SOLOBALAPAN.COM - Di tengah maraknya wisata modern, Pasar Bahulak di Desa Karungan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, menawarkan pengalaman yang berbeda.
Pasar wisata ini mengajak pengunjung merasakan kembali suasana pasar tempo dulu melalui ragam kuliner tradisional, transaksi menggunakan koin, hingga nuansa pedesaan yang masih kental.
Memasuki kawasan pasar, pengunjung akan disambut deretan lapak sederhana berbahan bambu dan kayu yang tertata rapi di bawah rindangnya pepohonan.
Para pedagang mengenakan pakaian adat Jawa berupa kain lurik dan caping, sehingga semakin memperkuat nuansa pasar tradisional.
Baca Juga: 6 Tempat Makan Ikonik di Kampus UNS yang Jadi Favorit Mahasiswa
Alunan musik gamelan yang terdengar dari area pertunjukan turut menambah kesan seolah membawa pengunjung kembali ke kehidupan masyarakat Jawa pada masa lampau.
Di setiap sudut pasar, pengunjung dapat menemukan beragam kuliner tradisional seperti tiwul, gatot, pecel pincuk, gethuk, cenil, jadah, klepon, aneka jajanan pasar, hingga minuman tradisional seperti dawet.
Sementara itu, berbagai permainan anak tempo dulu dan pertunjukan seni tradisional menjadi hiburan yang dapat dinikmati bersama keluarga.
Baca Juga: Mengenal Main Character Energy yang Ngetren di Media Sosial
Kepala Desa Karungan, Joko Sunarto mengatakan, konsep tersebut sengaja dihadirkan untuk menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa pada masa lampau.
Nama Bahulak sendiri diambil dari istilah dalam bahasa Jawa yang berarti "zaman dahulu", sehingga seluruh konsep pasar dibuat selaras dengan makna tersebut.
"Kami tampilkan makanan zaman dulu, bangunan tempo dulu, sampai pedagang juga menjual makanan-makanan zaman dulu," ujarnya.
Baca Juga: Nail Art Jadi Tren Baru, Kuku sebagai Media Ekspresi Diri
Keunikan lain yang menjadi daya tarik Pasar Bahulak adalah sistem transaksi menggunakan koin. Sebelum berbelanja, pengunjung harus menukarkan uang rupiah dengan koin berbahan tempurung kelapa. Satu keping koin bernilai Rp2.000 dan digunakan sebagai alat pembayaran di seluruh lapak.
Menurut Joko Sunarto, penggunaan koin tersebut menjadi simbol transaksi pada masa lampau yang dahulu menggunakan uang benggol.
Karena uang tersebut sudah sulit ditemukan, pengelola menghadirkannya dalam bentuk koin tempurung kelapa sebagai ciri khas Pasar Bahulak sekaligus menghadirkan pengalaman berbelanja yang berbeda.
Baca Juga: Di Balik Tren Digicam, Anak Muda Menikmati Cara Baru Mengabadikan Momen
Pasar Bahulak berawal dari gagasan memanfaatkan tanah kas desa yang sebelumnya terbengkalai. Pada 2020, rencana pembangunan kolam renang terhenti akibat pandemi Covid-19 sehingga pemerintah desa mengubah konsep pengembangan kawasan menjadi pasar wisata dengan mengangkat kuliner tradisional.
Selain menjadi destinasi wisata, Pasar Bahulak juga menjadi ruang pemberdayaan masyarakat. Sekitar 26 pedagang aktif terlibat dalam aktivitas pasar dan memanfaatkan tempat ini untuk memasarkan produk sekaligus meningkatkan perekonomian keluarga.
Tak hanya itu, Pasar Bahulak rutin menghadirkan pertunjukan tari tradisional, karawitan, hingga permainan rakyat sebagai upaya melestarikan budaya Jawa.
Baca Juga: Stasiun Ambarawa, Jejak Kereta Api Militer dan Warisan Sejarah Perkeretaapian Jawa
Anak-anak dari PAUD, sekolah, hingga sanggar seni diberi kesempatan untuk tampil sehingga pasar ini tidak hanya menjadi tempat berbelanja, tetapi juga ruang edukasi budaya bagi masyarakat.
Perpaduan bangunan tradisional, pedagang yang mengenakan kain lurik, kuliner khas Jawa, transaksi menggunakan koin, serta pertunjukan seni menjadikan Pasar Bahulak menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi setiap pengunjung.
Tak sekadar berwisata kuliner, pengunjung juga diajak merasakan kembali suasana pasar tempo dulu yang kini semakin jarang ditemui. (Anmer Jilvandis)
Editor : Adi Pras