SOLOBALAPAN.COM – Bukan hanya Kampung Premulung dan Jantirejo saja yang memiliki nilai historis kuat di Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Solo.
Ada satu lagi kampung di kawasan sekitar yang memiliki keterkaitan dengan Kampung Batik Laweyan.
Wilayah yang dimaksud tak lain Kampung Tegalrejo.
Secara administratif, kampung ini memiliki tiga RW dan tiga RT.
Dari sisi geografis, Kampung Tegalrejo berada di kawasan perkotaan yang relatif datar dengan ketinggian sekitar 90–100 meter di atas permukaan laut (Mdpl).
Sebagaimana karakteristik wilayah perkotaan pada umumnya lingkungan di sana didominasi permukiman padat penduduk.
Di balik perkembangan tersebut, Kampung Tegalrejo menyimpan cerita sejarah yang menarik untuk disimak.
Menurut penuturan tokoh masyarakat serta dokumen sejarah setempat, jejak perjalanan Kampung Tegalrejo memberikan gambaran mengenai dinamika perkembangan wilayah Kelurahan Sondakan secara utuh.
”Dulu itu Tegalrejo merupakan hamparan tanah tegalan yang subur. Karena itu dinamakan Kampung Tegalrejo atau tanah tegalan yang subur,” kata tokoh masyarakat Kampung Tegalrejo Aziz.
Dulunya, Kampung Tegalrejo berupa hamparan tanah tegalan nan luas.
Tanah di sana sangat subur, karena mendapat pasokan air melimpah dari Kali Jenes yang membelah wilayah tersebut. Sangat cocok untuk tanaman pertanian dan perkebunan.
Selain itu, Kali Jenes dahulu juga menjadi urat nadi transportasi perdagangan.
Letaknya yang strategis karena berada di jalur perdagangan dan dekat dengan Kampung Batik Laweyan, menjadikan Kampung Tegalrejo berkembang pesat.
Memasuki abad ke-19 dan 20, sejumlah saudagar batik mulai melirik Kampung Tegalrejo. Masuknya para saudagar batik ini membawa perubahan besar terhadap wajah Kampung Tegalrejo.
Kawasan tegalan nan subur, perlahan disulap jadi pusat industri batik. Pabrik-pabrik batik sekala rumahan perlahan menjamur. Dampak positifnya, lapangan pekerjaan baru terbuka lebar.
Alhasil mulai banyak orang-orang yang bermigrasi ke Kampung Tegalrejo untuk bekerja di sana.
Ada yang bekerja sebagai pembatik, mencanting, bagian pewarnaan kain, dan tenaga produksi lainnya.
Dari sinilah kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat mulai tumbuh, seiring berkembangnya industri batik yang menjadi kebanggaan Kota Solo.
Baca Juga: Stasiun Kedungjati, Simpul Bersejarah Perkeretaapian di Jawa Tengah
Perkembangan tersebut turut memengaruhi pola permukiman warga. Rumah-rumah penduduk mulai dibangun di sekitar lokasi usaha batik, sehingga terbentuk komunitas yang hidup berdampingan antara pemilik usaha, pekerja, dan masyarakat.
Interaksi sosial yang erat menciptakan budaya gotong royong yang masih terasa hingga kini.
Meski sebagian besar pabrik batik telah mengalami perubahan fungsi atau tidak lagi beroperasi seperti dahulu, jejak kejayaan industri batik masih dapat dikenali melalui cerita para sesepuh, bangunan-bangunan lama, serta ingatan kolektif masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah wilayah tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dibangun oleh kerja keras masyarakat dan para pelaku usaha pada masanya.
Bagi warga setempat, Tegalrejo bukan sekadar kampung. Melainkan simbol perjalanan panjang dari sebuah hamparan tanah subur di tepian sungai, yang kemudian berkembang menjadi pusat industri batik. (siti putri lestari/fer)
Editor : Ferry Ardi Susanto