Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Mengulik Sejarah Ndalem Purwodiningratan di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Nindia Aprilia • Rabu, 10 Januari 2024 | 22:20 WIB
Ndalem Purwodiningratan
Ndalem Purwodiningratan

SOLOBALAPAN.COM - Kawasan Ndalem Purwodiningratan merupakan salah satu dari Kawasan ndalem Pangeran atau tempat tinggal para Pangeran Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Tempat ini dibangun menggunakan kaidah-kaidah arsitektur tradisional Jawa seperti pada umumnya.

Dilansir dari laman Surakarta.go.id, bahwa Ndalem Puwodiningratan terdiri dari bangunan pendopo, Pringgitan dan Ndalem yang merupakan produk arsitektur murni, baik dari aspek tata ruang, tampilan bangunan, bahan bangunan, dan struktur bangunan.

Bangunan ini adalah unsur yang bisa memperkuat citra tradisional pada Kawasan sekitar ataupun kota.

Bangunan ini memperlihatkan arsitektur tradisioanl zaman kerajaan. Pada bangunan, di dalamnya terdapat ‘Gandhoik Kiwo, Gandhokk Tengah – Gandhok Tengen’, pada Gandhokm Tengah bisa disebut Krobongan.

Krobongan sendiri merupakan bagian kramat dari Ndalem Purwodiningratan yang berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewi Sri.

Akan tetapi, Ndalem ini ada keunikannya, yaitu adanya campuran arsitektur Eropa di bagian dalam hunian.

Dengan adanya corak Indies dan patung-patung Eropa yag menghiasi sudut-sudut bangunan serta sebuah taman bunga di halaman belakang, yang menjadikan ndalem Purwodiningratan sebagai bangunan rumah adat Jawa yang memperkuat citra pluralisme di Kawasan sekitar ataupun kota.

Sedangkan, jika dilansir dari lama p2k.stekom.ac.id, Pada zaman KRTH Poerwodiningrat, orang-orang yang datang ke lingkungan dalem berjalan kaki, bahkan berjalan jongkok di pendopo untuk menunjukkan penghormatan. Halaman pendopo ditutup pasir untuk tempat duduk para abdi dalem yang sowan, dan, ada juga tempat menyimpan payung untuk para tamu.

Purwodiningratan juga mempunyai urutan ruang seperti halnya bangunan tradisional Jawa dengan pavilion di sekililingnya. Paviliun kini ditinggal oleh keluarga purwodiningrat.

Dengan dasar (warah/petuah) filosofi dari Sunan Paku Buwono X bahwa “Budoyo Jowo iki ora bedo karo pusoko kadatone, lamun dipepetri bakal hamberkahi nanging lamun siniosio bakal tuwuh haladipun” yang berarti budaya Jawa itu sama dengan pusaka keraton jika dihormati akan memberi berkah, namun jika disia-sia akan memberi hukuman.

Maka dari itu, setiap malam jumat dalem pringgitan diberi sesajian denga persyaratan-persyaratan tertentu.

Dengan demikian, setiap pada tanggal 1 bulan Jawa dan setiap tahun pada bulan Sapar diperingati sebagai berdirinya bangunan tersebut.

Seperti bangunan kuno di Jawa, bangunan ini juga sering terjadi hal-hal aneh yang bersifat mistik terutama bila sesajian lupa disajikan di dalam pendopo. (mg8/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#Ndalem Purwodiningratan #sejarah #jawa #bangunan