Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Tempoe Doeloe Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Tak Banyak yang Tahu, Stasiun Sangkrah Solo Simpan Jejak Penting Perkeretaapian Sejak 1922

Luthfiana Sekar • Jumat, 17 Juli 2026 | 14:34 WIB
Bangunan Stasiun Solo Kota atau yang lebih dikenal sebagai Stasiun Sangkrah masih mempertahankan arsitektur kolonial Belanda. Dibuka pada 1922, stasiun ini hingga kini tetap aktif melayani perjalanan KA Batara Kresna dan Kereta Wisata Jaladara. (Google; Radar Solo)
Bangunan Stasiun Solo Kota atau yang lebih dikenal sebagai Stasiun Sangkrah masih mempertahankan arsitektur kolonial Belanda. 

SOLOBALAPAN.COM - Di sudut timur Kota Solo, tepatnya di kawasan Sangkrah, Pasar Kliwon, berdiri sebuah stasiun yang ukurannya tidak sebesar Solo Balapan maupun Solo Jebres. 

Meski begitu, Stasiun Solo Kota atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Stasiun Sangkrah memiliki perjalanan sejarah yang tidak kalah menarik.

Stasiun ini dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), dan mulai beroperasi pada 1922. 

Berbeda dengan stasiun lain di Solo yang lebih dulu berdiri, Stasiun Sangkrah dibangun untuk memperkuat jaringan kereta menuju wilayah selatan, terutama Sukoharjo hingga Wonogiri.

Baca Juga: Stasiun Tugu Yogyakarta, Gerbang Perjalanan yang Menyimpan Jejak Sejarah Kota Gudeg

Nama "Solo Kota" disematkan karena pada masa itu letaknya menjadi yang paling dekat dengan pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta, Keraton Kasunanan, serta kawasan perdagangan. 

Kedekatan tersebut membuat stasiun ini menjadi pintu masuk penting bagi masyarakat maupun pedagang yang datang ke pusat Kota Solo.

Meski ukurannya relatif kecil, Stasiun Sangkrah pernah memiliki peran penting dalam mobilitas masyarakat. 

Baca Juga: Mengapa Lebar Rel Kereta Api di Indonesia Berbeda? Ini Alasannya

Jalur yang dilayaninya menjadi penghubung Solo dengan daerah-daerah di selatan, sehingga memudahkan pengangkutan penumpang maupun hasil pertanian dan perdagangan dari wilayah Sukoharjo serta Wonogiri menuju Kota Solo.

Seiring berkembangnya transportasi jalan raya, aktivitas di Stasiun Sangkrah sempat mengalami penurunan. Namun, stasiun ini tidak ditinggalkan begitu saja. 

Kini Stasiun Sangkrah masih aktif melayani KA Batara Kresna relasi Purwosari–Wonogiri serta menjadi titik pemberhentian Kereta Wisata Sepur Kluthuk Jaladara, kereta uap wisata yang melintasi Jalan Slamet Riyadi dan menjadi salah satu ikon wisata Kota Solo.

Bangunan stasiun hingga kini masih mempertahankan nuansa arsitektur kolonial Belanda. 

Keaslian bentuk bangunannya menjadikan Stasiun Sangkrah sebagai salah satu bangunan heritage perkeretaapian di Solo yang tetap terjaga. 

Bahkan, banyak pecinta sejarah dan fotografi datang untuk mengabadikan suasana klasik yang masih terasa di stasiun ini.

Di samping stasiun juga terdapat Pasar Sangkrah, yang sejak dahulu dikenal sebagai kawasan perdagangan. 

Pada masa kolonial, kawasan ini menjadi pusat distribusi berbagai produk, termasuk minuman lokal dan Eropa. Kedekatan stasiun dengan pasar membuat aktivitas ekonomi di kawasan tersebut berkembang pesat pada masanya.

Meski tidak seramai stasiun besar lainnya di Solo, Stasiun Sangkrah tetap menjadi bagian penting dari sejarah perkeretaapian Kota Bengawan. 

Bangunan yang telah berdiri lebih dari satu abad ini menjadi pengingat bahwa perkembangan transportasi kereta api di Solo tidak hanya bertumpu pada stasiun-stasiun besar, tetapi juga pada stasiun kecil yang memiliki peran penting dalam menghubungkan masyarakat dan menggerakkan roda perekonomian.

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
stasiun solo kota stasiun Sangkrah wisata arsitektur kota solo