Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Pameran Fotografi ISI Surakarta Pajang Teknik Cetak Klasik Abad ke-19

tim solobalapan • Jumat, 12 Juni 2026 | 11:23 WIB
Pameran Fotografi ISI Surakarta (Luthfiana Sekar/solobalapan.com)
Pameran Fotografi ISI Surakarta (Luthfiana Sekar/solobalapan.com)

 

SOLOBALAPAN.COM - Puluhan karya fotografi memenuhi lobi Teater Besar ISI Surakarta dalam pameran yang digelar mahasiswa semester enam Program Studi Fotografi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
 
Pameran yang berlangsung pada 10–14 Juni 2026 tersebut menjadi bagian dari Ujian Akhir Semester (UAS) sekaligus ruang apresiasi bagi mahasiswa untuk menampilkan hasil proses kreatif mereka kepada publik.
 
Berbeda dengan pameran pada umumnya yang mengangkat satu tema besar, pameran kali ini justru memberikan kebebasan kepada para mahasiswa untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, hingga perasaan mereka melalui medium fotografi.
 
Setiap karya lahir dari sudut pandang yang berbeda sehingga menghasilkan beragam cerita yang dapat dinikmati pengunjung.
 
Salah satu panitia, Subas, menjelaskan bahwa pameran ini tidak memiliki tema khusus. Seluruh peserta diberikan ruang untuk mengekspresikan ide dan pemikirannya masing-masing melalui karya yang mereka tampilkan.
 
"Setiap karya merupakan hasil pencurahan hati dan pikiran mahasiswa. Karena itu setiap foto memiliki cerita dan makna yang berbeda-beda," ujarnya.
 
Sebanyak lebih dari 80 mahasiswa terlibat dalam kegiatan tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 60 karya dipilih untuk dipamerkan kepada publik selama lima hari pelaksanaan pameran.
 
Berbagai teknik fotografi ditampilkan, mulai dari fotografi dokumenter, human interest, hingga karya-karya konseptual yang bersifat personal.
 
Menariknya, sejumlah karya menggunakan teknik cyanotype, yaitu metode cetak fotografi yang menghasilkan warna biru khas.
 
Teknik fotografi alternatif yang telah dikenal sejak abad ke-19 tersebut memberikan tampilan visual yang berbeda dibandingkan cetakan fotografi modern.
 
Penggunaan cyanotype menjadi salah satu daya tarik tersendiri dalam pameran karena menunjukkan eksplorasi mahasiswa terhadap berbagai teknik fotografi.
Baca Juga: Kembaran Suzuki Karimun Terbaru Muncul di Jepang, Bentuk Kalcer Pakai Pintu Geser
 
Keberagaman teknik dan tema membuat setiap karya memiliki karakter masing-masing. Tidak sedikit karya yang lahir dari pengalaman pribadi pembuatnya, sementara karya lainnya berangkat dari pengamatan terhadap lingkungan sekitar maupun fenomena sosial yang mereka temui sehari-hari.
 
Salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung berjudul "Keindahan Seperti Apa?" karya Bina Budi Wiyono.
 
Karya berbentuk kolase digital tersebut menampilkan susunan berbagai jenis bunga yang disusun secara simetris dan harmonis.
 
Sekilas tampilannya terlihat indah dan teratur, namun di balik visual tersebut tersimpan pertanyaan yang lebih mendalam mengenai cara manusia memaknai keindahan.
 
Melalui karya tersebut, Bina mengajak pengunjung merenungkan apakah keindahan yang selama ini dinikmati merupakan keindahan yang hadir secara alami atau justru keindahan yang telah direkonstruksi oleh manusia.
 
Susunan bunga yang tampak rapi dan seimbang menjadi simbol bagaimana manusia sering kali membentuk standar keindahan berdasarkan keteraturan, keseimbangan warna, dan komposisi visual tertentu.
 
Pertanyaan yang diangkat dalam karya itu menunjukkan bahwa fotografi tidak hanya berfungsi sebagai media untuk merekam objek, tetapi juga dapat menjadi sarana refleksi dan kritik terhadap cara pandang manusia terhadap dunia di sekitarnya.
 
Bagi mahasiswa semester enam, pameran ini memiliki makna yang lebih dari sekadar ruang memamerkan hasil karya.
 
Kegiatan tersebut menjadi salah satu pameran terakhir yang mereka jalani pada semester enam sekaligus bagian dari proses evaluasi akademik selama menempuh pendidikan di Program Studi Fotografi ISI Surakarta.
 
Melalui pameran ini, mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan foto yang baik secara teknis, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan yang kuat kepada audiens.
Baca Juga: Kecelakaan Maut di Ring Road Utara Sragen, Pengendara Motor Tewas Usai Ditabrak Truk Fuso
 
Setiap karya diharapkan dapat menjadi medium komunikasi antara fotografer dan pengunjung yang datang melihat pameran di lobi Teater Besar ISI Surakarta.
 
Meski beberapa karya memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, seluruh karya dalam pameran ini hanya ditampilkan untuk kebutuhan pameran dan penilaian akademik. Salah satu karya dengan nilai tertinggi bahkan diperkirakan mencapai sekitar Rp1,5 juta dalam bentuk cetak atau printing.
 
Menurut Zikri, yang merupakan salah satu peserta pameran, pameran ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan hasil proses belajar yang telah mereka jalani selama beberapa semester. 
 
Selain menjadi ruang apresiasi karya, pameran juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk melihat beragam perspektif yang dimiliki teman-teman satu angkatan.
 
Melalui puluhan karya yang dipajang di lobi Teater Besar ISI Surakarta, para mahasiswa membuktikan bahwa fotografi tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk merekam gambar. Lebih dari itu, fotografi dapat menjadi media untuk menyampaikan cerita, merekam pengalaman, serta menuangkan perasaan dan pemikiran ke dalam sebuah karya visual.
 
Setiap foto yang dipamerkan mungkin menampilkan objek yang berbeda. Namun seluruhnya memiliki satu kesamaan, yakni menjadi ruang bagi para mahasiswa untuk bercerita melalui bahasa yang tidak selalu membutuhkan kata-kata.
 
Melalui pameran yang berlangsung hingga 14 Juni 2026 ini, mahasiswa fotografi ISI Surakarta menunjukkan bahwa sebuah foto tidak hanya menyimpan gambar, tetapi juga menyimpan cerita, pengalaman, dan cara pandang yang berbeda dari setiap pembuatnya. (lut) 
Editor : Laila Zakiya
#pameran foto #isi surakarta