Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Festival Rasa di Jantung Budaya, Mangkunegaran Makan-Makan Jadi Magnet Warga Solo

Andi Aris Widiyanto • Jumat, 1 Mei 2026 | 20:18 WIB
Festival Mangkunegaran Makan-Makan meramaikan Adeging Mangkunegaran ke-269, digelar selama 3 hari. (Lutfiana Sekar/solobalapan.com)
Festival Mangkunegaran Makan-Makan meramaikan Adeging Mangkunegaran ke-269, digelar selama 3 hari. (Lutfiana Sekar/solobalapan.com)Ratusan tenan

SOLOBALAPAN.CPOM - Langit sore perlahan meredup di halaman Pura Mangkunegaran. Lampu-lampu temaram mulai menyala, memantul di antara kerumunan pengunjung yang hilir mudik.

Aroma makanan menyeruak dari berbagai sudut, berpadu dengan tawa dan percakapan yang menghangatkan suasana. Di sinilah “Mangkunegaran Makan-Makan” hadir—bukan sekadar festival kuliner, melainkan perayaan rasa, ruang, dan kebersamaan.

Event ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Adeging Mangkunegaran ke-269 yang digelar selama tiga hari, 1 hingga 3 Mei 2026.

Baca Juga: BEM Soloraya Turun ke Jalan di Tugu Kartasura, Soroti Upah Buruh hingga Nasib Guru Honorer

Ratusan tenant memadati kawasan, menawarkan lebih dari sekadar makanan—ada cerita, kreativitas, hingga denyut ekonomi lokal yang terasa begitu dekat.

Di satu sisi, pengunjung bisa menikmati jajanan tradisional yang sarat nostalgia. Di sisi lain, deretan kuliner kekinian dengan tampilan menggoda siap memanjakan lidah generasi muda. Semua berpadu dalam satu ruang, tanpa sekat, tanpa jarak.

Tak jauh dari deretan kuliner, merchandise corner menjadi magnet tersendiri. Kaos, aksesori, hingga produk-produk brand lokal tersusun rapi, seolah mengajak pengunjung untuk tidak sekadar datang dan pulang, tetapi juga membawa pulang cerita. Di antara lapak-lapak itu, tampak geliat pelaku usaha kecil yang mendapatkan panggungnya.

Lebih dari itu, “Mangkunegaran Makan-Makan” juga menjadi ruang temu berbagai komunitas. Komunitas seni, kreatif, hingga lifestyle hadir dengan warna masing-masing, menambah lapisan pengalaman bagi siapa saja yang datang.

Suasana terasa cair—orang asing bisa saling sapa, komunitas bisa saling kenal, dan ruang budaya berubah menjadi ruang sosial yang hidup.

Baca Juga: Skenario Promosi Liga 2: PSS Sleman Unggul Selisih Gol, Persipura Siap Mengintai di Menit Akhir

Rina (24), salah satu pengunjung, mengaku datang bukan hanya untuk berburu makanan. Baginya, suasana menjadi alasan utama.

“Tempatnya beda. Ini kawasan budaya tapi isinya lengkap. Jadi bisa makan, jalan-jalan, sekalian lihat brand lokal. Rasanya nggak bosen,” ujarnya sambil tersenyum.

Memasuki malam, keramaian justru mencapai puncaknya. Langkah-langkah pengunjung semakin padat, antrean di beberapa tenant mengular, dan tawa semakin sering terdengar.

Mangkunegaran malam itu bukan hanya tempat, melainkan pengalaman yang dirasakan bersama.

Di balik hiruk pikuk itu, ada makna yang lebih dalam. Festival ini menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas—antara nilai budaya yang dijaga dan gaya hidup yang terus berkembang.

Baca Juga: Retribusi PKL Karanganyar Disorot: Dari Karcis Hilang hingga Dugaan Aliran Dana Tak Transparan

Mangkunegaran tidak hanya berdiri sebagai simbol sejarah, tetapi juga sebagai ruang yang terus beradaptasi.

“Mangkunegaran Makan-Makan” pada akhirnya bukan hanya soal kuliner. Ia adalah tentang bagaimana sebuah kawasan budaya tetap hidup—dengan cara yang relevan, inklusif, dan dekat dengan generasi hari ini. (Lutfiana Sekar/AN)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#adeging mangkunegaran #mangkunegaran makan-makan #tenant di mangkunegaran #stand kuliner #komunitas seni