Tahlilan dan Akulturasi Budaya, Perkembangan Tradisi Nusantara dalam Islam

tim solobalapan • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 19:20 WIB
Tahlilan, tradisi berkumpul dan mendoakan orang yang telah meninggal.(Jagad.budaya)
Tahlilan, tradisi berkumpul dan mendoakan orang yang telah meninggal.

SOLOBALAPAN.COM - Ketika ada orang meninggal, masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia memiliki tradisi berkumpul untuk mendoakan orang yang telah berpulang. Di Jawa, salah satu tradisi yang masih dikenal hingga sekarang adalah tahlilan.

Dalam pelaksanaannya, warga biasanya berkumpul di rumah keluarga yang sedang berduka. Tahlil, dzikir, pembacaan ayat Al-Qur’an, dan doa menjadi bagian dari kegiatan tersebut.

Baca Juga: Bikin Konten Tak Senonoh Berkedok 'A Day In My Life', Dua Pria Gay di Bogor Diringkus Polisi

Namun, kebiasaan berkumpul pada peristiwa kematian bukan tradisi yang baru muncul setelah Islam datang. Masyarakat Nusantara sejak masa lalu telah mengenal berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kematian, penghormatan terhadap leluhur, dan kebersamaan.

Kelompok masyarakat Austronesia yang menjadi bagian dari sejarah penduduk Nusantara juga memiliki beragam tradisi komunal. Bentuknya berbeda-beda, tetapi kegiatan bersama dalam berbagai ritual menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Di Jawa, tradisi berkumpul dan berdoa kemudian dikenal sebagai slametan. Kegiatan ini dilakukan dalam berbagai peristiwa kehidupan, termasuk ketika ada anggota keluarga yang meninggal, dan biasanya disertai hidangan untuk orang yang hadir.

Ketika Islam berkembang di Jawa, kebiasaan yang sudah hidup di tengah masyarakat tersebut kemudian bertemu dengan ajaran Islam. Bentuk perkumpulannya tetap dikenal, tetapi bacaan dan doa yang digunakan mengandung unsur keislaman.

Baca Juga: Isu Reshuffle Kabinet Memanas usai OTT KPK di Kementerian ATR/BPN! Nasib Menteri Nusron Wahid di Ujung Tanduk?

Tahlil, dzikir, pembacaan Al-Qur’an, dan doa untuk orang yang meninggal menjadi bagian dari kegiatan. Proses pertemuan antara ajaran Islam dan tradisi setempat inilah yang membuat tahlilan kerap dibahas sebagai salah satu bentuk akulturasi budaya dan agama.

Perkembangan Islam di Jawa sendiri berlangsung di tengah masyarakat yang telah memiliki kebudayaan dan kebiasaan sebelumnya. Pendekatan melalui kehidupan sosial dan budaya menjadi salah satu bagian dari proses penyebaran Islam di wilayah tersebut.

Jejak tradisi yang berkaitan dengan kematian juga telah ditemukan dalam kehidupan masyarakat Jawa sebelum masa Islam. Hal ini menunjukkan bahwa praktik sosial dalam menghadapi kematian sudah memiliki sejarah yang lebih panjang.

Baca Juga: Buntut Insiden Penutupan GKPI Tangerang Oleh Pemuda Pembawa Sajam, Kemenag Turun Tangan Minta Utamakan Dialog

Meski begitu, tahlilan tidak bisa begitu saja disebut sebagai tradisi yang berasal langsung dari masyarakat Austronesia. Austronesia lebih tepat ditempatkan sebagai konteks sejarah masyarakat Nusantara yang sejak lama memiliki beragam tradisi komunal.

Yang kemudian berkembang adalah pertemuan antara kebiasaan lokal dengan ajaran Islam. Tradisi berkumpul tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, sementara isi kegiatannya mendapat pengaruh dari praktik keagamaan Islam.

Hingga sekarang, tahlilan masih dilakukan oleh sebagian masyarakat, terutama ketika ada keluarga yang sedang berduka. Selain menjadi kegiatan untuk mendoakan orang yang meninggal, pertemuan tersebut juga menjadi ruang bagi tetangga dan kerabat untuk hadir memberikan dukungan.

Baca Juga: Tuai Gelombang Kritik Soal Video Mindfulness 'Diet Berita', Maudy Ayunda Akhirnya Minta Maaf Secara Terbuka

Orang-orang duduk bersama, mengikuti doa, lalu menikmati hidangan yang disediakan keluarga. Kebiasaan sederhana itu membuat tahlilan tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi juga dengan hubungan sosial di lingkungan masyarakat.

Pelaksanaannya pun dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Waktu pelaksanaan, jumlah pertemuan, hingga hidangan yang disajikan mengikuti kebiasaan masyarakat masing-masing.

Dari perjalanan tersebut, tahlilan memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat berkembang ketika bertemu dengan agama yang datang kemudian. Unsur Islam hadir melalui bacaan dan doa, sementara bentuk kebersamaannya tumbuh dalam lingkungan budaya masyarakat setempat.

Baca Juga: Mirip Sepak Bola tapi Dimainkan di Meja, Ternyata Olahraga Ini Sudah Masuk Asian Games 2026

Karena itu, tahlilan memiliki perjalanan yang lebih panjang daripada sekadar kegiatan membaca tahlil setelah seseorang meninggal. Di dalamnya terdapat jejak pertemuan antara kehidupan sosial masyarakat Nusantara dan perkembangan Islam.

Tradisi itu pun masih bertahan hingga sekarang. Dari rumah ke rumah, orang-orang tetap berkumpul ketika ada keluarga yang meninggal, menjadikan doa dan kebersamaan sebagai bagian dari cara masyarakat.(Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra akulturasi budaya budaya jawa Tradisi Jawa tahlilan