tertentu, hingga melakukan kungkum atau merendam seluruh tubuh di dalam air.

"Rata-rata dilakukan di malam hari. Ritualnya itu di dalam umbul. Biasanya mereka per orang punya cara ritual sendiri-sendiri, ada yang mungkin membakar dupa, ada yang memakai sesajen tertentu, kemudian ada ritual dilakukan dengan cara menyelupkan seluruh badan atau dalam bahasa Jawa namanya kungkum," jelas Fauzi.

Malam Jumat, terutama malam Jumat Pahing dalam penanggalan Jawa, disebut menjadi salah satu waktu yang lebih ramai. Jumlah orang yang datang untuk melakukan ritual pada waktu tersebut dapat meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa.

Meski diperbolehkan sebagai bagian dari kepercayaan masyarakat, pengelola tetap melakukan pembersihan setelah aktivitas ritual. Hal itu dilakukan untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan pengunjung yang datang untuk berenang atau berekreasi.

Menjaga Sikap di Pemandian Bersejarah

Sebagai kawasan yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Keraton Kasunanan Surakarta, pengelola juga mengingatkan pengunjung untuk menjaga sikap selama berada di Umbul Ngabean.

Pengunjung diminta menjaga tutur kata, tidak berkata-kata kotor, tidak mengotori lingkungan, serta membuang sampah pada tempat yang disediakan.

Menurut Fauzi, imbauan tersebut penting karena pengunjung datang dengan tujuan yang berbeda. Ada yang sekadar berenang dan berekreasi, tetapi ada pula yang datang karena memiliki keyakinan atau tujuan spiritual tertentu.

"Kami selalu mengingatkan pengunjung untuk menjaga norma kesopanan di lokasi, tidak berkata-kata kotor, tidak membuat kotor lingkungan, membuang sampah pada tempatnya. Kami hidup berdampingan dengan alam dan yang lain, sehingga biar semua sama-sama nyaman," tuturnya.

Fauzi menilai sejauh ini aktivitas pengunjung berjalan dengan baik. Sebagian besar wisatawan memahami bahwa Umbul Ngabean bukan sekadar tempat untuk melakukan aktivitas fisik, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang dihormati masyarakat.

"Pengunjung yang datang di Umbul Ngabean mengetahui kalau memang Umbul Ngabean itu peninggalan zaman lampau. Sehingga memang menghormati itu bukan sekadar kegiatan fisik saja, tapi juga batin masing-masing orang," imbuhnya.

Air Jernih Jadi Daya Tarik

Di luar cerita sejarah dan tradisi, daya tarik utama Umbul Ngabean tetap berasal dari mata airnya. Air yang jernih dan terus mengalir membuat kolam terasa segar, sekaligus menjadi alasan wisatawan datang untuk berenang.

Syafrizul, salah seorang pengunjung, mengatakan kondisi air dan suasana kawasan menjadi keunggulan Umbul Ngabean.

"Dilihat airnya bersih, airnya ngalir. Kalau lokasi ya nyaman, penjaganya ramah, pedagangnya ramah," ujarnya.

Syafrizul mengaku belum pernah menyaksikan langsung aktivitas ritual yang dilakukan pada malam hari. Ia biasanya berkunjung pada siang hingga menjelang malam.

Meski demikian, ia mengetahui adanya aktivitas tersebut dari informasi yang diperolehnya.

"Kalau untuk ritual saya belum begitu paham karena saya datangnya siang, sore menjelang malam. Dulu saya juga pernah tanya kalau tempatnya kalau malam ada orang, katanya iya. Setiap malam ada ritual, tapi saya sampai saat ini belum pernah melihat dan mengalami," katanya.

Umbul Ngabean akhirnya menjadi ruang yang mempertemukan tiga wajah sekaligus: wisata, sejarah, dan tradisi. Kolam pemandian yang dialiri mata air alami itu bukan hanya menawarkan kesegaran, tetapi juga menyimpan cerita masa lalu dan kepercayaan yang masih hidup di tengah masyarakat.

Di tengah perkembangan kawasan wisata, keberadaan tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas Umbul Ngabean yang perlu dijaga dengan sikap saling menghormati, kebersihan, dan pelestarian nilai sejarahnya. (rara belva zain carissa)

Editor : Kabun Triyatno
wisata umbul ngabean keraton kasunanan surakarta mata air ritual