SOLOBALAPAN.COM – Di sudut barat Kota Solo, terdapat sebuah kampung kecil yang dikenal sebagai sentra pembuatan canting cap batik.
Namanya Kampung Premulung, Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Solo.
Kampung Premulung memiliki perjalanan sejarah yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kelurahan Sondakan di masa Kerajaan Pajang dan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Dalam berbagai catatan sejarah, Sondakan dulunya bagian dari Bumi Laweyan. Sebuah desa perdikan yang memiliki kedudukan khusus pada masa Kerajaan Pajang.
sedangkan asal usul nama "Premulung", lebih banyak diwariskan melalui cerita lisan warga sekitar.
Secara geografis, Kampung Premulung berada di kawasan perkotaan yang didominasi permukiman padat penduduk, dengan akses yang terhubung ke sejumlah ruas jalan utama di Kecamatan Laweyan.
Wilayah ini berada di sekitar aliran Sungai Premulung, salah satu anak Sungai Bengawan Solo.
Keberadaan sungai itu turut membentuk karakteristik kawasan Premulung. Baik dari pola permukiman, maupun perkembangan lingkungan di sekitarnya.
Baca Juga: Bengawan Solo Kembali Makan Korban, Pemuda Sragen Hilang Terseret Arus Saat Berendam
Kampung Premulung tak hanya dikenal sebagai salah satu kawasan permukiman padat, tetapi juga memiliki identitas kuat sebagai kampungnya para perajin canting cap batik.
Di tengah besarnya nama Laweyan sebagai sentra batik nasional, Kampung Premulung mengambil peran berbeda.
Warga Premulung justru dikenal ahli dalam pembuatan canting cap batik dari bahan tembaga. Keahlian ini telah diwariskan secara turun-temurun, hingga menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan warga sekitar.
Keberadaan para perajin canting cap batik ini menjadikan Kampung Premulung sebagai salah satu mata rantai penting dalam industri batik di Kota Bengawan.
"Alat cap yang diproduksi di sini digunakan banyak perajin batik. Terutama dari Kampung Batik Laweyan dan Kauman," ujar tokoh masyarakat Kampung Premulung Aziz.
Aziz mengaku proses pembuatan canting membutuhkan tingkat ketelitian tinggi. Sebab setiap motif harus dibentuk presisi, menggunakan lembaran tembaga agar menghasilkan pola batik yang rapi dan seragam pada kain.
Keterampilan tersebut tidak dapat dikuasai dalam waktu singkat, namun diperoleh melalui pengalaman bertahun-tahun. Meski harus diakui, jumlah perajinnya kini semakin berkurang akibat minimnya regenerasi.
Di sisi lain, penamaan Kampung Premulung dipercaya dari cerita tumbuh suburnya pepohonan mangga di tepian sungai.
Bukannya ditanam, pohon mangga tersebut tumbuh secara alami. Warga sekitar menyebutnya sebagai pelem mulung.
"Premulung itu zaman dahulu merupakan suatu tempat di tepi sungai dan perkarangan milik warga. Pohon pelem (mangga) mulung. Karena itu wilayah sini dinamai Premulung," imbuh Aziz.
Dari waktu ke waktu, penyebutan tersebut terus digunakan masyarakat, hingga akhirnya melekat sebagai nama kampung. Meski belum ditemukan literatur terkait asal usul penamaan tersebut, cerita ini telah diwariskan secara turun-temurun.
Seiring berkembangnya kawasan menjadi permukiman padat penduduk, bentang alam Kampung Premulung mengalami banyak perubahan.
Pohon-pohon mangga yang dahulu tumbuh subur di bantaran sungai, kini kian jarang ditemui.
Namun, kisah mengenai banyaknya pohon pelem mulung yang pernah tumbuh di kawasan tersebut masih terus dikenang oleh warga sebagai salah satu penanda sejarah lahirnya nama Kampung Premulung. Cerita tersebut menjadi bagian dari identitas lokal yang memperlihatkan eratnya hubungan antara masyarakat dengan kondisi alam di masa lalu. (sit/fer)
Editor : Ferry Ardi Susanto