SOLOBALAPAN.COM - Ponsel berdering dari nomor yang tidak dikenal.
Ketika diangkat, suara di seberang terdengar tenang dan profesional.
Ia memperkenalkan diri sebagai petugas bank.
Tidak ada yang aneh pada awalnya. Sampai sebuah kalimat dilontarkan yaitu “Ada transaksi mencurigakan di rekening Anda.”
Dalam hitungan detik, percakapan berubah menjadi situasi darurat. Nasabah diminta segera melakukan sesuatu agar rekening tidak diblokir.
Bisa berupa memberikan informasi tertentu, mengikuti instruksi melalui ponsel, membuka tautan, atau memasukkan kode yang dikirim melalui SMS.
Baca Juga: Sering Lihat Ketikan Doksli Di Kolom Komentar Medsos, Ternyata Dokumen Asli
Semua terasa masuk akal karena pelaku tidak datang membawa ancaman. Ia datang membawa sesuatu yang jauh lebih efektif yaitu rasa takut.
Modus seperti ini memperlihatkan bahwa penipuan digital tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit.
Pelaku justru sering mengandalkan kelemahan yang sangat manusiawi panik, percaya pada otoritas, dan keinginan untuk segera menyelesaikan masalah.
Identitas sebagai petugas bank, customer service, kurir, bahkan aparat digunakan untuk menciptakan kesan bahwa panggilan tersebut resmi.
Di sinilah social engineering bekerja.
Pelaku tidak perlu langsung mengambil alih rekening.
Mereka cukup membuat korban mengambil keputusan sendiri keputusan yang dalam kondisi normal mungkin tidak akan pernah dilakukan.
Ketika seseorang diberi tahu bahwa rekeningnya sedang bermasalah, pikirannya cenderung berfokus pada satu hal yaitu bagaimana agar masalah itu segera selesai?
Ironisnya, semakin terdengar Profesional sebuah panggilan, semakin mudah seseorang menurunkan kewaspadaannya.
Penipu dapat menggunakan bahasa formal, menyebut nama korban, mengetahui sebagian Informasi pribadi, atau bahkan membuat nomor telepon terlihat meyakinkan.
Kementrian Komunikasi dan Digital sendiri telah beberapa kali mengingatkan masyarakat mengenai modus yang mengatasnamakan bank.
Dalam salah satu kasus, pelaku bahkan berpura-pura menjadi customer service bank dan memasang nomor kontak palsu.
Permintaan terhadap data rahasia menjadi salah satu tanda yang seharusnya membuat percakapan berhenti.
Nomor kartu, PIN, password, kode OTP, maupun informasi keamanan lainnya tidak seharusnya diberikan kepada pihak yang menghubungi secara tidak terduga.
Dalam klarifikasi kasus penipuan yang mengatasnamakan sejumlah bank, Komdigi juga menegaskan bahwa data perbankan dan OTP merupakan informasi sensitif yang tidak boleh diberikan melalui kanal yang tidak terverifikasi.
Namun persoalannya tidak sesederhana mengatakan, “Korban kurang hati-hati".
Pertanyaan yang lebih menarik justru yaitu mengapa seseorang yang sudah sering mendengar tentang penipuan online masih dapat terjebak?
Sebab Penipuan bukan hanya persoalan Literasi Teknologi. Ia juga merupakan persoalan psikologi.
Penipu memahami bahwa manusia tidak selalu mengambil keputusan dengan tenang, terutama ketika berhadapan dengan ancaman kehilangan uang.
Kalimat seperti “rekening akan diblokir”, “ada transaksi ilegal”, atau “harus segera dikonfirmasi” dirancang untuk mempersempit ruang berpikir korban.
Baca Juga: Sering Lelah Saat Bangun Pagi? Coba 5 Langkah Sederhana Ini untuk Memperbaiki Kualitas Tidur
Dengan kata lain, yang diserang bukan hanya rekening, tetapi kemampuan seseorang untuk berpikir jernih.
Fenomena ini menjadi semakin relevan ketika aktivitas masyarakat semakin bergantung pada nomor telepon dan layanan digital.
Pada 2026, pemerintah bahkan memperkuat registrasi nomor seluler melalui verifikasi biometrik sebagai salah satu upaya menekan penipuan, spam call, phishing, dan penyalahgunaan nomor dengan identitas palsu.
Komdigi menyebut hingga April 2026, laporan melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) dan Satgas PASTI mencatat total dana korban kejahatan siber mencapai Rp9,5 triliun.
Tetapi teknologi keamanan saja tidak akan cukup jika manusia masih mudah diarahkan oleh suara di ujung telepon. Karena itu, pertahanan pertama sebenarnya sederhana: berhenti sejenak.
Jangan mengambil keputusan karena didesak.
Jika seseorang mengaku dari bank, tutup telepon dan hubungi bank melalui kanal resmi yang kita cari sendiri.
Jangan menggunakan nomor yang diberikan oleh penelepon. Jangan memberikan OTP, PIN, password, atau data keamanan lainnya.
Sebab dalam banyak kasus, penipu tidak membutuhkan waktu berjam-jam untuk meyakinkan korbannya. Mereka hanya membutuhkan beberapa menit ketika korban sedang panik.
Baca Juga: Berburu Kuliner Walang Goreng di Car Free Night Gemolong, Ada Tiga Varian Rasa
Pada akhirnya, kita mungkin tidak bisa mencegah semua telepon penipuan masuk ke ponsel.
Tetapi kita masih bisa menentukan apa yang terjadi setelah telepon itu diangkat.
Tidak semua suara yang terdengar profesional adalah suara yang bisa dipercaya. Dan tidak semua keadaan darurat yang disampaikan melalui telepon benar-benar merupakan keadaan darurat.
Barangkali, di tengah semakin canggihnya teknologi penipuan, kebiasaan paling sederhana justru menjadi perlindungan yang paling penting yaitu jangan terburu-buru percaya. (siti putri lestari)
Editor : Ferry Ardi Susanto