Kuliner Jadul Legondo, Jajanan Tradisional yang Kian Sulit Ditemui di Pasar Tradisional

Rastri Rafiarum • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 14:07 WIB
Legondo, jajanan pasar yang mulai jarang ditemui.
Legondo, jajanan pasar yang mulai jarang ditemui.

SOLOBALAPAN.COM - Di balik beragam jajanan tradisional yang masih bertahan di pasar-pasar Wonogiri, legondo menjadi salah satu kudapan yang kini semakin jarang dijumpai.

Terbuat dari ketan dan kelapa parut, makanan bercita rasa gurih ini memiliki ciri khas pada bungkusnya yang menggunakan janur atau daun kelapa muda berbentuk tabung. Cara menikmatinya pun berbeda. Bungkus dibuka dengan cara diputar dari bagian atas sebelum ketan di dalamnya terlihat keluar sedikit demi sedikit.

Di balik bungkus janurnya yang khas, legondo menyimpan makna yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nama legondo diyakini berakar dari ungkapan Jawa "lego ning dodo", yang melambangkan hati yang lapang dan penuh keikhlasan.

Sebagian masyarakat juga mengaitkannya dengan "lego ning kondo", yaitu rasa lega yang lahir dari sebuah percakapan. Tak heran jika dahulu legondo kerap dihidangkan saat menerima tamu sebagai teman berbincang. Kehadirannya bukan sekadar mengenyangkan, tetapi juga menjadi pengikat keakraban dalam setiap pertemuan

Legondo sendiri telah lama menjadi bagian dari jajanan tradisional masyarakat Jawa. Dahulu, makanan ini mudah ditemui di pasar tradisional maupun dibawa pedagang sayur keliling. Selain menggunakan bahan-bahan sederhana, pembungkus dari janur memberikan aroma khas sekaligus menjadi identitas yang membedakannya dari jajanan tradisional lainnya.

Pembuatan legondo diawali dengan mengukus beras ketan hingga matang, kemudian dipadukan dengan kelapa parut yang telah dibumbui sehingga menghasilkan cita rasa gurih. Adonan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam gulungan janur dan dikukus kembali hingga matang. Aroma khas dari daun kelapa muda itulah yang menjadi salah satu daya tarik legondo.

Salah seorang penjual legondo, Sumiyem, masih mempertahankan jajanan tradisional tersebut meski jumlah pembelinya terus berkurang. Dalam sehari, ia hanya mengolah sekitar dua kilogram ketan untuk dijadikan legondo.

"Sekarang sehari paling cuma dua kilogram ketan. Peminatnya sudah tidak banyak," ujarnya.

Menurut Sumiyem, sebagian besar pembeli berasal dari kalangan ibu-ibu dan orang tua yang telah mengenal legondo sejak lama. Sementara itu, anak-anak dan remaja kini hampir tidak pernah mencarinya.

"Yang beli biasanya ibu-ibu atau orang-orang yang sudah tua. Kalau anak-anak sekarang jarang sekali yang mencari," katanya.

Meski demikian, ia tetap mempertahankan harga legondo sebesar Rp1.000 per bungkus agar tetap terjangkau. Untuk memasarkannya, Sumiyem mengandalkan pasar tradisional, menitipkan dagangan di warung-warung kecil, serta melalui pedagang sayur keliling yang masih berkeliling dari kampung ke kampung.

Bagi Sumiyem, mempertahankan legondo bukan semata-mata soal berjualan. Di balik setiap bungkus janur yang ia buat, tersimpan cita rasa sekaligus warisan budaya yang telah menemani kehidupan masyarakat selama puluhan tahun. Ia berharap makanan tradisional ini tetap dikenal oleh generasi muda sehingga filosofi "lego ning dodo" tidak hanya menjadi cerita, tetapi juga terus hidup melalui kuliner khas daerah. (MG4/an)

 

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com
jajanan pasar legondo tradisional makanan kuliner