Asal Usul Simpang Panggung Solo, Dari Pos Berburu Bangsawan Keraton hingga Simpang Tersibuk

Siti Putri Lestari • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 18:05 WIB
Lampu Merah atau Persimpangan Jalan Panggung, Jebres. (Siti Putri/Radar solo)
Lampu Merah atau Persimpangan Jalan Panggung, Jebres. (Siti Putri/Radar solo)

SOLOBALAPAN.COM - Bagi masyarakat Kota Solo, khususnya yang tinggal di kawasan Jebres, nama Lampu Merah Panggung tentu sudah sangat akrab di telinga. Simpang yang mempertemukan Jalan Brigjen Katamso, Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Monginsidi, dan Jalan Kolonel Sutarto ini merupakan salah satu titik lalu lintas yang paling sibuk di Kota Solo.

Namun, di balik padatnya kendaraan yang melintas setiap hari, tersimpan kisah sejarah yang menarik tentang asal-usul nama Panggung, sebuah nama yang telah digunakan sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam.

Pada masa sekarang, kawasan Panggung dipenuhi oleh permukiman, pertokoan, pusat pendidikan, serta aktivitas masyarakat yang tidak pernah berhenti. Akan tetapi, kondisi tersebut sangat berbeda dengan keadaan pada masa lampau. Dahulu, kawasan ini masih berupa lahan yang relatif sepi dan terbuka. Bahkan, wilayah di sebelah utara yang kini dikenal sebagai Mojosongo masih berupa hutan lebat yang menjadi habitat berbagai satwa liar.

Baca Juga: Ndalem Gondosuli, Rumah Bangsawan yang Menjadi Saksi Perjalanan Kampung Batik Laweyan

”Pada masa Keraton Kasunanan Surakarta baru berpindah dari Kartasura, kawasan Panggung menjadi tempat yang penting bagi para bangsawan untuk berburu karena dari lokasi tersebut mereka dapat mengamati hutan Mojosongo yang masih lebat,” ujar Budiman, tokoh masyarakat setempat.

Sebelum memulai perburuan, para bangsawan keraton tidak langsung memasuki kawasan hutan. Mereka terlebih dahulu berkumpul di sebuah tempat yang letaknya lebih tinggi dibandingkan daerah di sekitarnya. Dari tempat tersebut, mereka mengamati keadaan hutan Mojosongo, memperhatikan arah angin, serta menentukan jalur yang akan ditempuh saat berburu. Kegiatan mengamati inilah yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah mengintai.

Baca Juga: Jejak Sejarah Kampung Kemlayan Solo: "Sarangnya" Para Maestro Seni Dan Budaya

Selain dimanfaatkan sebagai tempat mengintai, lokasi tersebut juga memiliki keunggulan karena berada di tanah yang lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya. Posisi yang lebih tinggi memberikan pandangan yang luas ke berbagai arah, baik ke utara, selatan, timur, maupun barat.

Karakteristik inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat mulai menyebut kawasan tersebut sebagai Panggung, karena memberikan kesan seolah-olah seseorang sedang berdiri di atas sebuah panggung yang lebih tinggi dari lingkungan di sekitarnya.

”Nama Panggung berkaitan dengan kondisi geografis wilayahnya yang lebih tinggi dibandingkan daerah di sekitarnya. Karena berada di tempat yang tinggi, masyarakat merasa seperti berada di atas sebuah panggung,” ujar Sarwito, tokoh masyarakat lainnya.

Baca Juga: Jejak Sejarah Kampung Kandangdoro Kestalan: Tempat Budi Daya Merpati Di Samping Pacuan Kuda

Seiring berjalannya waktu, fungsi kawasan Panggung mulai berubah. Ketika wilayah di sekitarnya mulai berkembang menjadi permukiman, banyak warga yang sengaja datang ke tempat tersebut untuk menikmati pemandangan Kota Solo dari ketinggian. Dari lokasi itu masyarakat dapat melihat kawasan sekitar dengan leluasa, sesuatu yang sulit ditemukan pada masa sekarang karena pembangunan kota yang semakin pesat telah membatasi pandangan ke berbagai arah.

Perkembangan kawasan Panggung semakin pesat ketika perusahaan susu milik Yeppers beroperasi di daerah tersebut. Kehadiran perusahaan tersebut menarik perhatian masyarakat karena mereka dapat melihat secara langsung peternakan sapi milik Yeppers. Aktivitas ekonomi yang mulai tumbuh menjadikan kawasan Panggung semakin ramai dikunjungi oleh warga maupun para bangsawan sehingga nama Panggung semakin dikenal oleh masyarakat Surakarta.

Penyebutan Panggung bukan hanya menggambarkan bentuk fisik wilayah yang lebih tinggi, tetapi juga lahir dari pengalaman masyarakat yang merasa seolah-olah berada di atas sebuah panggung ketika berdiri di lokasi tersebut. Dari tempat itu, mereka dapat memandang berbagai penjuru kota dengan lebih leluasa. Lambat laun, nama tersebut melekat sebagai identitas kawasan dan terus digunakan hingga sekarang, termasuk untuk menyebut simpang bersinyal yang dikenal sebagai Lampu Merah Panggung.

Baca Juga: Asa Usul Kampung Ngebrusan Solo: Permukiman Kolonel-Kolonel Belanda

Kini, Lampu Merah Panggung tidak hanya berfungsi sebagai salah satu simpang strategis di Kota Surakarta, tetapi juga menjadi penanda sebuah kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Di balik hiruk pikuk kendaraan yang melintas setiap hari, tersimpan kisah tentang tempat berkumpulnya para bangsawan Keraton Surakarta sebelum berburu, sebuah lokasi yang dahulu menjadi titik pengamatan terbaik menuju hutan Mojosongo. Sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa setiap sudut Kota Solo memiliki cerita yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Editor : Kabun Triyatno
Asal-usul jebres sejarah lampu merah solo