RADARSOLO.COM – Mengunjungi kemegahan Candi Prambanan kini tidak perlu lagi terjebak kemacetan panjang di jalan raya Solo-Yogyakarta.
Keberadaan Stasiun Brambanan hadir sebagai solusi transportasi paling taktis dan ramah lingkungan bagi para pelancong domestik maupun mancanegara.
Stasiun yang terletak di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini mendadak naik daun menjadi gerbang favorit wisatawan.
Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, Stasiun Sangkrah Solo Simpan Jejak Penting Perkeretaapian Sejak 1922
Alasan utamanya adalah faktor geografis. Lokasinya hanya bertengger sekitar satu kilometer dari pintu gerbang kompleks Candi Prambanan, salah satu situs warisan dunia besutan UNESCO.
Meski ukuran fisiknya bersahaja dan tidak semegah Stasiun Yogyakarta (Tugu) atau Solo Balapan, Stasiun Brambanan memegang peran krusial di jantung koridor tersibuk di Indonesia.
Menengok catatan sejarah, pondasi Stasiun Brambanan dibangun oleh perusahaan kereta api pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), pada akhir abad ke-19.
Baca Juga: 5 Stasiun Kereta Api dengan Arsitektur Paling Memukau di Indonesia
Jalur rel Yogyakarta–Solo kala itu dioperasikan bukan untuk sektor pariwisata, melainkan sebagai mesin penggerak ekonomi guna memperlancar distribusi hasil bumi, perkebunan, dan komoditas dagang antar-kewedanan.
Seiring pergeseran zaman, fungsi stasiun bergeser 180 derajat. Urat nadi yang dulunya riuh oleh angkutan barang kolonial, kini bertransformasi menjadi hilir mudik pelancong budaya.
Baca Juga: Mengenal Lokomotif CC206, Andalan Penarik Kereta Api di Indonesia
Melonjaknya pamor Stasiun Brambanan dipicu oleh keputusan strategis PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) yang memasukkan stasiun ini ke dalam rute reguler KRL Commuter Line Yogyakarta–Palur.
Tarif flat KRL yang sangat murah sebesar Rp8.000 serta ketepatan waktu tempuh yang bebas dari draf kemacetan jalan arteri membuat ribuan wisatawan bermigrasi menggunakan kereta, terutama saat akhir pekan (weekend) dan musim libur panjang sekolah.
Dari atas peron Stasiun Brambanan yang bersahaja, para penumpang tidak hanya disuguhi pemandangan hilir mudik ular besi modern. Di batas cakrawala kejauhan, sayup-sayup tampak siluet megah puncak-puncak stupa candi Hindu terbesar di Asia Tenggara.
Stasiun Brambanan telah sukses mengawinkan nilai sejarah masa lalu dengan kebutuhan mobilitas pariwisata masa kini secara apik.
Editor : Kabun Triyatno