SOLOBALAPAN.COM - Bandar Kabanaran adalah salah satu bukti peninggalan kejayaan ekonomi Laweyan Solo pada masa dulu.
Bandar Kabanaran ini dulunya menjadi dermaga yang sangat berarti bagi masyarakat Laweyan Solo.
Bandar Kabanaran ini berada di Jalan Nitik, Kampung Kidul Pasar, RT 04/RW 01, Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Kota Solo.
Bandar Kabanaran ini tepat di situs Kali Jenes di sekitar situs tersebut terdapat Jembatan Ngingas yang melintas di atas Kali Jenes, anak Sungai Bengawan Solo.
Dikutip dari akun Pemerintahan Kota Solo, Kali Jenes atau Sungai Jenes (dulu Sungai Kabanaran) yang cukup lebar.
Sungai menjadi urat nadi sarana transportasi vital perahu-perahu dagang yang dibawa ke Laweyan.
Bahan-bahan pendukung pembuat kain batik, seperti benang, kapas dan sebagainya, pernah diangkut, diturunkan dan diperdagangkan di Bandar Kabanaran Laweyan.
Seperti layaknya banyak dermaga, pertumbuhan kampung atau daerah yang memiliki dermaga atau bandar, secara otomatis pertumbuhan ekonominya jauh lebih cepat dibanding daerah lain.
Bandar Kabanaran ini berkembang pada saat tokoh penyebar agama Islam di Laweyan, Kyai Ageng Henis, berkarya.
Kaitannya dengan religi, Bandar Kabanaran itu juga sempat menjadi salah satu bahan dakwah Kyai Ageng Henis tentang perdagangan.
Kendati demikian, Bandar Kabanaran yang berlokasi di Laweyan itu kini tidak bersisa bangunan sedikit pun.
Diceritakan juru kunci makam Kyai Ageng Henis, Hartini, Bandar Kabanaran ini sudah mulai tidak difungsikan karena perubahan pada daerah di sekitarnya.
Salah satu alasannya adalah karena tempat itu kini sudah dekat dengan pemukiman warga dan pengolahan limbah.
Selain itu, penggunaan transportasi air di Kota Solo juga menjadi alasan lainnya.
“Tumbuh kembang ekonomi itu cepat, sehingga mengikuti daerah sekitarnya," kata Hartini.
"Dan transportasi air sudah kalah canggih dengan darat yang sangat mudah."
"Dan juga adanya perang di jaman dulu yang mengakibatkan tidak tersisa bentuk bandar sedikitpun," jelasnya. (mg6/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro