SOLOBALAPAN.COM - Sebelum Shanghai memiliki kereta yang melaju dengan teknologi magnetic levitation atau maglev, Jerman sudah lebih dahulu mengembangkan teknologi kereta yang bergerak dengan memanfaatkan gaya magnet. Salah satu proyek paling terkenal dalam sejarah perkembangan maglev adalah Transrapid.
Transrapid bukan nama satu kereta tertentu, melainkan nama sistem transportasi maglev berkecepatan tinggi yang dikembangkan di Jerman. Teknologi ini dikembangkan oleh perusahaan Jerman melalui kerja sama sejumlah perusahaan industri dan lembaga penelitian sejak dekade 1960-an.
Tujuannya adalah menciptakan kereta berkecepatan tinggi yang tidak bergerak dengan roda seperti kereta konvensional.
Baca Juga: The Ghan, Kereta yang Membelah Pedalaman Australia
Pada kereta biasa, roda kendaraan bersentuhan langsung dengan rel. Kontak tersebut menciptakan gesekan yang harus diatasi agar kereta dapat melaju. Transrapid menggunakan prinsip berbeda.
Kendaraan diangkat dan diarahkan sepanjang jalur menggunakan gaya elektromagnetik, sehingga kereta dapat bergerak tanpa roda yang menyentuh permukaan jalur seperti pada kereta konvensional.
Teknologi tersebut memungkinkan Transrapid dirancang untuk kecepatan yang sangat tinggi. Salah satu prototipe pentingnya, Transrapid 06, menjalani pengujian di fasilitas percobaan Emsland, Jerman.
Pengembangan kemudian berlanjut hingga Transrapid 08, yang menjadi generasi teknologi yang nantinya berkaitan langsung dengan proyek maglev Shanghai.
Salah satu keunggulan utama sistem maglev adalah berkurangnya kontak mekanis antara kendaraan dan jalur. Tidak adanya roda yang bergesekan langsung dengan rel membuat sumber gesekan mekanis dapat dikurangi.
Baca Juga: Kereta Tanpa Solar dan Kabel Listrik, China Mulai Gunakan Hidrogen
Namun, bukan berarti sistem ini bebas hambatan. Pada kecepatan tinggi, hambatan udara tetap menjadi faktor yang sangat penting.
Karena itulah, bentuk kereta Transrapid dibuat aerodinamis. Semakin tinggi kecepatannya, semakin besar pula perhatian yang harus diberikan terhadap desain bodi dan jalur agar kereta dapat bergerak secara efisien.
Pengembangan Transrapid berlangsung selama puluhan tahun. Jerman bahkan membangun Emsland test facility, sebuah jalur uji khusus untuk mengembangkan dan menguji teknologi maglev. Fasilitas ini menjadi salah satu tempat penting dalam sejarah pengembangan Transrapid.
Baca Juga: Satu Dekade NCT 127, Menorehkan Jejak "Neo" di Industri K-Pop
Namun, perjalanan Transrapid tidak langsung berakhir dengan pembangunan jaringan maglev besar di Jerman.
Pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, muncul rencana untuk membangun jalur Transrapid di Jerman, termasuk proyek yang menghubungkan Berlin dan Hamburg. Proyek tersebut akhirnya dibatalkan karena persoalan biaya, kelayakan ekonomi, serta pertimbangan lainnya.
Sementara itu, teknologi Transrapid justru mendapatkan kesempatan untuk digunakan di negara lain.
China kemudian memilih teknologi Transrapid untuk membangun Shanghai Maglev. Jalur tersebut menghubungkan Longyang Road dengan Shanghai Pudong International Airport.
Shanghai Maglev mulai dibangun pada 2001 dan mulai beroperasi untuk penumpang pada awal 2000-an. Kereta yang digunakan merupakan pengembangan dari teknologi Transrapid Jerman.
Jalur Shanghai kemudian menjadi salah satu contoh paling terkenal dari penerapan maglev untuk layanan penumpang komersial.
Di sinilah hubungan antara Transrapid dan Shanghai Maglev menjadi menarik.
Kalau Shanghai Maglev adalah kereta maglev yang benar-benar beroperasi secara komersial, Transrapid merupakan salah satu teknologi yang menjadi dasar penting di balik sistem tersebut.
Dengan kata lain, teknologi yang dikembangkan dan diuji selama puluhan tahun di Jerman akhirnya mendapatkan tempat dalam jaringan transportasi China.
Shanghai Maglev kemudian menunjukkan kemampuan teknologi tersebut dalam penggunaan nyata. Kereta dapat mencapai kecepatan operasi hingga sekitar 430 km/jam pada periode tertentu, membuat perjalanan dari Longyang Road menuju Bandara Pudong hanya membutuhkan waktu beberapa menit.
Baca Juga: aespa Siap Comeback Jepang Lewat Mini Album KISS N TELL, Tawarkan Pesona Retro Future yang Segar
Meski begitu, perkembangan Transrapid di Jerman sendiri tidak berlanjut menjadi jaringan komersial berskala besar. Proyek tersebut menjadi salah satu contoh menarik dalam sejarah teknologi transportasi: sebuah teknologi dapat dikembangkan di satu negara, tetapi justru menemukan penggunaan komersialnya di negara lain.
Transrapid juga memperlihatkan bahwa perjalanan menuju kereta masa depan tidak selalu berjalan lurus. Teknologi yang terlihat sangat menjanjikan dapat menghadapi tantangan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan kebutuhan transportasi yang berbeda-beda.
Hari ini, ketika orang membicarakan kereta maglev, nama Shanghai Maglev mungkin lebih sering muncul. Namun, di balik kereta yang melaju di atas jalur magnet tersebut terdapat sejarah panjang penelitian dan pengembangan dari Jerman.
Dan salah satu nama terpenting dalam sejarah itu adalah Transrapid. (luthfiana sekar)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber