Ndalem Hardjonegaran, Rumah yang Menyimpan Jejak Lahirnya Batik Indonesia

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 17:32 WIB
Ndalem Hardjonegaran menyimpan cerita tentang Go Tik Swan, sosok yang punya peran penting dalam perkembangan Batik Indonesia. Dari tempat tinggal hingga ruang berkarya, ndalem ini masih menyimpan jejak seni dan budaya Jawa. (Website ; BPPD SOLO)
Ndalem Hardjonegaran menyimpan cerita tentang Go Tik Swan, sosok yang punya peran penting dalam perkembangan Batik Indonesia. Dari tempat tinggal hingga ruang berkarya, ndalem ini masih menyimpan jejak seni dan budaya Jawa. (Website ; BPPD SOLO)

SOLOBALAPAN.COM - Di Jalan Yos Sudarso, Solo, terdapat sebuah rumah yang dari luar mungkin terlihat seperti bangunan tua biasa. Namun di balik pagar tingginya, tersimpan cerita tentang salah satu tokoh penting dalam perkembangan kebudayaan Jawa dan batik Indonesia: Go Tik Swan, atau K.R.T. Hardjonagoro, yang kemudian mendapat gelar Panembahan Hardjonegara. 

Bangunan tersebut dikenal sebagai Ndalem Hardjonegaran, kediaman Go Tik Swan yang kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Tempat ini bukan hanya menyimpan jejak kehidupan sang budayawan, tetapi juga menjadi ruang tempat warisan seni dan budaya yang ia kembangkan terus dipelihara. 

Go Tik Swan sendiri merupakan sosok yang cukup unik dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Lahir dari keluarga Tionghoa di Solo pada 11 Mei 1931, ia tumbuh di lingkungan yang dekat dengan dunia batik.

Baca Juga: Tiga Tahun Berulang, Orang Tua Soroti Transparansi Seleksi Wushu Solo ke POPDA Jateng 2026

Sejak kecil, ia terbiasa melihat aktivitas para pembatik dan kemudian mengembangkan ketertarikannya terhadap kebudayaan Jawa. Di kemudian hari, ia tidak hanya dikenal sebagai pembatik, tetapi juga penari Jawa, ahli keris, serta kolektor benda-benda bersejarah. 

Salah satu karya yang membuat namanya penting dalam sejarah batik adalah “Batik Indonesia”. Karya tersebut lahir dari gagasan untuk mempertemukan karakter batik keraton Solo dan Yogyakarta dengan batik pesisir.

Dalam prosesnya, teknik sogan khas batik Vorstenlanden dipadukan dengan karakter warna-warni batik pesisir. Penelitian mengenai Ndalem Hardjonegaran menyebut bahwa proses pengembangan karya tersebut dilakukan di rumah ini. 

Gagasan tersebut juga tidak terlepas dari kedekatan Go Tik Swan dengan Presiden Soekarno. Menurut keterangan yang dikutip artikel dari pihak keluarga, pada 1955 Soekarno meminta Go Tik Swan membuat sebuah batik yang dapat merepresentasikan Indonesia. Dari sinilah kemudian lahir karya yang dikenal sebagai “Batik Indonesia”. 

Baca Juga: Geger Intelijen Ukraina Beber Data 8 WNI Diduga Gabung Tentara Rusia, Ini Komentar Menhan & Kemenlu

Menariknya, Ndalem Hardjonegaran tidak hanya menjadi tempat tinggal sekaligus ruang berkarya. Kompleks ini menyimpan berbagai aktivitas kebudayaan.

Penelitian tentang peran Ndalem Hardjonegaran mencatat keberadaan ruang gamelan, Pendapa Pugeran, bangsal pameran, los pembatikan, perpustakaan, hingga tempat pembuatan keris. Aktivitas membatik pun masih berlangsung di tempat ini. 

Ada pula koleksi benda bersejarah yang membuat Ndalem Hardjonegaran semakin menarik. Puluhan arca yang dikumpulkan Go Tik Swan semasa hidupnya masih berada di kompleks tersebut.

DetikJateng menyebut terdapat 45 arca, sementara sumber lain mencatat jumlah yang sedikit berbeda. Arca-arca tersebut berasal dari berbagai periode sejarah dan pada 1985 telah dihibahkan kepada negara, kemudian tetap dirawat di kompleks Ndalem Hardjonegaran. 

Baca Juga: Anak Muda Mulai Gemari Gowes, Ini Alasannya

Kini, Ndalem Hardjonegaran berfungsi sebagai rumah produksi seni batik sekaligus galeri artefak budaya. Masyarakat yang ingin belajar membatik maupun melihat berbagai peninggalan budaya dapat berkunjung dengan membuat janji terlebih dahulu. 

Jadi, Ndalem Hardjonegaran bukan sekadar rumah tua milik seorang tokoh. Di tempat inilah jejak pemikiran Go Tik Swan mengenai batik, seni, dan kebudayaan Jawa masih bisa ditemukan.

Dari aktivitas membatik hingga koleksi benda bersejarah, rumah ini menjadi salah satu ruang di Solo yang menyimpan cerita tentang bagaimana sebuah karya batik berusaha merangkum keberagaman budaya Indonesia. (Luthfiana Sekar)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
luthfiana sekar sejarah Ndalem Hardjonegaran solo surakarta