Menelusuri Jejak Sejarah Stasiun Wonokromo di Kota Surabaya

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 07:56 WIB
Stasiun Wonokromo menjadi gerbang selatan perkeretaapian di Kota Surabaya. (Radar Surabaya)
Stasiun Wonokromo menjadi gerbang selatan perkeretaapian di Kota Surabaya. (Radar Surabaya)

SOLOBALAPAN.COM - Di bagian selatan Kota Surabaya berdiri salah satu stasiun bersejarah yang hingga kini masih menjadi simpul penting transportasi kereta api, yakni Stasiun Wonokromo. 

Berlokasi di Kecamatan Wonokromo, stasiun ini melayani perjalanan kereta api antarkota maupun kereta lokal, sekaligus menjadi penghubung utama menuju berbagai wilayah di Jawa Timur.

Dikutip dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan catatan sejarah perkeretaapian, Stasiun Wonokromo mulai beroperasi pada 16 Mei 1878 sebagai bagian dari jalur Surabaya–Pasuruan yang dibangun oleh perusahaan kereta api pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS).

Baca Juga: Stasiun Gawok, Stasiun Berusia 139 Tahun di Sukoharjo yang Tetap Aktif Layani KRL Solo–Jogja

Kehadiran stasiun ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan jaringan rel di Jawa Timur sekaligus mendukung distribusi hasil perkebunan dan perdagangan menuju Kota Surabaya.

Nama "Wonokromo" diambil dari kawasan tempat stasiun ini berada. 

Baca Juga: Menengok Riwayat Stasiun Brambanan, Aset Staatsspoorwegen yang Kini Disulap Jadi Hub Wisata Budaya

Letaknya yang strategis menjadikan Stasiun Wonokromo berkembang sebagai gerbang transportasi di sisi selatan Surabaya. 

Pada masa kolonial, stasiun ini berperan penting dalam mengangkut gula, hasil bumi, dan berbagai komoditas dari daerah pedalaman menuju pusat perdagangan dan pelabuhan.

Seiring meningkatnya kebutuhan transportasi, Stasiun Wonokromo terus mengalami pengembangan. 

Baca Juga: 5 Kereta Api Jarak Jauh yang Populer di Indonesia

Saat ini, stasiun tersebut melayani berbagai kereta api antarkota tujuan Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Banyuwangi, hingga Jember. 

Selain itu, stasiun ini juga menjadi pemberhentian sejumlah kereta lokal yang melayani mobilitas masyarakat di wilayah Jawa Timur.

Tak jauh dari stasiun utama, kawasan Wonokromo juga menyimpan jejak sejarah perkeretaapian lain berupa bekas Stasiun Trem Wonokromo Kota yang dibangun sekitar 1916. 

Bangunan tersebut kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan menjadi pengingat kejayaan jaringan trem yang pernah beroperasi di Surabaya pada awal abad ke-20.

Hingga kini, Stasiun Wonokromo tetap menjadi salah satu stasiun tersibuk di Surabaya. Berbagai modernisasi telah dilakukan, mulai dari peningkatan fasilitas penumpang, sistem tiket elektronik, hingga penataan area stasiun. 

Meski demikian, fungsi utamanya sebagai penghubung perjalanan kereta api di Jawa Timur tetap dipertahankan.

Lebih dari 140 tahun sejak diresmikan, Stasiun Wonokromo terus menjadi bagian penting dari perkembangan perkeretaapian Indonesia. 

Keberadaannya tidak hanya mendukung mobilitas masyarakat, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah transportasi rel di Kota Surabaya.

Editor : Kabun Triyatno
Wonokromo kereta api indonesia surabaya