Asa Usul Kampung Ngebrusan Solo: Permukiman Kolonel-Kolonel Belanda

Siti Putri Lestari • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 11:30 WIB
Gapura Kampung Ngebrusan, Kestalan. (Siti putri/ Radar Solo)
Gapura Kampung Ngebrusan, Kelurahan Kestalan, Banjarsari, Solo. (Siti Putri/Radar Solo)

SOLOBALAPAN.COM – Di Kota Solo, banyak sekali kampung-kampung bersejarah.

Satu di antaranya Kampung Ngebrusan.

Mendengar namanya, mungkin hanya segelintir orang yang tahu letaknya.

Maklum, kampung kecil ini masih kalah pamor dengan Pasar Legi, Pura Mangkunegaran, atau Luwes Kestalan yang mengelilinginya.

Penamaan sebuah kampung, sejatinya bukan asal sebut. Di balik penyebutannya, kerap tersimpan jejak sejarah, budaya, bahasa, hingga peristiwa yang pernah membentuk kehidupan masyarakat di masa lampau.

Apalagi di Solo yang kadung dicap sebagai kota budaya dan bersejarah. Tak terkecuali Kampung Ngebrusan.

Baca Juga: Fortuna Sittard Tolak Lepas Justin Hubner ke Piala AFF 2026, Rumor Pindah ke Super League Makin Kencang!

Secara geografis, Ngebrusan merupakan salah satu kawasan permukiman yang berada di Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari. 

Kampung ini berada di kawasan yang cukup strategis, karena terletak tidak jauh dari pusat kota.

Di tengah perkembangan kawasan tersebut, Kampung Ngebrusan masih menyimpan jejak sejarah yang menjadi bagian dari identitasnya.

Salah satu peninggalan bersejarah yang masih dijumpai di Ngebrusan, yakni Ponten Mangkunegaran. Berupa fasilitas sanitasi umum yang dibangun oleh pemerintahan Pura Mangkunegaran.

Keberadaan ponten ini menjadi bukti, bahwa kawasan Ngebrusan telah menjadi bagian dari sistem penataan permukiman di masa penjajahan. 

Selain memiliki fungsi sebagai sarana kebersihan masyarakat di zamannya, Ponten Mangkunegaran juga merepresentasikan perhatian Pura Mangkunegaran akan kesehatan dan kualitas hidup warga sekitar.

Baca Juga: Laga Pembuka Piala Presiden 2026: Jadwal dan Jam Kick-off Persib Bandung vs Arema FC

Hingga kini, keberadaan Ponten Mangkunegaran tidak hanya dipandang sebagai bangunan tua, melainkan warisan sejarah yang memiliki nilai edukatif dan budaya.

Bangunan tersebut menjadi saksi perjalanan panjang Kampung Ngebrusan, dari sebuah kawasan permukiman di era kejayaan Mangkunegaran, hingga berkembang menjadi bagian dari Kota Solo.

Selain Ponten Mangkunegaran, Ngebrusan sendiri juga menyimpan sejarah cukup menarik untuk diulik. 

Nama Ngebrusan diyakini berasal dari kata "Obrus", yaitu sebutan untuk perwira tinggi tentara Hindia Belanda yang setara dengan pangkat kolonel. 

Ya, pada masa penjajahan, Obrus digunakan orang pribumi untuk perwira tinggi Belanda yang bertugas dan bermukim di sekitar Pura Mangkunegaran.

Seiring waktu, penyebutan Obrus mengalami perubahan pelafalan dalam  tutur bahasa masyarakat Jawa. Sehingga kini dikenal sebagai Ngebrusan.

 ”Kampung Ngebrusan itu dulu diambil dari Kata Obrus, yaitu jabatan untuk kolonel. Tentara di era Belanda itu disebutnya Obrus. Jadi, Obrus dulu itu para perwira-perwira Belanda yang tinggal di sini,” kata tokoh masyarakat Kelurahan Kestalan Mintorogo.

Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, kawasan Ngebrusan di masa kolonial menjadi lokasi tempat tinggal para perwira Belanda.

Keberadaan para pejabat militer tersebut turut memengaruhi penyebutan kawasan oleh masyarakat sekitar.

Dari istilah Obrus yang merujuk pada pangkat kolonel, lambat laun pengucapannya menyesuaikan dengan dialek lokal, hingga berubah menjadi Ngebrusan. (siti putri lestari/fer)

Editor : Ferry Ardi Susanto
kolonel belanda kampung ngebrusan ponten mangkunegaran asal usul