Tahukah Anda? Kampung Kestalan Solo Dulunya Kandang Kuda Mangkunegaran

Siti Putri Lestari • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 18:29 WIB
Gapura Kampung Kestalan, Banjarsari, Solo. (Siti Putri/Radar solo)
Gapura Kampung Kestalan, Banjarsari, Solo. (Siti Putri/Radar solo)

SOLOBALAPAN.COM – Di balik padatnya permukiman dan aktivitas perdagangan di Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari, Solo, tersimpan jejak sejarah panjang yang berkaitan erat dengan Pura Mangkunegaran. Tidak banyak yang mengetahui, kawasan yang kini berada di jantung Kota Solo itu dulunya merupakan lokasi kandang kuda milik Mangkunegaran.

Letaknya yang strategis, tidak jauh dari Pura Mangkunegaran dan kawasan Balapan, membuat wilayah ini dipilih sebagai pusat pemeliharaan kuda kerajaan pada masanya.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kestalan sekaligus Ketua Pokdarwis Solo dan Wakil Ketua Pokdarwis Jawa Tengah Mintorogo menjelaskan bahwa kawasan Kestalan memiliki fungsi penting dalam mendukung aktivitas pemerintahan Mangkunegaran.

Baca Juga: Jejak Sejarah Kampung Sudiroprajan: Cerita Orang Kulit Kuning Ahli Bela Diri

"Kampung Kestalan dahulu pada masa pemerintahan Mangkunegaran merupakan kandang kuda milik Mangkunegaran. Kuda-kuda ditempatkan di sini karena lokasinya strategis, dekat dengan jalur pacuan kuda di Balapan," ujarnya.

Pada masa itu, kuda bukan sekadar alat transportasi. Hewan tersebut menjadi sarana mobilitas utama para bangsawan, prajurit, hingga utusan kerajaan.

Kuda juga digunakan untuk kepentingan militer, penyampaian pesan, maupun berbagai upacara resmi. Karena itu, keberadaan kandang kuda ditempatkan di lokasi yang dekat dengan pusat pemerintahan dan area latihan agar mudah diakses kapan pun dibutuhkan.

Baca Juga: Jejak Akulturasi di Tepian Bengawan Solo: Kisah Kampung Sampangan dan Warga Sampang Madura

Di kawasan inilah para abdi dalem bertugas memberi pakan, memandikan, menjaga kesehatan, hingga menyiapkan kuda-kuda kerajaan agar selalu siap digunakan.

Nama Kestalan diyakini berasal dari kata stal, istilah dalam bahasa Belanda yang berarti kandang kuda.

Seiring waktu, penyebutan kata tersebut mengalami penyesuaian dalam pelafalan masyarakat Jawa hingga berubah menjadi Kestalan, nama yang kemudian melekat sebagai identitas kampung dan kini menjadi nama resmi kelurahan.

Menurut Mintorogo, berdasarkan penuturan para sesepuh, kawasan kandang kuda diperkirakan berada di sekitar lokasi SD Kestalan hingga area Kantor Kelurahan Kestalan saat ini.

"Perkiraan lokasi kandang kudanya berada di kawasan yang sekarang menjadi SD Kestalan sampai area Kelurahan Kestalan. Dahulu tempat itu digunakan sebagai kandang kuda Mangkunegaran," jelasnya.

Kini Kestalan berkembang menjadi kawasan perkotaan yang dipenuhi permukiman, pusat perdagangan, dan berbagai fasilitas publik. Meski wajahnya berubah, cerita mengenai asal-usul kampung tersebut masih diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas masyarakat.

Bagi warga setempat, sejarah Kestalan bukan hanya menjelaskan asal sebuah nama, tetapi juga menjadi bukti eratnya hubungan kawasan ini dengan perjalanan Pura Mangkunegaran dan perkembangan Kota Solo.

Pelestarian cerita lokal seperti ini dinilai penting agar generasi muda tidak hanya mengenal Kestalan sebagai kawasan perkotaan modern, tetapi juga memahami warisan sejarah yang membentuknya.

Hingga kini, kisah bekas kandang kuda Mangkunegaran tersebut masih menjadi salah satu cerita sejarah menarik yang memperkaya khazanah heritage Kota Solo.

 

 

 

Editor : Kabun Triyatno
kestalan Asal-usul sejarah mangkunegaran solo