Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Sejarah Batik di Solo, Punya Kaitan Erat dengan Kerajaan Mataram dan Perkembangan Islam di Jawa

Reinaldo Suryo Negoro • Jumat, 26 Januari 2024 | 03:04 WIB
Beberapa Perempuan Sedang Membatik (Dok KITLV/1901&1902)
Beberapa Perempuan Sedang Membatik (Dok KITLV/1901&1902)

SOLOBALAPAN.COM - Batik menjadi karya seni tradisional khas Indonesia, telah menjadi kebanggaan dan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan masyarakat Indonesia.

Dengan nilai seni tinggi dan beragam corak, batik menceritakan cerita yang berbeda di setiap daerahnya.

Ketika kita membicarakan batik, tidak bisa dilewatkan tanpa menyebut Kota Solo yang diakui sebagai penghasil kain batik terbesar di Indonesia.

Dilansir dari surakarta.go.id, Batik Solo tidak hanya terkenal karena ukirannya yang indah, tetapi juga karena dua kampung batiknya yang menjadi destinasi wisata menarik.

Kota Solo memiliki sejarah panjang dalam perkembangan batik, terkait erat dengan Kerajaan Majapahit dan penyebaran agama Islam di Jawa.

Sejarah batik di Solo merentang sejak masa Kerajaan Mataram Islam.

Ketika wilayah Mataram terbagi menjadi dua, yakni Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Kasultanan Yogyakarta, semua barang termasuk busana batik dibawa ke Yogyakarta.

Inilah yang menjadi awal mula berkembangnya batik Solo setelah Pakubuwono IV menciptakan busana baru yang dinamakan Gragak Surakarta.

Corak batik Surakarta mengalami evolusi setelah pembuatan Gragak Surakarta.

Identitasnya yang khas tergambar melalui warna putih kecoklatan atau krem, serta warna gelap seperti hitam dan coklat.

Motif geometris kecil yang mengikuti pakem batik Mataram menjadi ciri khas yang melekat pada batik Surakarta.

Berdasarkan informasi dari laman resmi Pemerintah kota Surakarta, Batik Surakarta terbagi menjadi dua, yakni motif yang berasal dari Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran.

Motif dari Kasunanan mencakup parang barong, parang curiga, dan lainnya.

Sementara motif dari Pura Mangkunegaran melibatkan buketan pakis, ole-ole, dan sejumlah motif indah lainnya.

Dua keraton tersebut menjadi katalisator bagi kemunculan Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman.

Peradaban batik di Kota Solo berkembang pesat, bahkan meluas ke berbagai daerah di Jawa seperti Pekalongan, Banyumas, Ponorogo, dan Tulung Agung.

Saat ini, motif batik tidak hanya tradisional, tetapi juga semakin variatif dan modern.

Toko-toko batik dan perajin batik bermunculan di Kota Surakarta dan sekitarnya.

Acara Solo Batik Carnival (SBC) menjadi tonggak penting dalam melestarikan kebudayaan batik di Kota Solo.

Sebuah upaya mempertahankan keberadaan dan kelestarian budaya batik yang begitu berharga bagi masyarakat Solo.

Dengan begitu, batik tetap menjadi bagian tak tergantikan dari warisan budaya Indonesia yang patut kita banggakan. (mg5/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#Kerajaan Mataram #sejarah #batik #islam #solo