SOLOBALAPAN.COM – Di balik hiruk pikuk kawasan pusat Kota Surakarta, terdapat sebuah kampung yang menyimpan jejak sejarah panjang perkembangan kota dan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Kampung Notodiningratan yang berada di Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, menjadi salah satu kawasan bersejarah yang namanya masih bertahan hingga kini.
Tidak hanya dikenal sebagai kawasan permukiman, kampung ini juga menyimpan kisah mengenai tokoh bangsawan yang pernah memiliki peran penting dalam pemerintahan Keraton Surakarta.
Baca Juga: Sejarah dan Asal-usul Nama Kampung Sondakan Solo: Dari Segelas Degan Hijau untuk Pakubuwono II
Secara administratif, Kampung Notodiningratan merupakan bagian dari wilayah Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Kota Solo. Letaknya yang berada di kawasan pusat kota menjadikan kampung ini memiliki akses yang mudah menuju berbagai pusat aktivitas pemerintahan, perdagangan, maupun kebudayaan. Kedekatannya dengan lingkungan Keraton Surakarta juga menjadikan kawasan ini tidak terlepas dari dinamika sejarah perkembangan kota pada masa lampau.
Dari sisi geografis, Kampung Notodiningratan berada di kawasan dataran rendah khas Kota Solo dengan lingkungan yang didominasi permukiman padat penduduk. Jalan-jalan kampung yang saling terhubung menjadi akses utama mobilitas masyarakat, sementara berbagai fasilitas umum turut mendukung aktivitas warga sehari-hari.
Baca Juga: Asal Usul Kampung Tegalrejo Laweyan: Dari Tanah Tegalan Subur Jadi Kawasan Produksi Batik
Meski perkembangan kota terus berlangsung, suasana kekeluargaan dan budaya gotong royong masih menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan masyarakat Kampung Notodiningratan.
Nama Notodiningratan diyakini berasal dari gelar kebangsawanan Kanjeng Raden Adipati (K.R.A.) Notodiningrat, seorang tokoh yang memiliki kedudukan penting dalam struktur pemerintahan Keraton Surakarta. Seperti banyak kampung tua di Kota Solo, penamaan wilayah berdasarkan nama tokoh bangsawan merupakan hal yang lazim terjadi pada masa lalu.
Kawasan tempat tinggal para pejabat keraton kemudian dikenal masyarakat dengan nama pemilik atau tokoh yang pernah bermukim di wilayah tersebut hingga akhirnya menjadi nama kampung yang digunakan sampai sekarang.
Baca Juga: Asal Usul Kampung Setabelan Solo, Tempat Kumpul Pasukan Artileri Keraton Kasunanan Yang Jago Meriam
”Menurut yang saya ketahui, Kampung Notodiningratan itu dahulu banyak sekali di tinggali oleh kerabat keraton kasunanan. Dari nama nya saja sudah menunjukan ya bahwa kampung ini wilayah hadiningrat,” ujar Eka Wiraja, tokoh masyarakat setempat.
Kini, Kampung Notodiningratan telah berkembang menjadi bagian dari kawasan perkotaan yang dinamis. Namun, di balik perubahan tersebut, kampung ini tetap menyimpan identitas sejarah yang menjadi pengingat akan eratnya hubungan antara perkembangan permukiman masyarakat dengan perjalanan Keraton Surakarta.
Melalui penuturan para sesepuh serta berbagai catatan sejarah lokal, Kampung Notodiningratan menjadi salah satu bukti bahwa nama-nama kampung di Kota Solo tidak hanya berfungsi sebagai penanda wilayah, tetapi juga merekam jejak tokoh dan peristiwa yang membentuk sejarah kota.
Menurut penuturan tokoh masyarakat, kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Notodiningratan dahulunya merupakan wilayah tempat tinggal Kanjeng Pangeran Harya (K.P.H.) Notodiningrat, salah satu putra menantu Sunan Pakubuwono IX.
Pada masa itu, kawasan tersebut menjadi bagian dari lingkungan yang dihuni keluarga bangsawan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Keberadaan kediaman seorang kerabat dekat raja menjadikan wilayah ini memiliki posisi yang cukup penting dalam perkembangan permukiman di sekitar pusat pemerintahan keraton.
Tidak hanya menjadi tempat tinggal K.P.H. Notodiningrat, kawasan tersebut juga dihuni oleh sejumlah kerabat keraton atau para kanjeng yang memiliki hubungan kekerabatan maupun kedudukan dalam lingkungan istana.
Rumah-rumah bergaya Jawa yang berdiri di kawasan itu menjadi tempat bermukim para bangsawan beserta keluarganya. Kehidupan masyarakat di sekitar kampung pun tidak dapat dipisahkan dari aktivitas para penghuni ndalem yang pada masa itu masih memiliki keterkaitan erat dengan pemerintahan Keraton Surakarta.
Karena banyaknya rumah para bangsawan yang berdiri di kawasan tersebut, masyarakat sekitar kemudian mengenalnya dengan sebutan "Njero Kanjengan". Dalam bahasa Jawa, kata njero berarti bagian dalam atau kediaman, sedangkan kanjengan merujuk pada tempat tinggal para kanjeng atau kerabat bangsawan keraton.
Sebutan itu berkembang secara turun-temurun di tengah masyarakat sebagai penanda kawasan yang identik dengan lingkungan keluarga ningrat. Hingga kini, istilah Njero Kanjengan masih dikenal oleh sebagian warga sebagai bagian dari sejarah lisan yang melekat pada Kampung Notodiningratan.
Seiring berjalannya waktu, kawasan yang semula didominasi kediaman para bangsawan mulai mengalami perubahan. Perkembangan Kota Surakarta membawa perubahan fungsi lahan dan pola permukiman sehingga masyarakat umum mulai bermukim di sekitar kawasan tersebut. Meski demikian, sejumlah bangunan tua dengan arsitektur khas Jawa masih dapat dijumpai dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kampung.
Keberadaan bangunan-bangunan tersebut menjadi pengingat bahwa Kampung Notodiningratan pernah menjadi salah satu kawasan penting bagi keluarga besar Keraton Kasunanan Surakarta.
Bagi masyarakat setempat, nama Notodiningratan bukan sekadar identitas administratif sebuah kampung. Nama tersebut menjadi warisan sejarah yang menghubungkan kehidupan masyarakat masa kini dengan jejak para bangsawan yang pernah tinggal di kawasan itu. Kisah mengenai K.P.H. Notodiningrat dan lingkungan Njero Kanjengan terus diwariskan melalui cerita para sesepuh sebagai bagian dari identitas kampung yang patut dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda.
Kini, Kampung Notodiningratan berkembang menjadi kawasan permukiman yang hidup di tengah dinamika Kota Surakarta. Aktivitas masyarakat berlangsung berdampingan dengan peninggalan sejarah yang masih tersisa, menciptakan perpaduan antara kehidupan modern dan nilai-nilai budaya yang telah berlangsung selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Di tengah pesatnya perkembangan kota, kampung ini tetap mempertahankan karakter historisnya sebagai salah satu kawasan yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Keberadaan Kampung Notodiningratan menjadi bukti bahwa nama-nama kampung di Kota Solo bukan sekadar penanda wilayah, melainkan menyimpan kisah tentang tokoh, keluarga bangsawan, dan perjalanan sejarah yang membentuk wajah kota hingga saat ini. Melalui pelestarian cerita lisan, bangunan bersejarah, serta ingatan kolektif masyarakat, warisan tersebut diharapkan tetap hidup dan menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang mengenai akar sejarah Kota Solo
Editor : Kabun Triyatno