SOLOBALAPAN.COM – Jalur kereta api yang menghubungkan Purwosari, Kartasura, hingga Boyolali pada masa kolonial Belanda ternyata tidak dibangun semata untuk melayani angkutan penumpang. Jalur tersebut memiliki fungsi strategis sebagai sarana distribusi hasil perkebunan dari wilayah Boyolali dan kawasan Vorstenlanden menuju Pelabuhan Semarang sebelum diekspor ke Belanda.
Pemerhati sejarah perkeretaapian Tintony Rizan Ghani menjelaskan bahwa pembangunan jalur tersebut dilatarbelakangi kepentingan ekonomi pemerintah kolonial. Boyolali saat itu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil komoditas perkebunan yang membutuhkan akses transportasi menuju pusat distribusi.
Baca Juga: Sejarah dan Asal-usul Nama Kampung Sondakan Solo: Dari Segelas Degan Hijau untuk Pakubuwono II
"Latar belakang pembangunan jalur rel ke Boyolali berkaitan dengan akses ke perkebunan, termasuk hasil perkebunan di wilayah Boyolali," ujarnya.
Menurut Tintony, jaringan rel di kawasan Vorstenlanden memang dirancang untuk memperlancar pengangkutan hasil bumi dari daerah pedalaman menuju Semarang. Dari pelabuhan tersebut, berbagai komoditas kemudian dikirim ke Belanda sebagai bagian dari aktivitas perdagangan kolonial.
"Di wilayah Vorstenlanden sendiri, pembangunan jalur kereta utamanya untuk pengangkutan hasil bumi menuju Semarang dan selanjutnya dikapalkan ke Belanda," jelasnya.
Baca Juga: Kereta Api Kian Diminati, Ini Alasan Masyarakat Semakin Memilih Bepergian dengan Kereta
Berdasarkan catatan sejarah, jalur Purwosari–Kartasura dibuka lebih dahulu sebelum diperpanjang hingga Boyolali pada 1911 oleh Solosche Tramweg Maatschappij (SoTM). Sebelum mengoperasikan kereta uap, perusahaan tersebut lebih dulu menjalankan layanan trem berkuda di Kota Solo.
Pengelolaan kemudian beralih kepada Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang menggantinya dengan lokomotif uap.
Selain mengangkut komoditas perkebunan, jalur ini juga menjadi penghubung penting antara Solo, Kartasura, dan Boyolali sehingga mendukung mobilitas masyarakat pada masa itu.
Baca Juga: Mengenal Semboyan Kereta Api, Sistem Komunikasi yang Menjaga Keselamatan Perjalanan
Namun, seiring berkembangnya moda transportasi lain dan berubahnya kondisi ekonomi, aktivitas di jalur tersebut terus menurun. Bahkan, menurut Tintony, lintasan menuju Boyolali sudah berhenti beroperasi sebelum masa pendudukan Jepang.
"Jalur Boyolali sendiri sebelum Jepang datang sudah tidak beroperasi," ungkapnya.
Meski demikian, sejumlah warga masih mengingat keberadaan kereta yang pernah melintas di jalur tersebut pada masa awal kemerdekaan. Setelah tidak lagi digunakan, rel-rel kereta dibongkar secara bertahap.
Kini, sebagian besar trase jalur Purwosari–Kartasura–Boyolali telah berubah menjadi jalan, kawasan permukiman, hingga pertokoan. Namun, jejak sejarahnya masih dapat ditemukan melalui bekas jalur rel, jembatan, maupun aset perkeretaapian yang masih tersisa di sejumlah titik di Kartasura dan Boyolali.
Keberadaan jalur tersebut menjadi bukti bahwa jaringan kereta api di Solo pada era kolonial tidak hanya berfungsi sebagai angkutan penumpang, tetapi juga menjadi tulang punggung distribusi hasil perkebunan yang menopang roda perekonomian pemerintah Hindia Belanda di kawasan Vorstenlanden.
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber