SOLOBALAPAN.COM - Di balik deretan rumah batik di kawasan Laweyan, Surakarta, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang masih mempertahankan pesona arsitektur masa lampau.
Bangunan tersebut adalah Ndalem Gondosuli, salah satu rumah tinggal bergaya Indis yang menjadi bagian dari perkembangan Kampung Batik Laweyan.
Meski belum sepopuler Keraton Surakarta atau Pura Mangkunegaran, Ndalem Gondosuli menyimpan kisah panjang mengenai kejayaan industri batik dan kehidupan masyarakat Solo pada awal abad ke-20.
Baca Juga: Ponten Kestalan, Bangunan MCK Bersejarah Peninggalan Mangkunegara VII
Dikutip dari berbagai sumber, Ndalem Gondosuli dibangun sebagai rumah tinggal keluarga pengusaha batik di kawasan Laweyan.
Pada masa itu, Laweyan dikenal sebagai sentra perdagangan batik terbesar di Surakarta. Banyak saudagar batik membangun rumah besar atau ndalem sebagai simbol keberhasilan usaha mereka, sekaligus tempat tinggal dan pusat aktivitas bisnis.
Baca Juga: Menikmati Tenangnya Ndalem Joyokusuman di Tengah Hiruk Pikuk Kota Solo
Salah satu daya tarik utama Ndalem Gondosuli adalah gaya arsitekturnya. Bangunan ini memadukan unsur arsitektur Jawa tradisional, Indische, dan Art Deco yang berkembang pada masa kolonial.
Perpaduan tersebut tampak pada bentuk fasad bangunan, pintu dan jendela berukuran besar, langit-langit yang tinggi, serta ornamen-ornamen khas Eropa yang berpadu dengan tata ruang rumah Jawa.
Baca Juga: Jejak Sejarah Kampung Kemlayan Solo: "Sarangnya" Para Maestro Seni Dan Budaya
Selain memiliki nilai arsitektur, Ndalem Gondosuli juga menjadi bagian dari sejarah perkembangan Kampung Batik Laweyan.
Kawasan ini telah dikenal sebagai pusat produksi batik sejak masa Kerajaan Pajang dan terus berkembang hingga era kolonial. Pada awal abad ke-20, Laweyan menjadi salah satu kawasan dengan jumlah saudagar batik terbanyak di Indonesia.
Kehadiran rumah-rumah besar seperti Ndalem Gondosuli menjadi bukti kejayaan ekonomi para pengusaha batik pada masa itu.
Seiring berjalannya waktu, fungsi Ndalem Gondosuli mengalami perubahan. Bangunan yang sempat tidak terawat ini kemudian direvitalisasi agar tetap lestari sebagai bagian dari warisan budaya Kota Surakarta.
Upaya pelestarian dilakukan tanpa menghilangkan karakter asli bangunan, sehingga masyarakat masih dapat menikmati keindahan arsitektur bersejarah yang dimilikinya.
Kini, Ndalem Gondosuli sering dimanfaatkan sebagai ruang untuk kegiatan budaya, pameran, diskusi, pertunjukan seni, hingga aktivitas komunitas.
Baca Juga: Ternyata Ndalem Tjokrosoemartan Solo, Jadi Bangunan Bersejarah dengan Gaya Kolonial yang Indah
Kehadirannya menjadi contoh bagaimana bangunan heritage tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga dihidupkan kembali melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kampung Batik Laweyan, Ndalem Gondosuli dapat menjadi salah satu destinasi menarik selain berbelanja batik.
Bangunan ini menawarkan pengalaman berbeda karena memperlihatkan bagaimana arsitektur kolonial dan budaya Jawa berpadu dalam satu kawasan yang telah berkembang selama ratusan tahun.
Pelestarian Ndalem Gondosuli juga menjadi pengingat bahwa sejarah Kota Surakarta tidak hanya tersimpan di keraton atau benteng, tetapi juga di rumah-rumah para saudagar yang pernah menggerakkan roda perekonomian kota.
Melalui bangunan seperti inilah, jejak kejayaan batik Laweyan masih dapat dinikmati oleh generasi masa kini.
Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber