SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah menjamurnya coffee shop dan berbagai minuman kekinian, Es Kapal masih mampu mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu kuliner legendaris khas Solo.
Minuman tradisional yang identik dengan gerobak berbentuk kapal ini tetap menjadi favorit masyarakat, terutama di kawasan Taman Sriwedari.
Bagi warga Solo, Es Kapal bukan sekadar pelepas dahaga. Minuman ini juga menyimpan nilai nostalgia yang membuatnya terus dicari lintas generasi.
Baca Juga: MotoGP Mugello 2026: Bezzecchi Tak Terbendung, Marc Marquez Belum Maksimal
Salah satu penjual Es Kapal di kawasan Sriwedari, Gilang, mengatakan dirinya telah berjualan selama sekitar lima hingga enam tahun. Selama itu pula ia merasakan antusiasme pelanggan yang tetap tinggi meskipun tren minuman terus berubah.
“Kalau jualan baru sekitar lima sampai enam tahun,” ujarnya saat ditemui.
Cita Rasa Khas dari Santan dan Tape Singkong
Berbeda dengan minuman modern yang banyak mengandalkan susu, kopi, atau topping kekinian, Es Kapal memiliki resep sederhana yang menjadi kekuatannya.
Menurut Gilang, bahan utama minuman ini berasal dari santan kelapa yang dipadukan dengan tape singkong. Perpaduan tersebut menghasilkan rasa khas yang manis, segar, dan sedikit asam.
“Bahan pokoknya santan dari kelapa sama tape singkong,” katanya.
Keunikan rasa itulah yang membuat Es Kapal tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Solo.
Tidak Ada Franchise, Semua Dikelola Mandiri
Meski memiliki ciri khas gerobak berbentuk kapal yang seragam, Es Kapal bukanlah usaha waralaba atau franchise. Setiap pedagang menjalankan usahanya secara mandiri.
“Tidak ada franchise, ini sendiri-sendiri,” jelas Gilang.
Nama Es Kapal sendiri berasal dari bentuk gerobaknya yang menyerupai kapal. Sejak puluhan tahun lalu, minuman ini telah menjadi bagian dari identitas kuliner kawasan Sriwedari.
“Orang tahunya Es Kapal itu ya di Sriwedari,” tambahnya.
Varian Rasa Bertambah, Cokelat Tetap Favorit
Untuk mengikuti selera konsumen, para pedagang kini menghadirkan berbagai pilihan rasa. Selain varian original, tersedia pula rasa stroberi, moka, melon, anggur, hingga cocopandan.
Meski demikian, rasa cokelat masih menjadi pilihan utama pelanggan.
“Best seller-nya tetap cokelat,” ujarnya.
Harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau, mulai Rp5 ribu per porsi, menjadikannya pilihan minuman yang ramah di kantong.
Daya Tarik Nostalgia
Salah satu pembeli, Dinda (21), mengaku masih rutin membeli Es Kapal karena cita rasanya yang khas dan mengingatkannya pada masa kecil.
“Rasanya beda sama minuman sekarang. Lebih sederhana tapi malah bikin nagih,” katanya.
Menurutnya, berkunjung ke Sriwedari terasa belum lengkap tanpa menikmati segelas Es Kapal.
“Kalau ke Sriwedari rasanya kurang lengkap kalau belum beli Es Kapal,” tambahnya.
Tetap Eksis di Tengah Persaingan Kuliner Modern
Gilang mengungkapkan sebagian besar pengunjung yang datang memang sengaja mencari Es Kapal. Sisanya memanfaatkan kawasan Sriwedari sebagai tempat bersantai.
“Sekitar 60 persen memang cari es, sisanya nongkrong,” jelasnya.
Mayoritas pembeli berasal dari warga Solo dan sekitarnya. Sementara wisatawan luar kota masih banyak yang belum mengenal minuman khas tersebut.
Meski demikian, Es Kapal tetap membuktikan diri sebagai salah satu kuliner tradisional yang mampu bertahan di tengah perubahan tren.
Dengan cita rasa autentik, harga terjangkau, dan nilai nostalgia yang kuat, minuman legendaris ini terus menjadi bagian dari identitas kuliner Kota Solo dan tetap dicari hingga sekarang. (Lutfiana Sekar/AN)
Editor : Andi Aris Widiyanto