SOOBALAPAN.COM - Di kaki Pegunungan Himalaya, India memiliki sebuah jalur kereta api yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga menjadi bagian penting dari sejarah dunia.
Jalur tersebut adalah Darjeeling Himalayan Railway (DHR), kereta pegunungan yang telah beroperasi selama lebih dari 140 tahun dan hingga kini masih menggunakan lokomotif uap pada layanan tertentu.
Keunikan jalur ini membuat UNESCO menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) pada tahun 1999.
Baca Juga: Bukan Sekadar Cepat, Ini Rahasia Shinkansen Jepang Jadi Kereta Paling Tepat Waktu di Dunia
Darjeeling Himalayan Railway menjadi jalur kereta pegunungan pertama di dunia yang memperoleh pengakuan tersebut, sekaligus menjadi bagian dari kelompok Mountain Railways of India bersama Nilgiri Mountain Railway dan Kalka–Shimla Railway.
Dibangun pada Masa Pemerintahan Inggris
Sejarah Darjeeling Himalayan Railway bermula pada akhir abad ke-19. Saat itu, Darjeeling berkembang menjadi kawasan perkebunan teh sekaligus tempat peristirahatan favorit pejabat kolonial Inggris karena udaranya yang sejuk.
Baca Juga: Mengenal Doctor Yellow, Kereta Inspeksi Legendaris Shinkansen Jepang
Namun, perjalanan menuju Darjeeling tidaklah mudah. Wilayah tersebut berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, sementara akses transportasi masih sangat terbatas.
Untuk mengatasi masalah tersebut, insinyur Franklin Prestage mengusulkan pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan New Jalpaiguri (dahulu Siliguri) dengan Darjeeling. Pembangunan dimulai pada 1879 dan jalur ini resmi dibuka secara bertahap hingga selesai pada 1881.
Sejak saat itu, Darjeeling Himalayan Railway menjadi penghubung utama bagi penumpang, hasil perkebunan teh, serta berbagai kebutuhan logistik menuju wilayah pegunungan.
Jalur Sempit dengan Tantangan Besar
Salah satu keunikan Darjeeling Himalayan Railway adalah penggunaan rel sempit (narrow gauge) dengan lebar hanya 610 milimeter (2 kaki).
Meski memiliki ukuran rel yang kecil, jalur ini membentang sekitar 88 kilometer dari New Jalpaiguri menuju Darjeeling. Dalam perjalanan tersebut, kereta harus mendaki dari ketinggian sekitar 100 meter hingga lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.
Untuk mengatasi tanjakan yang curam tanpa menggunakan sistem rel bergerigi (rack railway), para insinyur merancang berbagai loop (lintasan melingkar) dan zigzag (reverses). Desain ini memungkinkan kereta memperoleh ketinggian secara bertahap sambil tetap menjaga keselamatan perjalanan.
Batasia Loop, Ikon Jalur Darjeeling
Salah satu bagian paling terkenal dari jalur ini adalah Batasia Loop, sebuah lintasan melingkar yang berada tidak jauh dari Kota Darjeeling.
Di lokasi ini, rel dibuat membentuk lingkaran penuh sehingga kereta dapat menambah ketinggian tanpa tanjakan yang terlalu curam. Dari Batasia Loop, penumpang juga dapat menikmati panorama Gunung Kanchenjunga, gunung tertinggi ketiga di dunia, ketika cuaca sedang cerah.
Selain menjadi solusi teknik yang cerdas, Batasia Loop kini menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi wisatawan yang datang ke Darjeeling.
Lokomotif Uap yang Masih Beroperasi
Meskipun teknologi perkeretaapian terus berkembang, Darjeeling Himalayan Railway masih mempertahankan sejumlah lokomotif uap kelas B yang diproduksi sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Lokomotif-lokomotif tersebut masih digunakan untuk layanan wisata (joy ride) antara Darjeeling dan Ghum, memberikan pengalaman autentik bagi wisatawan yang ingin merasakan perjalanan kereta klasik di tengah pegunungan Himalaya.
Selain lokomotif uap, beberapa layanan reguler kini juga menggunakan lokomotif diesel untuk mendukung operasional sehari-hari.
Ghum, Stasiun Tertinggi di India
Di sepanjang perjalanan, kereta melewati Stasiun Ghum, yang berada pada ketinggian sekitar 2.258 meter di atas permukaan laut.
Ghum dikenal sebagai salah satu stasiun kereta api tertinggi di India yang masih aktif melayani perjalanan reguler. Di kawasan stasiun juga terdapat Darjeeling Himalayan Railway Museum, yang menampilkan sejarah pembangunan jalur, koleksi foto lama, serta lokomotif bersejarah.
Diakui Sebagai Warisan Dunia
Pada tahun 1999, UNESCO menetapkan Darjeeling Himalayan Railway sebagai World Heritage Site karena dinilai sebagai contoh luar biasa keberhasilan rekayasa teknik pada abad ke-19.
UNESCO menilai jalur ini mampu beradaptasi dengan kondisi geografis pegunungan yang sangat sulit tanpa menghilangkan nilai sejarah maupun fungsi transportasinya. Hingga kini, jalur tersebut masih beroperasi dan menjadi salah satu contoh terbaik pelestarian warisan industri perkeretaapian dunia.
Baca Juga: Mengenal Kereta Pembangkit dan Fungsinya dalam Perjalanan Kereta Api
Menjadi Daya Tarik Wisata Dunia
Saat ini, Darjeeling Himalayan Railway tidak hanya dimanfaatkan sebagai moda transportasi, tetapi juga menjadi destinasi wisata yang terkenal di dunia.
Wisatawan datang untuk menikmati perjalanan menggunakan kereta uap, menyaksikan pemandangan perkebunan teh, melintasi kawasan pegunungan, hingga mengabadikan momen ketika kereta melewati jalan-jalan sempit yang berdampingan langsung dengan permukiman warga.
Keunikan tersebut membuat Darjeeling Himalayan Railway sering dijuluki sebagai "Toy Train", sebutan yang mengacu pada ukuran keretanya yang lebih kecil dibandingkan kereta api biasa.
Warisan Berharga Dunia Perkeretaapian
Lebih dari satu abad setelah pertama kali beroperasi, Darjeeling Himalayan Railway tetap menjadi bukti bahwa teknologi sederhana dapat menghadirkan solusi luar biasa bagi kondisi alam yang menantang.
Dengan perpaduan sejarah, teknik konstruksi, dan panorama alam Himalaya yang memukau, jalur ini tidak hanya menjadi kebanggaan India, tetapi juga salah satu warisan perkeretaapian paling berharga di dunia. (luthfiana sekar)
Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber