SOLOBALAPAN.COM - Dari luar, bangunan di Jalan Sugiyopranoto, Solo, ini mungkin terlihat seperti hotel bergaya Jawa pada umumnya. Namun, siapa sangka, sebelum menjadi tempat menginap, bangunan tersebut merupakan kediaman seorang pangeran Keraton Kasunanan Surakarta dan bahkan pernah digunakan sebagai kampus.
Bangunan itu adalah Ndalem Kusumoyudan, yang kini menjadi bagian dari Kusuma Sahid Prince Hotel. Di balik fungsi hotelnya, bangunan ini menyimpan perjalanan panjang yang mempertemukan sejarah keluarga keraton, dunia pendidikan, hingga perkembangan pariwisata Kota Solo.
Ndalem Kusumoyudan berkaitan dengan sosok Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kusumoyudo III, salah satu putra Paku Buwono X.
Menurut keterangan yang dihimpun RRI dari pihak keluarga keraton, bangunan tersebut dibangun sekitar 1909 oleh Kanjeng Pangeran Hadiwijoyo. Kompleksnya memiliki luas sekitar 2 hektare, cukup luas untuk menjadi tempat tinggal seorang pangeran beserta keluarga besarnya.
Arsitekturnya pun tidak sepenuhnya mengikuti satu gaya. Bangunan tersebut memadukan karakter arsitektur Jawa dengan pengaruh kolonial Belanda. Jejaknya masih dapat dilihat pada tata ruang dan bangunan utama yang hingga kini menjadi bagian dari kompleks hotel.
Baca Juga: The Jakmania Beneran Boikot JIS! Kapten Persija Rizky Ridho Buka Suara: Kami Butuh Mereka
Sebagai sebuah ndalem, Kusumoyudan bukan hanya tempat tinggal. Pada masa Pangeran Kusumoyudo, kediaman ini juga kerap digunakan untuk pertemuan dan berbagai kegiatan.
Kompleks tersebut memiliki bangunan utama berupa pendapa, pringgitan, Ndalem Ageng, hingga krobongan atau petanen.
Pangeran Kusumoyudo kemudian wafat pada 1956. Setelah itu, Ndalem Kusumoyudan masih digunakan oleh putra-putri dan keluarga beliau. Namun, beberapa tahun kemudian, fungsi bangunan ini mulai berubah.
Pada 1961, ahli waris menjual Ndalem Kusumoyudan kepada PT IFCO, sebuah perusahaan yang bergerak dalam perdagangan dan perakitan sepeda serta mesin jahit.
Tidak berhenti sampai di situ, bangunan bekas kediaman pangeran tersebut kemudian memiliki fungsi yang cukup jauh berbeda dari tujuan awalnya.
Pada periode 1964 hingga 1970, Ndalem Kusumoyudan pernah digunakan sebagai kampus Universitas Cokroaminoto, salah satu perguruan tinggi swasta di Solo. Bayangkan, bangunan yang sebelumnya menjadi tempat tinggal keluarga bangsawan kemudian dipenuhi aktivitas perkuliahan dan dunia pendidikan.
Babak berikutnya dimulai pada 1970, ketika Ndalem Kusumoyudan dibeli oleh Sukamdani Sahid Gitosardjono, pendiri Sahid Group. Bangunan tersebut kemudian dikembangkan menjadi hotel sebagai bagian dari perkembangan Kota Solo sebagai kota pariwisata.
Baca Juga: Lini Serang Makin Mengerikan! Eks Arema FC Irsyad Maulana Resmi Gabung Persis Solo
Pembangunan hotel akhirnya rampung dan diresmikan pada 8 Juli 1977 dengan nama Kusuma Sahid Prince Hotel. Nama tersebut sekaligus membawa kembali identitas Pangeran Kusumoyudo dalam sebuah bangunan yang sebelumnya merupakan kediamannya.
Menariknya, perubahan menjadi hotel tidak serta-merta menghapus bentuk asli ndalem. Sejumlah bagian utama masih dipertahankan hingga sekarang. Pendapa dengan pilar-pilar putih, pringgitan, Ndalem Ageng, krobongan atau petanen, hingga bagian kamar utama masih menjadi bagian dari kompleks hotel.
Salah satu ruang yang paling menarik adalah bekas kamar Pangeran Kusumoyudo yang kini dikenal sebagai Indraloka Royal Suite. Sementara itu, salah satu gandhok di sisi bangunan utama kini digunakan sebagai Gambir Sekethi Restaurant.
Beberapa bagian lain memang telah mengalami perubahan fungsi maupun renovasi untuk menyesuaikan kebutuhan hotel.
Bahkan, Ndalem Kusumoyudan masih menyimpan cerita lain di balik salah satu ruangnya. Radar Solo pernah mengulas keberadaan bungker yang berada di dalam Indraloka Royal Suite, sehingga hotel ini bukan hanya menyimpan cerita mengenai keluarga bangsawan, tetapi juga memiliki bagian bangunan yang mengundang rasa penasaran.
Baca Juga: Buntut Kerusuhan Mencekam di Pejompongan: 315 Orang Diamankan Polisi, 1 Warga Lokal Meninggal Dunia
Kini, orang mungkin lebih mengenal tempat tersebut sebagai Kusuma Sahid Prince Hotel. Namun, jika melihat lebih dekat, bangunan itu sebenarnya masih menyimpan identitas sebagai sebuah ndalem Jawa.
Perjalanan Ndalem Kusumoyudan menjadi menarik karena bangunan ini tidak berhenti pada satu zaman. Ia pernah menjadi kediaman pangeran, kemudian menjadi kampus, sebelum akhirnya berubah menjadi hotel. Meski fungsinya berganti berkali-kali, sebagian wajah lama bangunan tetap dipertahankan.
Dari rumah seorang pangeran hingga menjadi tempat menginap para tamu, Ndalem Kusumoyudan menunjukkan bagaimana sebuah bangunan bersejarah bisa terus bertahan dengan mengikuti perubahan zaman.
Di tengah perkembangan Kota Solo, bangunan ini menjadi salah satu contoh bahwa sejarah tidak selalu tersimpan dalam museum—kadang, ia justru masih digunakan dan dilewati orang setiap hari. (Luthfiana Sekar)
Editor : Luthfiana SekarSumber : Berbagai Sumber