Jejak Trem di Solo, Moda Transportasi yang Pernah Menghidupkan Denyut Kota

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 13:31 WIB
Kereta uap jaladara masih beroperasi di Kota Solo. (Arief Budiman/Radar Solo)
Kereta uap jaladaraberoperasi di Kota Solo menjadi salah satu ikon wisata. Kereta uap ini menjadi pengingat trem di zaman dulu. (Arief Budiman/Radar Solo)

SOLOBALAPAN.COM - Jauh sebelum dipenuhi kendaraan bermotor seperti sekarang, Kota Solo pernah memiliki moda transportasi yang menjadi andalan masyarakat, yaitu trem. 

Kendaraan berbasis rel ini pernah menghubungkan pusat kota dengan berbagai kawasan di Solo dan sekitarnya, sekaligus menjadi bagian penting dalam perkembangan transportasi dan perekonomian pada masa kolonial Belanda.

Sejarah trem di Solo dimulai pada akhir abad ke-19 ketika perusahaan Solosche Tramweg Maatschappij (SoTM) membangun jaringan trem uap untuk menghubungkan pusat Kota Solo dengan wilayah Karanganyar, Boyolali, hingga Sukoharjo. 

Jalur tersebut mulai beroperasi pada 1892 dan menjadi salah satu sarana transportasi utama bagi masyarakat maupun distribusi hasil pertanian dan perkebunan

Baca Juga: Mengenal Lokomotif CC206, Andalan Penarik Kereta Api di Indonesia

Selain mengangkut penumpang, trem juga membawa berbagai komoditas seperti gula, beras, tembakau, dan hasil bumi lainnya menuju pusat perdagangan maupun stasiun kereta api. (KITLV; Perpustakaan Nasional RI)

Pada masa itu, keberadaan trem memiliki peran yang sangat penting. Rel-rel trem dibangun mengikuti ruas jalan sehingga masyarakat dapat dengan mudah naik dan turun di berbagai titik kota. 

Baca Juga: Mengapa Lebar Rel Kereta Api di Indonesia Berbeda? Ini Alasannya

Trem menjadi moda transportasi yang terjangkau dan efektif, terutama sebelum berkembangnya angkutan jalan raya seperti bus dan kendaraan pribadi.

Selain trem uap, Solo juga pernah memiliki trem listrik yang mulai beroperasi pada awal abad ke-20. 

Kehadiran trem listrik menjadikan Kota Solo sebagai salah satu kota pertama di Hindia Belanda yang memiliki sistem transportasi perkotaan modern berbasis listrik. 

Jalur trem listrik menghubungkan kawasan-kawasan penting, seperti pusat pemerintahan, pasar, hingga permukiman warga, sehingga aktivitas masyarakat menjadi lebih mudah.

Namun, memasuki pertengahan abad ke-20, kejayaan trem mulai meredup. Meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor, pembangunan jalan raya, serta tingginya biaya perawatan jalur rel membuat layanan trem secara bertahap dihentikan. 

Pada sekitar 1970-an, operasional trem di Solo resmi berakhir dan rel-relnya mulai dibongkar atau tertutup pembangunan kota.

Meski demikian, jejak keberadaan trem masih dapat ditemukan hingga sekarang. Beberapa ruas jalan di Kota Solo masih menyimpan bekas rel yang sesekali terlihat ketika dilakukan perbaikan jalan. 

Selain itu, sejumlah bangunan bekas halte maupun dokumentasi sejarah trem masih tersimpan dalam arsip dan menjadi pengingat bahwa Solo pernah memiliki sistem transportasi perkotaan yang maju pada masanya.

Keberadaan trem juga memiliki kaitan erat dengan perkembangan jaringan kereta api di Solo. Jalur trem terhubung dengan stasiun-stasiun penting seperti Solo Balapan, Purwosari, dan Solo Kota, sehingga memudahkan perpindahan penumpang maupun distribusi barang. 

Sistem transportasi ini menjadi salah satu fondasi berkembangnya aktivitas ekonomi di Kota Solo pada masa kolonial.

Kini, meski trem hanya tinggal cerita dan jejak rel yang tersisa, sejarahnya tetap menjadi bagian penting dari identitas Kota Solo. 

Bahkan, Kereta Wisata Sepur Kluthuk Jaladara yang beroperasi di Jalan Slamet Riyadi menjadi pengingat akan masa ketika rel dan trem menjadi denyut kehidupan transportasi di Kota Bengawan.

Editor : Kabun Triyatno
trem sejarah kereta rel transportasi