Mengapa Disebut Sekarpace? Sejarah Nama Simpang Ikonik di Jebres Solo

Siti Putri Lestari • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 18:40 WIB
Lampu merah atau Persimpangan Jalan Sekarpace, Jebres. (Siti Putri/Radar solo)
Persimpangan Jalan Sekarpace, Jebres. (Siti Putri/Radar solo)

SOLOBALAPAN.COM - Simpang Sekarpace merupakan salah satu simpang bersinyal yang berada di kawasan Jebres, Kota Solo, tepatnya di pertemuan Jalan Ir. Sutami. Simpang ini menjadi titik penghubung yang penting karena menghubungkan kawasan Jebres, Pucangsawit, Jurug, serta akses menuju pusat Kota Surakarta. Selain dikenal sebagai kawasan dengan aktivitas lalu lintas yang cukup tinggi, nama Sekarpace sendiri memiliki sejarah yang menarik dan menjadi bagian dari warisan budaya Kota Solo.

Sebagian besar masyarakat selama ini beranggapan bahwa nama Sekarpace berasal dari banyaknya pohon pace atau mengkudu yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut. Anggapan tersebut muncul karena kata pace dalam bahasa Jawa memang merujuk pada tanaman mengkudu. Oleh karena itu, tidak sedikit masyarakat yang meyakini bahwa nama kampung tersebut diambil dari kondisi alam yang pernah ada di wilayah tersebut.

Baca Juga: Asa Usul Kampung Ngebrusan Solo: Permukiman Kolonel-Kolonel Belanda

Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sesuai dengan fakta sejarah. Berdasarkan penuturan K.R.M.H. Notowijoyo, Staf Keparak dan Mandrabudaya Keraton Surakarta Hadiningrat, nama Sekarpace sama sekali tidak berkaitan dengan keberadaan pohon pace. Menurut beliau, asal-usul nama Sekarpace justru berasal dari seorang warga negara Prancis yang pernah tinggal di kawasan tersebut pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X.

”Dahulu pada Masa eyang buyut saya. Wilayah ini merupakan wilayah tempat tinggal seorang Paranormal asal Prancis yang di percayai Raja Pakubowono ke X. Tetapi tidak banyak orang yang mengetahui sejarah ini karena mereka hanya menganggap ini sebagai Lampu merah atau persimpangan biasa saja,” ujar Sri Hastuti, tokoh masyarakat setempat. 

Baca Juga: Jejak Akulturasi di Tepian Bengawan Solo: Kisah Kampung Sampangan dan Warga Sampang Madura

Pada masa pemerintahan Pakubuwono X (1893–1939), Keraton Surakarta memiliki hubungan yang cukup erat dengan berbagai bangsa Eropa. Hubungan yang baik tersebut membuat banyak orang asing datang ke Kota Solo dengan berbagai latar belakang profesi. Salah satu di antaranya adalah seorang warga negara Prancis bernama Monsieur Schapentier, yang dikenal sebagai seorang paranormal dan beberapa kali diundang oleh Keraton Surakarta.

Menurut K.R.M.H. Notowijoyo, Pakubuwono X memiliki ketertarikan terhadap berbagai ilmu pengetahuan, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas. Oleh sebab itu, beliau pernah mengundang sejumlah tokoh paranormal dari berbagai negara, seperti Tiongkok, India, dan Prancis. Dari sekian banyak tamu tersebut, Pakubuwono X merasa cocok berdiskusi dengan Monsieur Schapentier sehingga tokoh asal Prancis tersebut cukup sering diundang ke keraton.

Baca Juga: Ndalem Gondosuli, Rumah Bangsawan yang Menjadi Saksi Perjalanan Kampung Batik Laweyan

"Nama Sekarpace bukan karena dahulu banyak tanaman pace di kampung tersebut. Nama tersebut justru terkait dengan seseorang yang hidup pada zaman Pakubuwono X, yaitu seorang warga negara Prancis bernama Monsieur Schapentier.” Ujarnya.

Karena tempat tinggal Monsieur Schapentier berada cukup jauh dari lingkungan Keraton Surakarta, setiap kali Pakubuwono X ingin bertemu dengannya, seorang abdi dalem diperintahkan untuk menjemput atau memanggilnya. Sesuai tata cara di lingkungan keraton, setelah tamu tiba, abdi dalem harus terlebih dahulu menghadap raja untuk melaporkan bahwa tamu yang dipanggil telah datang sebelum tamu tersebut diperkenankan memasuki istana.

Baca Juga: Jejak Sejarah Kampung Kauman Pasar Legi: Tenggelam Seiring Pemindahan Masjid Al Wustho Mangkunegaran

Dalam salah satu kesempatan, terjadi peristiwa yang kemudian menjadi awal munculnya nama Sekarpace. Ketika hendak melaporkan kedatangan tamu asal Prancis tersebut, seorang abdi dalem mengalami kesulitan mengucapkan nama Monsieur Schapentier. Karena lidahnya terpeleset saat mengucapkan nama tersebut, ia justru menyebut, "Tuan Sekarpace sudah datang." Ucapan yang tidak disengaja itu kemudian terus digunakan oleh lingkungan keraton sebagai penyebutan yang lebih mudah.

Lama-kelamaan, masyarakat sekitar juga ikut menggunakan sebutan Sekarpace untuk menyebut kawasan tempat tinggal Monsieur Schapentier. Nama tersebut kemudian melekat sebagai identitas wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kampung Sekarpace, yang berada di Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Seiring perkembangan kota, nama tersebut juga digunakan untuk menyebut simpang bersinyal yang berada di kawasan tersebut, sehingga masyarakat lebih mengenalnya sebagai Lampu Merah Sekarpace.

Kisah asal-usul nama Sekarpace menunjukkan bahwa sejarah penamaan suatu wilayah tidak selalu berasal dari kondisi geografis atau vegetasi yang ada di sekitarnya. Dalam kasus ini, nama Sekarpace justru lahir dari interaksi budaya antara Keraton Surakarta dengan seorang warga negara asing yang memiliki hubungan dekat dengan Pakubuwono X. Cerita tersebut menjadi bukti bahwa perjalanan sejarah Kota Surakarta dipengaruhi oleh berbagai unsur budaya, baik lokal maupun internasional.

Hingga saat ini, Lampu Merah Sekarpace tidak hanya dikenal sebagai salah satu simpang penting dalam jaringan transportasi Kota Surakarta, tetapi juga sebagai penanda kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Di balik padatnya arus kendaraan yang melintas setiap hari, tersimpan kisah unik mengenai seorang tokoh asal Prancis bernama Monsieur Schapentier yang namanya berubah menjadi "Sekarpace" karena kesalahan pengucapan seorang abdi dalem. Kisah tersebut menjadi bagian dari kekayaan sejarah lokal Kota Surakarta yang patut dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda agar identitas budaya daerah tetap terjaga.

Editor : Kabun Triyatno
jebres sejarah asal usul solo PB X