SOLOBALAPAN.COM - Minum teh biasanya cukup dengan menyeduh teh menggunakan air panas dan menambahkan gula. Namun, di Keraton Yogyakarta, menyajikan teh punya tata cara tersendiri. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Patehan.
Patehan merupakan tradisi penyajian teh yang dilakukan oleh Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Tradisi ini tidak hanya soal menyajikan minuman, tetapi juga menunjukkan tata krama, keteraturan dan penghormatan yang sudah dijaga secara turun-temurun.
Baca Juga: Reaksi Santai Wapres Gibran Soal Putusan MK: Kalau Nggak Lulus SMA, Nggak Mungkin Bisa Kuliah!
Nama Patehan berasal dari kata “teh” yang menjadi bagian utama dalam tradisi ini. Seiring waktu, Patehan juga digunakan untuk menyebut tempat dan kelompok Abdi Dalem yang bertugas menyiapkan minuman di lingkungan keraton.
Dalam prosesnya, teh tidak dibuat dan disajikan secara sembarangan. Ada perlengkapan, takaran dan urutan yang harus diperhatikan. Abdi Dalem menjalankan setiap proses dengan tenang dan teratur sebelum teh disajikan.
Cara tersebut menjadi bagian dari nilai budaya Jawa. Patehan mencerminkan sikap menghormati orang lain, menjaga ketenangan dan memperhatikan setiap proses. Nilai olah rasa juga terlihat dari bagaimana Abdi Dalem dituntut untuk teliti saat menyiapkan sajian.
Baca Juga: Buntut Putusan MK Soal Ijazah Gibran, Mulai Ada Laporan ke Bareskrim Polri!
Selain itu, patehan bisa dimaknai sebagai bentuk rasa syukur melalui sesuatu yang sederhana. Secangkir teh tidak hanya dinikmati sebagai minuman, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi dan tata kehidupan di lingkungan keraton.
Tradisi Patehan kemudian dikenalkan kepada masyarakat melalui program Ambarrukmo Atisomya dari Royal Ambarrukmo Yogyakarta. Patehan diadaptasi menjadi pengalaman budaya yang dapat disaksikan dan dirasakan langsung oleh para tamu.
Melalui program tersebut, tamu bisa melihat proses penyajian teh yang terinspirasi dari tradisi Keraton Yogyakarta. Jadi, Patehan tidak hanya hadir sebagai pertunjukan, tetapi juga menjadi cara untuk mengenalkan nilai budaya yang ada di balik secangkir teh.
Patehan menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu hadir dalam bentuk upacara besar. Dari cara menyajikan teh saja, ada tata krama, keteraturan dan penghormatan yang terus dijaga dari generasi ke generasi.(Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber